
"Beri aku waktu," ujar Deya.
"Sampai Ayahmu pulang."
"Jika pulang sekarang?"
"Kau harus beri keputusan besok, itu paling lama."
"Kenapa terburu-buru?"
"Karena waktu bisa merubah segalanya termasuk juga keputusanmu."
"Hanya dibawah tangan kan?"
"Kita tidak tahu hati kita karena bisa berubah kapan saja dan aku tidak mau merugi karena telah mengeluarkan banyak uang untukmu."
"Tidak ikhlas?"
"Ikhlas jika sudah jadi hakim milik tapi jika masih bisa dimiliki orang lain ya merugilah."
"Sudah, aku harus pergi, Ibu mungkin menungguku."
"Mau diantar sopir?"
"Jangan kalau ada yang melihat? Apalagi jika ketahuan istri atau keluargamu bisa mati muda aku."
"Sok tahu."
"Iyalah, pekerjaan pelakor itu paling berbahaya bisa membuat diri sendiri celaka. Banyak wanita simpanan yang dianiyaya istri dan para netizen."
"Kau selalu mengatakan bahwa kau itu pelakor."
"Lho memang kenyataannya seperti itu. Aku merebutmu dari istri pertama jika sampai menikah diam-diam denganmu. Jika tidak disebut pelakor ya wanita penggoda," terang Deya membuat Edward mengatupkan bibir.
"Sudah aku mau pergi, berbicara denganmu tidak akan pernah usai. Para karyawan mungkin sudah menunggu di ruang rapat sekarang."
Dengan berat Edward melepaskan Deya, entah mengapa suasana hatinya yang lesu akan berubah jika berbicara dengannya.
"Satu ciuman lagi?" pinta Edward.
"No, tidak akan pernah usai nanti." Deya berjalan mundur.
"Boleh aku menengok ayahmu?"
"Boleh bawa banyak makanan sekalian, adikku suka dengan cokelat."
"Siap!"
__ADS_1
Deya lalu keluar ruangan itu dan Edward tersenyum ceria sambil menggeleng kepala. Dia seperti remaja yang baru jatuh cinta.
***
"Bu, bagaimana keadaan Ayah? tanya Deya ketika dia sudah ada dua rumah sakit.
"Sedang ditangani."
"Keluarga Bapak Seto?" panggil seorang dokter.
"Saya istrinya Pak."
"Keadaan bapak tidak baik-baik saja karena ada masalah pada tulang yang kemarin baru saja di copot pen-nya. Sebaiknya bapak menginap saja di rumah sakit karena harus dilakukan pemeriksaan kelanjutan oleh dokter ahli tulang. Kebetulan dokternya sudah pulang hari ini jadi diperiksa nya besok."
"Lakukan saja yang terbaik, Dokter,'' jawab Deya.
"Tapi Ya..," perkataan ibunya terpotong karena Deya mengusap lengan ibunya.
"Bapak masuk ke rumah sakit melalui apa?"
"Umum saja dan saya minta kelas satu rumah sakit ini."
"Deya...." lirih ibunya terkejut tetapi tidak mengatakan apapun.
"Kalau begitu, mohon isi administrasinya di ruang pendaftaran."
Ibu Ratmi hendak melangkah tapi dicegah oleh Deya. "Biar Deya saja, Bu. Ibu tunggu Ayah di sini."
"Ya Tuhan, tolong cegah putriku dari perbuatan dosa yang engkau benci," do'a Bu Ratmi.
Pak Seto sudah dibawa ke ruang perawatan ketika Deya menemuinya. Ayahnya sudah tertidur, dokter memberinya obat yang membuat orang yang meminumnya mengantuk karena mengandung obat tidur.
"Bu...," panggil Deya.
"Deya kemarilah, Ibu ingin bicara denganmu," ucap Ibu Ratmi.
"Sekarang katakan pada ibu dengan jujur apakah yang dikatakan orang itu benar jika kau menjual diri?"
"Apa ibu lebih mempercayai orang-orang itu daripada anak ibu sendiri?" Deya sudah bersiap jika ibunya akan menanyakan hal ini. Sekalian saja saja dia masuk ke dalam inti masalah ini.
"Dulu kau katakan akan eh... ," Ibu Ratmi tidak sampai hati untuk mengucapkannya.
"Ibu, aku memang ingin melakukan pernikahan kontrak dengan seorang pria hidung belang tetapi ada seseorang yang menyelamatkanku dari perbuatan itu. Ibu tahukan pria yang mengantar pulang aku dan Ayah dari rumah sakit dulu."
Ibu Ratmi mengangguk.
"Dia membayar ku penuh tetapi sama sekali tidak menyentuhku malah melindungiku. Aku berutang banyak padanya."
__ADS_1
"Kenapa dia malah menyelamatkanmu dan memberimu banyak uang. Ibu tidak percaya!"
"Demi Tuhan Bu, aku tidak melakukan hal terlarang hingga kini dengan siapa pun. Dia bahkan selalu menjagaku setiap kali kami bertemu. Hingga...." Deya mengamati wajah ibunya yang berubah menjadi serius.
"Hingga apa, Nak?" Dada Ibu Ratmi sesak dan takut akan satu hal.
"Hingga aku jatuh cinta padanya, Bu. Dia juga sama." Deya berbohong untuk satu ini.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Angga?"
"Aku hanya berusaha realistis, Bu. Angga memang mencintaiku dan hubungan kami telah lama berlangsung tapi jenjang hubungan kita ke depan untuk melangkah serius masih lama. Bisa saja kan ditengah jalan kami menemukan orang lain yang membuat kita nyaman. Seperti aku yang merasa nyaman dengan Pak Edward. Selain itu, aku dan dia masih sama-sama kuliah belum mapan. Itu juga jadi pertimbangan ku."
Ibu Ratmi kembali berpikir.
"Apakah dia mempunyai seorang istri? Dia terlihat pria yang sudah dewasa dan cukup dewasa untuk punya keluarga."
"Sudah, Bu tapi kami saling mencintai."Ibu Ratmi membelalakkan matanya. Dia kecewa dengan kelakuan Deya.
"Deya ini salah." Ibu Ratmi mencoba memberi pengertian pada Deya. Dia tidak pernah terbayangkan dalam benaknya sedikit pun Deya akan menjadi perusak rumah tangga orang lain.
"Bukankah banyak lelaki yang punya dua tiga empat istri. Ini bukan hal terlarang."
"Itu benar tapi kau menyakiti hati istrinya."
"Jika kami bisa berbagi apakah itu salah?"
"Deya ini tidak baik."
"Tidak baik jika kita melihat dari satu sisi jika lihat dari sisi lain mungkin tidak!"
"Sadarkah, dia tidak baik bagimu!" Netra Ibu Ratmi memerah dengan air mata yang sudah mulai menetes.
"Apa yang menyebabkan dia tidak baik. Dia Tampan, gagah, baik hati, rajin ibadah, dan juga kaya, dia juga sudah banyak membantu kita keluar dari semua masalah. Kita tidak perlu hidup di jalanan, Raihan bisa meneruskan sekolahnya, aku bisa membayar biaya kuliah dan kini ketika aku dalam masalah tanpa banyak tanya dia menyerahkan kartu ini padaku."
"Deya, ibu tidak pernah mengajarimu untuk bersikap materialistis!" seru Ibu Ratmi.
"Hidup ini butuh uang, Ibu. Tanpa itu kita hanya bisa menangis tanpa tahu cara pemecahan dari setiap masalah. Kita hanya akan diinjak oleh orang yang punya kekuasaan dan uang," bantah Deya.
"Matamu sudah gelap dengan uang."
"Hatiku ini yang menyuruhku untuk hidup bersama dengannya." Deya bersimpuh memegangi kaki ibunya.
"Ibu tolong restui aku menikah dengannya. Walau ini salah pada awalnya tapi akan ku perbaiki. Bahagiaku ada bersamanya," pinta Deya dalam tangis. Hatinya juga tidak ingin melakukan ini hanya saja situasi yang memaksanya melakukannya. Dia harus banyak berbohong agar restu itu datang dari kedua orang tua.
Tubuh Ibu Ratmi lemas. Dia berpegangan pada pinggiran kursi lalu duduk sambil sesengukan. Dia tidak mengira Deya akan berani bertindak begitu jauh.
"Ibu lihat Ayah membutuhkan banyak uang untuk berobat. Apakah ini tega memutus pengobatan Ayah? Apakah Ibu juga tega memutus sekolahku dan Raihan?" Kepala bersandar di paha Ibu Ratmi.
__ADS_1
"Ku mohon Ibu, restui aku. Tanpa Doa Ibu, hidupku tidak akan pernah bahagia."
Tangis Ibu Ratmi semakin keras.