
"Hallo Ma, Pa," sapa Edward yang menerima kedatangan orang tuanya. Dia memeluk keduanya.
"Tumben kok lama sekali mama ditahan di luar? Apa ada yang kalian sembunyikan?" tanya Mama Claudia pada Edward. Edward tertawa canggung dan kaku.
"Tidak mungkin E mau menyembunyikan sesuatu dari kalian." Edward menatap ke arah Satria sambil menarik nafas gugup.
"Iya, Tante mana mungkin, Pak Edward berani menyembunyikan sesuatu dari kalian."
Claudia menyipitkan mata curiga. "Mama ini ada apa sih masa tidak percaya anak sendiri."
"Hanya mencium sesuatu yang aneh. Kau bau parfum wanita," kata Claudia.
"Masa sih, Mah? Mungkin bau parfum punya Zahra," ujar Edward.
"Zahra?"
"Aku kira hanya papah sendiri yang datang kemari untuk membahas tentang proyek terbaru, ternyata tidak. Mamah juga ikut."
"Kenapa tidak boleh?"
"Tentu saja boleh," jawab Edward memeluk punggung ibunya. Satria menahan tawanya melihat atasannya takut ketahuan orang tuanya karena mempunyai wanita lain.
"Kami itu kemari untuk membicarakan tentang hubunganmu dengan Soraya. Apakah kalian ada masalah hingga kata orang rumah, istrimu belum kembali?"
"Hanya salah paham saja," jawab Edward berusaha menutupi masalah yang ada.
"Dari mana Ibu tahu masalah ini?" balik Edward.
"Zahra cerita jika kalian bertengkar. Dia nampak tertekan dari terakhir kali mama bertemu dengannya."
Edward mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Ini yang dia tidak inginkan. Keadaan psikologis Zahra yang memburuk. Dia takut Zahra akan mengurung diri di kamar seperti dulu pasca kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh.
"Dia nampak biasa saja jika bersamaku," jawab Edward lirih.
"Dia hanya tidak ingin melihatmu sedih," sela Papa Adam. Mama Claudia mengangguk.
"Nanti aku akan berbicara dengan Soraya. Saat ini, dia butuh waktu untuk sendiri."
"Soraya memang bukan istri sempurna namun dia telah banyak berkorban. Dia rela mengorbankan popularitasnya sebagai artis demi kalian lagipula orang tuanya adalah relasi bisnis kita," kata Mama Claudia.
"Jika kalian bercerai bukan hanya rumah tanggamu yang dipertaruhkan tetapi juga hubungan bisnis kita dengan keluarga Tjahyono," lanjut Papa Adam.
"Bertahanlah demi Zahra, dia sangat membutuhkan ibunya."
Edward terdiam. Dalam hatinya mengingkari semua perkataan orang tuanya tetapi apa yang dikatakan ayahnya itu benar, Zahra membutuhkan Soraya.
__ADS_1
Edward menatap ke kamar rahasia miliknya. Ada kehidupan lain yang menantinya, kehidupan baru yang membuat dia merasa berbeda. Merasa lebih bersemangat dan bahagia. Apakah dia akan menyembunyikan Deya untuk selamanya ataukah dia memberitahu semuanya jika Deya adalah bagian dari hidupnya yang lain?
Ya, dia akan memberi tahu kan pada semuanya hanya saja dia butuh waktu untuk mengenalkan mereka pada Deya.
Setelah pembicaraan yang panjang dan lebar serta beberapa nasihat yang orang tuanya katakan, akhirnya orang tuanya pergi dari ruangan itu.
"Mama dan Papa akan mengunjungi rumahmu akhir minggu dan menginap di sana."
"Iya, Ma," jawab Edward.
"Sabarlah dalam menghadapi segala sesuatunya. Ini ujian hidup jika kau bisa melewatkan semuanya dengan baik kau akan mendapatkan hal baik nantinya. Kau sudah dewasa tahu apa yang harus kau lakukan." Papa Adam menepuk bahu Edward. Edward tersenyum masam.
"Kami pergi dulu."
"Satria antar mereka sampai bawah."
"Baik, Pak."
Setelah memastikan orang tuanya masuk ke lift, Edward langsung pergi ke ruangannya dan membuka pintu kamar rahasia. Dia menemukan Deya sedang duduk di pinggiran tempat tidur.
"Kau sudah bangun?" tanya Edward berusaha menyembunyikan kepanikannya. Bertanya apakah Deya mendengar pembicaraannya tadi dengan kedua orang tuanya.
"Baru saja. Kau tidak membangunkan aku. Padahal aku harus bekerja bukan?"
"Tidak begitu, aku itu karyawanmu. Kau harus profesional dalam memperlakukan aku."
"Kalau begitu buatkan aku secangkir kopi. Setelah itu carikan aku makan siang sekalian untukmu."
"Di kantin perusahaan?"
"Apapun yang kau siapkan aku akan memakannya asal jangan makanan pinggir jalan, perutku sakit jika makan itu."
"Ish, padahal banyak makanan enak lho dipinggir jalan." Deya merasa tersinggung karena ibunya adalah penjual makanan pagi di pinggir jalan.
Deya hendak keluar kamar tapi Edward mencegahnya.
"Mau kemana?"
"Katanya buat kopi."
"Cuci muka dulu," ujar Edward.
"Eh ya, lupa." Deya mencari dimana toiletnya.
Edward menunjuk ke sebuah pintu yang berwarna putih hampir sama dengan warna warna tembok. Dia membukakan pintu itu untuk Deya.
__ADS_1
Deya tersenyum lebar tanpa memperlihatkan giginya dan masuk ke dalam kamar. Dia hendak menutup pintu namun Edward mencegahnya.
"Apa?" Edward menatapnya dengan ekspresi yang tidak Deya mengerti. Walau wajah pria itu tersenyum namun ada kesedihan yang terpendam jauh di balik matanya yang berwarna coklat gelap.
Deya mencium pipi Edward. "Sudah sana bekerja." Wanita itu lantas menutup pintu kamar mandi. Edward mengusap pipinya dan tersenyum. Istri simpanannya ini sungguh unik.
Edward memanggil Katrina ke ruangan setelah Deya pergi untuk membuatkan kopi ke pantry.
"Deya itu istri kedua ku. Aku harap kau bisa menghormatinya tetapi tidak ada yang tahu masalah ini selain kau dan Satria. Aku beri tahu karena percaya kau akan menjaga rahasia ini, jadi jangan hancurkan kepercayaanku."
"Saya akan selalu menjaga rahasia ini."
Wajah Katrina terkejut untuk sesaat tetapi kembali biasa. Bertahun-tahun dia bersama Tuannya ini, tidak pernah sekalipun Tuannya melirik wanita selain istrinya sendiri. Dia selalu lurus saja dalam melangkah. Itu berkat didikan ayahnya yang juga taat dalam ibadah.
"Ini kopinya," kata Deya yang masuk saja ke ruangan itu tanpa mengetuk nya terlebih dahulu. Dia terpaku menatap Katrina.
"Kak, Bu Katrina," Deya merasa tidak enak dengan Katrina, takut jika wanita itu tahu jika dia adalah simpanan Edward.
"Tidak apa-apa Deya. Dia tahu siapa kau bagiku." Deya merasa bingung mengapa Edward memberitahu orang lain.
Deya mulai melangkah canggung.
"Kalau begitu saya akan keluar dulu, Bu."
"Panggil dia Deya saja agar orang lain tidak curiga dan bersikap biasa seperti dia bawahanmu," perintah Edward.
"Baik, Pak." Katrina keluar ruangan.
"Mana makanannya sebentar lagi waktu makan siang."
"Kau mau apa? Biar aku pesankan."
Mereka lalu memesan makanan. Deya tetap berada di ruangan Edward untuk menemani dan membantu pekerjaan pria itu sebisanya. Mereka juga pulang bersama ke apartemen.
Mereka mampir ke swalayan membeli beberapa kebutuhan dapur setelah itu pulang. Edward langsung saja memeluk Deya setelah mereka pulang bekerja.
"Aku belum mandi."
"Aku tidak peduli." Pria itu melucuti pakaian Deya di dapur.
"Ini dapur!" ucap Deya terengah-engah tidak siap dengan serangan Edward. Bagian bawah tubuhnya masih pegal kini harus dipakai lagi.
"Aku ingin bercinta disini." Edward menyingkirkan semua yang ada diatas meja makan dan meletakkan Deya di sana.
Pria ini begitu pendiam tetapi sangat liar dalam bercinta. Deya tidak menyangka fantasi dalam otak pria itu begitu ...."
__ADS_1