
"Tidak semudah itu, Bu. Aku tidak ingin kembali lagi ke masa dulu. Masa dimana Ayah dan Ibu juga ikut dihujat karena kesalahanku."
"Lalu bagaimana dengan nasib Dafi ke depannya. Dia butuh nama seorang Ayah."
Deya memejamkan matanya, menunduk. Sedih, tanpa terasa air matanya menetes.
"Suatu hari dia tanya siapa ayahnya, dia juga akan ditanya oleh orang-orang siapa ayahnya, lalu ada orang jahat bilang jika dia anak dari sebuah hubungan gelap. Apa kau siap dengan semua itu? Ada saatnya kita harus berjuang demi hak dan kebahagiaan kita."
"Ayahmu benar agar selalu mengalah dan tidak mencari masalah. Namun, kau harus ingat perkataan Ibu juga."
"Biji yang akan ditanam itu didorong masuk ke dalam tanah. Jika dorongan itu terlalu dalam masuk ke dalam tanah, bukannya tumbuh, biji itu malah akan busuk. Namun, jika tekanan itu pas pada tempatnya. Dia hanya butuh waktu untuk membuatmu akar dan muncul naik ke atas. Semakin tinggi pohon maka akan semakin kuat akar yang ada di dalam tanah."
"Bila biji itu tidak dimasukkan ke dalam tanah, hanya di permukaan tanah saja, maka akar yang tumbuh itu tidak sekuat biji yang akarnya tumbuh di dalam tanah."
"Kau faham maksud ibu?"
Deya menggelengkan kepala.
"Kita butuh tekanan untuk bisa tumbuh semakin kuat. Namun jika tekanan itu terlalu dalam maka kesempatan biji itu tumbuh dan menjadi besar itu sangat kecil. Artinya jika kau terus masuk ke dalam tekanan itu dan larut dalam kesedihan kau hanya akan memperburuk dirimu dan orang di sekitarmu. Jika kau mau bangkit maka kau harus berani tumbuh dan muncul naik ke atas melawan semua hal yang menghalangimu. Tunas biji untuk bisa naik ke atas harus melewati bongkahan tanah dulu."
"Kau harus menentukan tujuan hidupmu ke depan demi kebahagiaanmu. Jika kau bahagia maka Dafi akan ikut bahagia. Jika kau cinta pada Edward dan dia masih mencintaimu kembalilah padanya. Jika rasa itu sudah punya maka bukanlah hatimu untuk Angga. Biarkan dia menjadi Ayah bagi Dafi. Ibu lihat Nak Angga dan keluarganya juga menerima kehadiran Dafi."
"Aku tidak tahu harus apa, Bu? Semuanya terlalu rumit."
"Pikirkan baik-baik jangan pakai emosi."
Deya mengangguk.
"Tadi Zahra datang kemari."
Netra Deya membelalak. "Zahra?"
Ibu Ratmi mengangguk. "Dia seperti senang melihat Dafi walau Ibu tidak tahu bagaimana hatinya. Dia menangis memeluk Dafi sebelum pulang kembali ke rumahnya."
Deya seperti tidak percaya dengan apa yang Ibu Ratmi katakan.
__ADS_1
"Mas Edward berarti sudan tahu jika aku punya Dafi."
"Semakin cepat semakin baik."
"Lho kok?"
"Untuk apa kita menunda masalah yang akan segera kita hadapi. Makanya kau tentukan sikap mana yang akan kau tempuh." Ibu Ratmi terdiam sejenak. "Ibu tadi mengatakan pada Zahra agar merahasiakan keberadaannya Dafi."
Kali ini tinggal Deya yang tertegun.
"Ibu hanya menguji Zahra. Jika dia sayang Dafi maka dia akan memberitahu ayahnya jika tidak dia akan diam karena menganggap Dafi adalah saingannya."
Deya terkejut dengan cara berpikir ibunya. Ibu Ratmi mengusap kepala anaknya.
"Ibu diam bukan berarti Ibu tidak punya hati untuk merasa marah dan kecewa. Kau berhak bahagia, Deya."
***
Malam harinya seperti biasa Deya menceritakan sebuah dongeng pada Dafi sebelum tidur. Berbeda dengan dongeng anak perempuan, Dafi lebih suka dongeng kerajaan tapi dengan tokoh hebat dan kuat, seperti robin Hood, hercules, atau raja laut. Kali ini Deya bercerita tentang Putri yang ditolong pangeran dari penculik.
"Sang Putri dan Pangeran akhirnya menikah dan punya seorang putra."
"Seorang putra, Bu? Berarti anak laki-laki dong?" tanya Dafi bangkit untuk duduk.
"Hmm, kau benar."
"Kalau begitu aku anak dari putri dan Pangeran juga?"
Deya tersenyum masam, dia lantas memeluk Dafi. "Kau anak Ibu."
"Kan ada pangeran dan putri kalau putri cewek kayak Ibu. Kalau pangeran itu cowok kan Bu?"
Deya mulai kebingungan. Selama ini Dafi mengira ayahnya adalah Ayah Deya tapi semakin bertambah umurnya dia semakin ingin tahu siapa sosok Ayah sebenarnya. Suatu hari mencari sosok ayah kandungnya.
"Putrinya itu Ibu, pangerannya itu siapa?" desak Dafi.
__ADS_1
"Ini sudah malam tidur saja yuk. Ibu sudah mengantuk."
Dafi ingin menolak tapi dia melihat ini ibunya memejamkan mata. Dia berbaring terdiam tidak lama kemudian dia sudah ikut tidur.
Setelah mendengar suara nafas Dafi yang teratur Deya bangkit. Dia lantas pergi ke arah jendela. Membuka tirai dan melihat ada mobil yang terparkir di seberang jalan. Mungkin itu mobil pemilik depan rumah, pikir Deya. Banyak yang punya mobil tetapi tidak punya lahan untuk tempat mobilnya. Di biarkan parkir di pinggir jalan depan rumah.
Deya terdiam, menatap ke arah langit. Apakah Edward juga sedang melihat langit yang sama dengannya? Deya memeluk dirinya sendiri.
Sedangkan dari dalam mobil yang terparkir Edward menatap Deya yang berdiri di depan jendela. Hatinya merasa damai sekaligus sakit. Ingin rasanya dia mendekat dan memeluk istrinya itu tetapi tidak punya keberanian sebelum membuktikan cintanya pada istrinya. Dia tidak ingin cintanya dipertanyakan lagi.
"Deya apakah kau rindu padaku sama seperti aku merindukanmu?" batin Edward tersayat sembilu.
Mereka dekat tapi terasa jauh. Setelah lelah berdiri Deya menutup kembali tirai jendela. Lantas duduk di meja kerjanya melihat hasil penjualan hari ini. Toko onlinenya kini sudah dipegang oleh orang kepercayaannya. Dia sekarang fokus dengan stand miliknya di PRJ targetnya menggaet investor besar untuk usahanya.
Deya mendengar suara mesin mobil dihidupkan dan pergi dari depan rumahnya. Sejenak dia berpikir apakah itu orang Edward atau Edward sendiri. Namun, dia tersenyum dan menggelengkan kepala. Jika itu suaminya pasti langsung masuk ke rumah. Jika Edward tahu ada Dafi pasti langsung datang dan menemui anaknya. Namun, tidak terjadi kemungkinan besar Zahra tidak mengatakan apapun pada Edward dan pria itu tidak peduli lagi padanya.
Edward sendiri pergi pulang ke rumahnya malam ini setelah tirai jendela Deya tertutup lagi. Dengan langkah malas dia masuk. Suara derap langkah kakinya menggema ke seluruh sudut rumah.
"Akhirnya kau pulang juga," ujar Soraya sambil melihat kukunya.
Edward berjalan saja lurus ke depan tidak memperdulikan ucapan Soraya.
"Kau tidak mengatakan apapun setelah melayangkan surat gugatan cerai padaku?"
"Apa yang harus kukatakan? Apakah aku harus memohon padamu atau meminta maaf? Aku rasa semua itu tidak perlu kulakukan."
"Ed!" teriak Soraya.
"Aku akan memberikan sebagian hartaku padamu jika kau khawatir akan jatuh miskin."
"Tanpa kau beri aku sudah punya uang sendiri."
"Aku tahu kau kaya, hanya saja hitung-hitung ini untuk hadiah kebebasanku untukmu. Kau berhak mendapatkan uang itu, Aya. "
"Ed, aku tidak ingin berpisah."
__ADS_1
"Untuk apa kita bersama jika hanya bisa saling menyakiti saja."
"Ed, aku mencintaimu. Kita sudah menikah lama apakah itu tidak bisa membuatmu terus bersama denganku? Mempertahankan pernikahan kita?"