
Pagi harinya Zahra terkejut dengan suara tangis seorang anak kecil di rumah opanya. Dia mengernyit mendengarkan dengan seksama lantas bangkit karena penasaran.
Dia berjalan menengok ke arah bawah.
"Ibu... mau Uti," teriak Dafi.
Deya kebingungan menenangkan Dafi yang menangis keras. Setiap pagi memang Ibu Ratmi yang menyuapi Dafi dan memandikan nya jadi Dafi terbiasa bermanja-manja dengannya. Rumah baru terasa asing untuknya belum lagi keluarga ayahnya yang tidak pernah dia lihat membuat Dafi merasa takut dan tertekan.
"Ingin pulang...." tangis Dafi tersengal-sengal.
Mama Claudia yang ingin membantu hanya bisa diam karena Dafi akan semakin kencang menangis nya jika mereka dekati.
Zahra berlari sampai depan pintu. Dia terperangah ketika melihat Dafi ada di kamar tamu.
"Eh anak cengeng!" panggil Zahra. Dafi yang menangis langsung terdiam menatap ke arah Zahra.
"Kak Ara," panggilnya tertawa tapi masih dalam keadaan menangis.
"Anak cengeng kok ada di sini." Zahra mendekat ke arah Dafi.
"Aku nggak cengeng," kata Dafi.
"Ni menangis kan," tunjuk Zahra pada mata basah Dafi.
Dafi langsung mengusapnya, "Nda ada, liat... liat...." Semua orang tertawa melihat tingkah Zahra dan Dafi mereka tidak menyangka jika keduanya sudah sedekat ini.
"Anak cengeng kok di rumah Kakak?"
"Dafi bukan cengeng," ujar Dafi tidak terima menepuk dadanya.
"Iya, ade kok ada di sini?"
"Dafi bukan Ade," kata Dafi lagi.
Zahra menghela nafas. "Ini kakak," tunjuk Zahra pada diri sendiri, "ini ade," tunjuk nya di dada Dafi.
Edward mencium rambut Zahra. Anak itu menoleh ke arah ayahnya.
"Ini Ayah," lanjut Zahra.
"Ini Ibu Dafi," kata Dafi memeluk ibunya. Deya duduk di tengah tempat tidur bersama dengan Dafi sedangkan Zahra ada di sampingnya.
"Ibu Kakak," ledek Zahra spontan memeluk Deya membuat semua terkejut.
"Bukan, ini Ibu Dafi, bukan Ibu Kak Ara," Dafi mulai menangis kencang.
"Ibu Kak Ara juga ya," kata Zahra melihat ke arah Deya.
Seketika mata Deya merebak. Dia mengangguk dengan cepat. Memeluk balik Zahra dengan satu tangannya dan menghela nafas. Menahan haru. Dia tidak menyangka Zahra akan mengatakan itu.
"Bukan, Ibu Dafi," tolak anak itu.
Deya merangkul keduanya. "Kalian anak Ibu," ucap Deya parau tertahan. Dia tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
Sebenarnya Zahra juga ingin menangis tetapi dia mengalihkannya dengan menjahili Dafi. Menjulurkan lidah pada anak itu sehingga Dafi kesal. Mereka bertengkar kecil dan Deya berusaha meredam perkelahian mereka.
Edward membalikkan tubuh dan menyeka air mata yang sempat keluar sedikit. Mama Claudia memeluk Edward dan ikut terharu.
"Rumah Opa ada banyak ikan besar dan juga binatang, mau lihat," ajak Zahra membuat mata Dafi terbelalak. "Ada burung kakak tua yang bisa bicara nanti bilang anak cengeng... anak cengeng...."
"Aku nggak cengeng," teriak Dafi.
"Kalau nggak cengeng ya jangan suka menangis. Ikut kakak keluar saja yuk." Dafi menurut pada Zahra turun dari tempat tidur. Zahra menggenggam tangan Dafi, mengajaknya keliling rumah Papa Adam.
"Wah, Opa juga ikut Dafi boleh," kata Papa Adam mendekati Dafi. "Gendong Opa saja ya biar g capai," sayup-sayup masih terdengar suara mereka dari kejauhan.
"Kau lihat semua tidak seperti yang kau bayangkan." Edward mendekat ke arah istrinya. Deya mengangguk.
"Kalau begitu kita ke ruang makan untuk sarapan. Mama sudah siapkan beberapa menu masakan. Mama tidak tahu apa yang Dafi dan kau sukai."
"Kali ini Ed ingin dibuatkan kopi hangat oleh istri Ed, sudah lama aku tidak merasakannya."
Edward mengulurkan tangan membantu istrinya turun dari tempat tidur.
"Kalau begitu ayo, mumpung anak-anak sedang sibuk dengan Opanya."
"Ih tucing," kata Dafi cedal. Mendekat ke arah kucing persia yang gemuk, berwarna cokelat keemasan.
"Kucing," ulang Zahra.
"Nggak bisa, tucing." Papa Adam tertawa bersama dengan Zahra. Pria itu memanggil dua kucingnya.
"Rambo, Girly," panggilnya. Seketika dua makhluk menggemaskan itu mendekat ke arah Papa Adam.
Tangan mungil Dafi memegang kucing persia itu dan tertawa geli. Mereka lantas berjalan lagi melihat burung kakak tua dan kolam ikan yang besar.
"Wah, ikannya besar sekali," teriak Dafi girang. bertepuk tangan seraya melompat-lompat. Dia mulai senang berada di rumah ini.
Asisten Papa Adam terlihat berjalan mendekat. Pria itu menyapa Papa Adam.
"Tuan memanggil saya?"
"Ya, aku ingin kau memundurkan semua jadwal ku dua hari ini. Aku ingin bersama dengan cucu lelakiku yang baru datang."
Asisten Papa Adam terkejut melihat ke arah Dafi. "Baik Tuan."
"Ehm aku minta kau siapkan seratus kotak makanan dan bagikan ke semua orang yang membutuhkan. Juga siapkan makan siang untuk seluruh karyawan di kantor. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan semuanya."
"Baik, Tuan."
Pria itu lantas pamit undur diri. Deya yang melihat anaknya diterima dengan baik oleh keluarga Edward merasa senang. Terbesit sebuah senyum di wajahnya yang ayu.
"Anak Ayah sedang apa?" tanya Edward memeluk pinggang Deya mendekat ke arah kedua anaknya.
"Ikan besang... besang," tunjuk Dafi pada ikan yang ada.
"Coba Ayah lihat, wah iya besar sekali."
__ADS_1
"Itu gurame," kata Dafi lagi menunjuk ke arah ikan-ikan yang berebut makanan yang di sebar oleh Papa Edward dan Dafi.
"Benar, itu ikan gurame besar."
"Besar sekali," ucap Deya kagum.
"Itu bisa sampai 5 kilo lho bobotnya. Kalau kau mau kita bisa memasaknya nanti siang."
Deya menaikkan kedua alisnya.
Dari kejauhan Mama Claudia memanggil mereka untuk sarapan di halaman depan kolam renang.
"Opa mau ke belakang dulu, perut Opa mulas." Papa Adam pergi terlebih dahulu.
"Ayo kita sarapan. Setelah itu kita tangkap ikan untuk dimasak oleh Ibu."
"Jangan kasihan," kata Dafi.
"Kalau begitu kita beli saja ikannya di pasar."
Dafi mengangguk.
"Biar Ayah gendong," tawar Edward mengulurkan tangan. Dafi langsung menurut. Mereka berdua meninggalkan Deya dan Zahra yang berdiri di belakangnya.
"Ayo," ajak Deya memeluk bahu Zahra. Zahra menatap ke arah Deya.
"Kak Deya tidak marah padaku?" tanyanya penuh penyesalan.
"Untuk apa Kakak marah padamu. Kakak sayang padamu." Deya tersenyum.
"Apa boleh aku panggil Ibu juga seperti Dafi?" tanya Zahra. Dia ingat betul perkataan Roy jika dia harus menghormati Deya dengan memanggilnya Ibu bukan Kakak.
Deya terhenyak, mengangguk lantas memeluk Zahra. "Kau itu anakku tentu saja boleh memanggilku Ibu. Namun, jika kau tidak nyaman aku tidak akan memaksanya."
Zahra memeluk balik Deya. "Ibu saja agar bisa meledek Dafi. Mengatakan jika Ibu juga Ibuku."
"Eh, tidak boleh seperti itu. Kau tidak boleh membuat adikmu menangis." Deya melepaskan pelukannya dan menyentuh pucuk hidung Zahra.
"Kalau menangis lucu, Bu."
Deya memukul gemas Zahra, " Jangan nakal."
Zahra memeluk Deya lagi lalu menangis. "Aku rindu Kakak eh Ibu, maaf karena aku membuat banyak salah." Deya merenggangkan pelukannya agar bisa menatap Zahra.
"Kau tidak salah hanya belum mengerti tentang keadaan. Jadi kau tidak perlu meminta maaf." Deya menyeka air mata Zahra. Perlakuan Deya yang lembut membuat Zahra merasa damai.
"Aku sayang Ibu."
"Ibu juga sayang Zahra." Deya mencium dahi Zahra. "Ayo sekarang kita makan pagi, mereka pasti sudah menunggu kita."
Benar saja Edward berdiri melihat keduanya dari dekat kolam renang. Melambaikan tangan agar keduanya lekas datang.
***
__ADS_1
Tema cerita adalah pelakor tetapi aku ingin menekankan cerita tentang pentingnya tentang adab dan akhlak hasil didikan orang tua. Orang dihargai dan dihormati karena kepribadian dan adabnya, itu akan datang jika diajarkan sedari dini oleh orang yang mengasuhnya terutama orang tua. Maka jadilah orang tua hebat untuk anak kita.