Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 81 Pilihan Berat


__ADS_3

Sudah dua hari ini Deya berada di rumah yang keluarganya tempati. Rumah yang sengaja Edward sewa untuk keluarganya. Terletak di pojokan perumahan yang kebanyakan warganya tidak berbaur dengan warga lainnya.


Deya duduk melamun di depan rumah. Melihat ke arah pintu gerbang. Memikirkan semua yang telah terjadi.


"Nak," panggil Pak Seto membelai rambut Deya.


"Bagaimana kabar suamimu?" tanya Pak Seto.


"Dia sedang tidak bisa dihubungi. Zahra mengalami trauma dan Mbak Soraya masih tidak stabil jiwanya." Deya memalingkan wajah melihat ke arah lain. Air matanya mulai menetes.


"Ada apa katakan pada Ayah. Ayah sudah tahu hanya saja ingin mendengarkan semua cerita itu darimu."


"Mbak Aya selalu melakukan kebohongan publik dengan statusnya yang menggiring opini masyarakat untuk membenci dan menghinaku. Aku coba mengerti kemarahan serta lukanya tetapi ketika hal itu membuatku dikeluarkan dari Universitas, aku merasa ini tidak adil. Jadi aku berniat menemuinya."

__ADS_1


"Sebelum menemuinya, aku berbicara dengan Zahra. Dia seperti bukan Zahra yang kukenal. Anak itu nampak marah padaku serta membenciku. Entah mengapa hal itu tambah memancing emosiku."


"Jika mau bertarung, bertarung lah dengan adil jangan memakai anak kecil dengan mempermainkan hatinya. Aku menemui Mbak Aya, lalu dia malah bersandiwara di depan Zahra seolah aku yang telah menghancurkan rumah tangganya dan membuat Edward tidak mau menemui anaknya."


"Ingin rasanya ku maki dia, tetapi melihat Zahra rasanya kelu lidahku. Aku tidak bisa menambah luka yang ada padanya dengan membuka semua sifat busuk ibunya dan keburukan ibunya."


"Mas Ed yang khawatir aku ke rumah pribadinya langsung datang setelah kepergianku. Aku tidak tahu apa yang terjadi tetapi aku yakin jika ini hanya permainan Mbak Soraya agar bisa menjerat Mas Edward kembali padanya."


"Bukankah kau bersedia menjadi yang kedua dalam pernikahan itu? Kenapa sekarang kau seakan tidak rela membagi Nak Edward."


"Lalu kau ingin apa?"


"Aku tidak tahu Ayah. Aku ingin mempertahankan pernikahanku dengan Mas Edward tetapi menghadapi semua tekanan ini membuat emosiku tidak beraturan. Aku merasa tersudutkan. Di tambah dengan keadaan kalian yang ikut terseret dalam masalah ini. Itu membuatku jatuh." Deya menunduk. Mengatur nafasnya.

__ADS_1


Pak Seto memeluk putri sulungnya dan mengusap punggung Deya dengan lembut.


"Jika kau merasa sudah tidak sanggup lagi lepaskanlah dari pada akan menghancurkan dirimu, Nak Edward juga keluarganya. Ini adalah pilihan hidupmu dan kau juga yang mencari jalan keluar terbaik dari permasalahan ini."


"Ayah benar. Aku seperti tidak sanggup lagi menjalani semua ini, tetapi berpisah dengan Mas Edward itu terasa berat. Aku sudah terbiasa dengannya maka akan sangat sulit jika jauh darinya."


"Namun, bersamanya juga akan menyakiti dirimu sendiri. Kau pikirkan matang-matang apa yang kau pilih serta minta petunjuk pada Tuhan agar memberikan jalan terbaik untukmu, untuk keluarga Nak Edward dan untuk kita semua."


Deya mengangguk.


"Terkadang apa yang kita pikirkan benar tidak selamanya benar di mata Alloh. Apa yang kita pikirkan salah mungkin itu jalan terbaik dari Tuhan yang harus kita jalani. Jadi, tenangkan dirimu dan beribadah lah dengan baik. Insya Alloh, akan dibukakan jalan terbaik."


"Menurut Ayah apa yang harus kita lakukan."

__ADS_1


"Pergi jauh dari semua masalah ini. Kau tidak cocok bersama dengan Nak Edward. Bukan karena dia tidak baik, malah dia pria sangat baik untukmu tetapi latar belakangmu dengannya berbeda. Kau harus bisa menyeimbangkan diri agar bisa bersanding dengannya. Itu bukan hal mudah. Sesuatu yang besar harus mengorbankan sesuatu yang besar juga. Sedangkan kau bukan manusia yang tertutup dengan penderitaan orang lain. Kau selalu berpikir tentang kebahagiaan orang lain dan itu akan membuat langkahmu terhenti."


"Jika kau mau bersama Nak Edward kau harus menutup mata pada penderitaan Zahra dan Soraya. Kau harus kejam pada mereka, baru kau bisa memiliki Nak Edward seutuhnya. Tetapi, jika kau mau masih merasa bersalah maka sebaiknya kau lepaskan Nak Edward karena kau tidak akan pernah bahagia jika Soraya dan Zahra masih bersama Edward."


__ADS_2