
Dengan tangan gemetar Deya memegang dua alat testpack. Ada dua garis merah di sana. Harusnya dia bahagia dan harusnya Edward juga bahagia jika mendengar berita ini, tetapi setelah semua yang terjadi. Dia tidak akan bisa jujur pada Edward.
"Anakku tidak harus merasakan penderitaanku. Dia bisa hidup bebas di luaran sana tanpa ada seorang pun yang tahu jika dia anak dari seorang simpanan." Deya menutup mulutnya agar suara tangis tidak keluar dari bibir. Orang tuanya tidak boleh tahu tentang hal ini sampai mereka pergi jauh.
"De, lama sekali kau di dalam sana," panggil Ibu Ratmi dari luar kamar mandi.
"Deya sedang susah buang air Bu makanya lama. Memang ada apa?" jawab Deya.
"Tidak ada apa-apa, Nak Edward ada di luar menunggumu."
"Mas datang?" teriak Deya. Dia bingung harus menyembunyikan alat test kehamilan itu dimana? Dia lantas memasukkan kembali ke tas plastik mengikat lalu membuang ke tempat sampah. Semoga Ibu atau Ayah tidak menemukannya, batin Deya.
Deya keluar dari kamar mandi dengan segera. Dia lantas berjalan cepat ke ruang tamu dan melihat suaminya sedang duduk bercakap dengan ayahnya. Mereka nampak santai dengan kopi panas di tangan.
"Mas, kok sudah datang, bagaimana keadaan Zahra?" Deya mengambil tangan Edward dan mengecupnya.
"Zahra baik-baik saja dan mentalnya sudah mulai stabil. Bisa diajak berbicara."
"Oh, syukurlah."
"Mama tadi datang dan meminta ku pulang untuk beristirahat malam ini. Jadi aku langsung kemari untuk menjemputmu pulang."
"Mama?" gumam Deya. Baru tadi malam dia berbicara dengan Ibu Edward, untuk meminta waktu agar bisa menemui Edward sebelum berpisah tapi mertuanya malah langsung melakukannya. Timbul pikiran negatif dari diri Deya. Apakah Mama Claudia ingin segera dia pergi dari kehidupan Edward? Rasa nyeri menyerang dadanya. Deya tersenyum kecut.
"Kenapa kau tidak terlihat senang."
"Tidak apa-apa hanya saja aku sedikit terkejut tidak mengira kau akan menemuiku secepat mungkin. Aku pikir Mas akan menemani Zahra sampai pulih."
"Aku tidak bisa lama-lama berpisah denganmu," ujar Edward.
'Padahal ini waktu terakhir kita Mas.'
"Deya lekas bersiap," ucap Pak Seto.
Deya langsung pergi ke kamar. Di tengah jalan dia melihat mata ibunya berkaca menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Bu, aku bisa melakukannya. Aku sudah pesan satu mobil untuk menjemput kalian besok pagi. Kita harus pergi secepatnya sebelum pikiranku berubah."
"De," panggil ibunya tercekat.
Deya tersenyum kecut lantas masuk ke dalam kamar. Dia menghela nafasnya panjang. Mengambil kosmetik, handphone, dan juga sertifikat rumah, memasukkannya dalam tas lantas keluar dari kamar.
"Ayo Mas," kata Deya dengan suara riang dan senyum mengembang sempurna.
"Ayah, Ibu kami permisi dulu, terimakasih telah menjaga Deya," kata Edward.
"Dia anak kami, sampai kapan pun kami akan menjaganya hingga menutup mata. Pokoknya kau jangan khawatir jika dia bersama kami."
Sejenak Edward mengernyitkan dahi, tetapi tersenyum lebar. "Ya, orang tua selalu mengurus anaknya sampai kapan pun."
"Ayah aku ke rumah Mas dulu," ucap Deya memeluk Ayahnya. Sebenarnya Pak Seto merasa sangat terpukul dengan kejadian ini namun dia hanya bisa diam melihat sandiwara yang dilakukan Deya dengan berpura-pura terlihat bahagia di depan suaminya. Padahal Deya terlihat hancur sedari semalam, dia terus menangis. Istri mana yang akan rela meninggalkan suaminya dan pergi dari jauh dari suami yang dia cintai. Kini, anak itu malah tersenyum lebar seperti tidak ada apa-apa.
"Layani suamimu dengan baik, Nak. Jangan kau kecewakan dia kali ini."
Deya mengangguk.
"Ayah, Ibu dah.... Ingat ya besok jangan lupa," teriak Deya.
Ibu Ratmi langsung memeluk suaminya ketika mobil sudah tidak terlihat lagi. Memuntahkan semua rasa sesak yang sedari tadi menghimpit da**nya.
"Kenapa harus seperti ini, Yah? Kenapa? Deya harus mengalami ini. Aku tidak tahan lagi dengan semua yang terjadi. Ingin rasanya aku marah, tapi pada siapa? Tidak ada yang salah dan benar. Namun dalam hatiku, aku tidak terima putriku menjalani pernikahan seperti ini."
"Kita hanya bisa bersabar Bu dan menyerahkan semua pada yang di atas. Kita hanya bisa menjalaninya saja dan berikan semua dukungan kita padanya. Agar dia tidak merasa sendiri."
***
Sepanjang jalan Deya yang biasanya tersenyum malah kebanyakan diam. Dia merasa sesak, menahan kesedihan yang menghimpit dada.
Edward menoleh dan menggenggam tangan Deya dan meremas nya.
"Kau kenapa?" tanya Edward.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Deya menyeka setetes buliran bening di sudut matanya.
"Katakan, jangan kau pendam." Deya lantas memeluk lengan Edward dan bersandar di bahunya.
"Apakah Mas akan rindu padaku jika kita berpisah lama?"
"Apa maksudmu? Aku tidak suka dengan pikiranmu ini. Apa kau ingin berpisah dariku? Jangan pernah mencobanya Deya."
Deya terkejut dengan reaksi Edward yang spontan. Dia lantas mengangkat wajah dan tersenyum. Mengusap rahang suaminya lalu bergelayut manja.
"Maksudku kau kan sedang mengurus Zahra serta Mba Aya, waktu untukku pasti berkurang, apakah kau akan merindukan aku jika tidak melihatku berhari-hari, seperti sekarang tapi lebih lama lagi."
"Hentikan pembicaraan ini aku tidak suka." Edward memalingkan wajahnya. Membuang nafas keras. Dia ingin menemui Deya untuk menghilangkan semua kepenatan, melupakan sejenak perasaan bersalah pada anaknya dan juga sedikit bercerita untuk mengeluarkan sedikit beban di hati
"Ya, sudah." Deya kembali bergelayut manja dengan Edward.
"Baru dua hari saja tidak berasa itu terasa menyiksa untukku," kata Edward kemudian.
"Aku juga sangat merindukanmu jika kau tidak ada. Jika tidur aku selalu ingin mencium aroma tubuhmu, hal itu bisa membuatku tenang dan tertidur lelap. Jika makan aku teringat kau sudah makan atau belum. Kau sering kali melewatkan makan siangmu hanya karena tidak berselera jika tidak ada aku. Padahal kau harus makan agar bisa bekerja dengan baik dan mencari uang yang banyak untuk ku dan anak kita nantinya." Deya mengatakannya sambil mencebikkan bibir.
Edward tertawa. Mengacak rambut Deya. Istrinya ini memang pandai menaikkan mood.
"Tentu saja aku harus rajin bekerja agar bisa membahagiakan anak dan istriku. Jika kau senang dan bahagia maka aku juga ikut bahagia."
"Zahra juga harus bahagia karena dia adalah prioritas mu." Edward menatap Deya, merasa ada yang aneh dari perkataan Deya sedari tadi.
"Bukankah kau pernah mengatakan jika Zahra adalah prioritas hidupmu, tentu kau harus memastikan kebahagiaannya terlebih dahulu."
"Pikiran orang setiap saat berubah Deya. Kau dan Zahra sama-sama penting bagiku."
"Namun, saat ini dia yang lebih membutuhkanmu jadi kau harus bisa membuatnya bahagia. Aku sendiri bisa mencari kebahagiaan ku karena aku punya cintamu yang akan berkembang di diriku serta punya keluarga yang akan mendukungku setiap saat.''
Sejenak Edward terdiam mencerna perkataan Deya namun dia tersenyum. "Kau benar cintaku akan selalu ada untukmu."
Edward merengkuh bahu Deya dengan satu tangan dan memeluknya erat. Menc**m pucuk kepala Deya.
__ADS_1
Sebenarnya, dia ingin mendengar Deya mengatakan cinta padanya, namun tidak ingin memaksa, biarkan itu terjadi dengan keinginan Deya sendiri.