Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 51 Rasa Cinta


__ADS_3

"Kau jangan menyela. Keputusan ini sudah kupikirkan lama."


"Aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku lapar, kita makan yuk," ajak Deya menahan diri dari berbagai pertanyaan yang menggerogoti pikirannya selama ini.


Dia tidak ingin masakannya terbuang sia-sia karena sebuah pertengkaran kecil. Mereka lalu berjalan ke bawah. Tangan Edward memegang pinggangnya dengan posesif seolah enggan untuk berjauhan walau hanya sebentar.


Mereka lalu duduk di meja makan kecil itu. Edward melihat ada dua piring yang sudah siap di sana. Dia melihat ke arah Deya.


"Entah mengapa aku merasa yakin kau akan kemari dan makan bersamaku," ujar Deya mengerti arti tatapan Edward.


"Karena hati kita sudah jadi satu." Edward menyingkirkan satu piring. "Kita makan bersama ya?" pinta pria itu.


Deya tersenyum tersipu. Mulai menuangkan nasi dan lauk.


"Maaf hanya ini, gurame bakarnya ada di rumahmu."


"Ini juga rumahku. Ikan asin ini lebih enak dibandingkan dengan gurame itu."


"Bohong," kata Deya.


"Memang karena ini yang masak kamu."


"Biasanya juga masak tapi kamu tidak pernah mengatakan apapun."


"Piring makanku selalu bersih tidak bersisa apakah itu tidak cukup untuk menjelaskan bahwa aku menyukai apapun yang kau masak."


Mata Deya berkilat karena bahagia. Edward memberikan suapan nya pada Deya. Wanita itu langsung menerimanya. Kini lebih banyak Deya yang makan makanan itu.


"Kau curang, kau yang lebih banyak makan. Perutku sampai membesar seperti ini."


"Ini masih kecil kalau hamil lebih besar lagi." Edward mengusap perut wanita itu. Deya tertegun.


"Hamil? Itu kalau semua sudah beres, terutama kuliahku." Deya bangkit membersihkan bekas makanan mereka. Edward ikut membantu menyabuni piring dan gelas yang telah mereka gunakan.


"Bolehkah, aku tidur di sini malam ini?" tanya Deya bersandar pada meja dapur.


"Ya."


Deya seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi ditariknya lagi. Dia menuju ke lemari pendingin mengambil sekotak minuman jus mangga.

__ADS_1


"Akh, segarnya," ucap Deya. "Kau mau?" Deya menyerahkan jus itu pada Edward.


"Tidak, aku ingin minum susu hangat saja."


"Ckkk!"


Edward tersenyum nakal. Deya membalikkan tubuh hendak pergi tapi tangan Edward menarik pinggangnya dan memutar tubuh mungil itu.


Tangan Edward yang masih basah dan dingin menyentuh bibir Deya lalu mengusap sudut bibir Deya yang ada bercak bekas jus mangga. Menyesapnya. Deya terpana. Pria itu sedang terlihat seribu kali lebih tampan dari biasanya.


Edward mulai mengikis jarak mereka. "Aku terus membayangkan kita bercinta di atas sofa itu. Setiap saat," bisiknya di bibir Deya.


"Rindu dengan teriakan kerasmu, rintihanmu ketika menyebut namaku, deru nafasmu yang cepat tatkala kesadaranmu mulai hilang dan melayang bersamamu."


Edward ******* ringan bibir Deya lalu melepaskannya. "Kau bertambah cantik dan dewasa dari pertama kali kulihat dirimu dan bentuk tubuhmu semakin padat berisi, hasil karyaku setiap malam."


Bibir pria itu mulai mencium Deya dengan liat dan Deya menimpali nya tidak kalah sengit.


Edward mengangkat Deya sehingga kaki wanita itu melingkar di pinggangnya. Melepaskan tautan bibir mereka.


"Kau semakin pintar saja," ujar Edward melangkahkan kaki ke kursi sofa tang ada di sudut lain dalam ruangan panjang itu. Dia lalu membaringkan Deya di atas sofa dengan lembut.


Belum sempat Edward menjawab Deya bangkit dengan satu tangan menyangga tubuhnya satu tangan yang lain menyentuh bibir pria itu.


"Aku harap kau mengatakan tidak sehingga malam ini kita bebas berdua."


"Dengan syarat kau harus membuatku lelah dan tertidur dalam pelukanmu," ucap Edward menarik gaun tidur Deya yang hanya satu jengkal dari panggulnya. Deya yang memang tidak memakai penutup dada, langsung memperlihatkan tubuhnya yang indah dan berisi serta berukuran lebih dari gadis biasanya tanpa operasi buatan.


Mata Edward berkilat, menyajikan senyum nakal. Meneguk air ludah. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri.


Deya mendorong tubuh Edward bersandar pada sofa dia, mulai menghadap duduk diatas pangkuannya. Melepaskan kancing pria itu satu persatu. Dia memang sudah merindukan saat ini sedari tadi, satu pikiran dengan pria itu.


"Jika di sini, kau selalu senang memimpin," kata Edward memainkan pucuk berwarna kemerahan milik Deya.


"Kau senang kan?" ujar Deya berbisik di telinga Edward lalu bergerak menciumnya membuat pria itu mengerang.


"Gadis nakal ku buat aku bangga memilikimu," ucap serak Edward.


Setelah lelah bergumul dan berbagi rasa keintiman yang dalam. Deya berbaring diatas dada Edward, menggambar abstrak pada dada pria itu yang berbulu tipis. Menyusuri setiap lekuk pria itu yang kini berada terasa di jarinya.

__ADS_1


"Kenapa kau ingin menikahiku dengan sah?" tanya Deya.


"Karena aku ingin memilikimu sepenuhnya."


"Aku sangat bahagia mendengarnya tapi ini bukan waktu yang tepat."


Edward bergerak untuk bersandar pada sandaran tempat tidur. "Kau tidak senang?"


"Aku tidak ingin melihat senyum di wajah Zahra menghilang lagi, belum siap menerima kemarahannya. Tidak tega melihat kekecewaan di matanya."


"De, apa kau ingin kita hanya bermain-main saja seperti ini."


"Tidak hanya saja ini bukan waktu yang tepat lagi pula sebentar lagi aku akan menulis skripsi, butuh konsentrasi lebih. Aku tidak ingin di saat itu terjadi masalah pelik yang akan membuat tulisanku hancur dan masa depan yang sudah aku rancang musnah sudah."


"De, cepat atau lambat semua orang akan tahu hubungan kita."


"Aku tahu tetapi setidaknya aku masih bisa mengulur waktu, bisa berpikir sebentar untuk mengerjakan skripsi."


"De, apa kau tidak akan menyesal menolak ini?"


"Tidak, aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Zahra sekarang setidaknya biarkan dia bisa berdiri bebas dengan dua kakinya dan beraktivitas normal kembali. Jangan rusak hatinya yang mulai bersemi."


"Lalu bagaimana dengan hatiku dan hatimu?" tanya Edward.


"Hatimu ada di sini," Deya meletakkan tangan Edward di dadanya. "Dan hatiku ada di sini." Dia menunjuk ke dada Edward. "Selama kau tidak melepaskannya maka aku akan selalu di sana."


Edward tersenyum mengecup bibir Deya gemas.


"Kau tahu, De, aku ingin seorang putra darimu, seorang putra dari perutmu yang datar ini," usap Edward pada perut Deya.


Pernyataan Edward membuat desir aneh di dada Deya. Dia juga menginginkannya tetapi akalnya menolak.


"Beri aku waktu aku satu tahu lagi," pinta Deya.


"Baiklah, aku akan memberimu waktu satu tahun lagi setelah itu, kau tidak punya alasan untuk menunda kehamilanmu lagi.''


Deya mengangguk, lalu meletakkan kembali kepalanya di dada Edward.


" De, aku rasa, aku benar-benar mencintaimu," kata Edward membuat Deya terkejut, menatap nya tidak percaya.

__ADS_1


"Katakan lagi, aku ingin mendengar suamiku mengatakan cinta padaku untuk pertama kalinya."


__ADS_2