
"Aku tidak mendapatkan Ed, kau juga tidak boleh. Mari kita sama-sama ke neraka," ucap Soraya seraya tertawa keras ketika dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke sebuah truk tronton besar.
Benturan keras terdengar. Bagian depan mobil menghantam truk lalu berputar. Beberapa kali. Deya hanya bisa berdoa.
'Ya Tuhan jika takdirku sampai di sini maka aku ikhlas menerimanya. Maafkan semua dosa dan kesalahanku. Mas Ed selamat tinggal, Zahra dan Dafi maafkan Ibu yang tidak bisa menemani kalian," gumam Deya pasrah. Deya sempat melihat Edward yang nampak khawatir di Helicopters.
Pintu mobil bagian belakang terbuka, Deya terlempar keluar hingga ke pinggir badan jalan dan bagian belakang tubuhnya terantuk keras pembatas jalan dari besi.
"Akh!" pekik Deya keras. Matanya yang masih terbuka melihat Edward berlari mendekat ke arahnya. Waktu terasa berhenti berputar.
"Sayang, bertahanlah," kata Edward memangku tubuh Deya. "Cepat, bantu aku!" perintah Edward pada petugas kesehatan. Wajahnya sudah penuh dengan air mata.
Deya tersenyum lebar. Satu tangannya terulur hendak menyentuh Edward. Edward menyadarinya. Dia memegang tangan Deya.
"Berjanjilah kau akan bertahan...." Deya mulai menutup matanya.
"Tidak... tidak... jangan lakukan ini. Jangan tinggalkan aku," seru Edward menciumi Deya.
__ADS_1
"Tuan biar kami periksa terlebih dahulu," kata petugas kesehatan.
"Dia masih hidup, cepat bawa tandunya kesini," perintah petugas kesehatan.
Masih ada secercah harapan pada diri Edward. Tubuh Deya yang penuh dengan darah dan luka di bawa naik ke tandu.
"Apakah dia sedang hamil?" tanya petugas kesehatan ketika mereka sudah berada di Helicopters. Darah dari kedua paha Deya tidak kunjung berhenti membuat mereka cemas.
Edward mengangguk.
"Yang penting istri saya masih bisa selamat," kata Edward. Berjongkok di depan wajah Deya. Dia terlihat frustasi dan putus asa.
Beberapa jam kemudian, Edward berdiri di depan ruang operasi. Keadaan Deya sangat parah sehingga diperlukan tindakan lebih. Dokter tadi sudah mengatakan jika nyawa bayi dalam kandungan Deya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Edward mengatakan ikhlas menerimanya. Baginya keselamatan Deya lebih penting toh, mereka sudah punya dua anak.
Deya mengalami cedera tulang belakang yang parah dan kemungkinan besar untuk selamat sangat kecil, ditambah lagi dia telah kebanyakan kehilangan darah.
Pak Seto sudah datang untuk mendonorkan darah pada Deya. Edward sendiri menekan pucuk matanya, dia seperti tidak bisa bertahan hidup jika Deya pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Ayah," panggil Zahra.
Edward melihat ke arah Zahra dan Dafi yang berdiri tidak jauh dari nya. Kedua anak itu berlari memeluk Edward. Terisak keras.
"Ibu," ucap Dafi menatap Ayahnya. Edward berjongkok, menyeka air mata Dafi. Dadanya terasa sesak dan panas menahan semua perasaan ini. Dia berpura-pura untuk terlihat tegar di depan anaknya padahal dia rapuh dan lemah saat ini.
"Kita berdoa saja agar Ibu bisa selamat," ucap Edward. Zahra dan Dafi mengeratkan pelukan mereka.
"Adik kalian sudah tidak ada," kata Edward menyeka air mata yang tidak berhenti mengalir.
"I-bu, akan sehat lagi kan?" tanya Dafi lagi.
Edward tidak mampu menjawabnya. Dia juga tidak tahu bagaimana keadaan Deya di dalam sana.
"Ibu pasti akan sehat lagi dan bermain bersama kita," jawab Zahra pada Dafi dengan suara parau. "Kita hanya perlu berdoa agar Tuhan membiarkan Ibu tetap bersama dengan kita."
Dafi mengangkat tangannya. "Tuhan bawa Ibu kembali, Dafi takut...."
__ADS_1