
Deya akhirnya membalikkan tubuhnya.
"Aku mau pulang dulu," ucap Deya melirik ke arah handphone Zahra. Soraya nampak melihat ke arahnya.
"Besok kemari lagi kan?" tanya Zahra.
"Ya, tapi setelah aku absen ke perusahaan ayahmu," kata Deya.
"Tidak usah, langsung kemari saja. Urusan itu akan ku atasi kau cukup di rumah ini menemani Zahra saja," potong Edward.
"Baiklah, aku akan menuruti semua keinginanmu," jawab Deya lalu pergi keluar ruangan itu. Edward jadi gemas sendiri.
Deya memilih pulang ke rumah orang tuanya agar tidak ada yang curiga dia tinggal di sebuah condominium mewah.
"Siapa dia, Zahra?" tanya Soraya.
"Eh, Ibu maaf, aku lupa kalau masih berbicara denganmu." Wajah Soraya nampak masam.
"Itu Kak Deya, ayah membawanya sebagai mentorku."
"Zahra jika sudah selesai bilang pada Pak Lee agar membawa handphone itu ke kamar Ayah."
"Iya, Ayah," jawab Zahra.
***
"Aku takut, Kak," kata Zahra memegang tangan Deya. Di depannya ada sebuah gedung sekolah biasa. Deya memilih sekolah negeri ini karena jumlah muridnya yang tidak terlalu banyak selain itu, interaksi dengan kaum bawah juga ada. Itu dilakukan agar Zahra terbiasa dengan kehidupan kaum kecil. Edward sebelah tidak setuju tetapi Deya mengatakan beberapa alasan yang masuk akal sehingga Edward setuju.
"Kakak akan menemanimu sekolah," ungkap Deya.
"Apa boleh?"
"Terpaksa hingga kau bisa mandiri."
"Ih," ujar Zahra mencebik bibirnya. Semua murid sudah masuk ke kelas masing-masing sehingga halaman sekolah terlihat sepi.
"Ayo, Zahra kau bisa," bujuk Edward memegang tangan Zahra. Anak itu melihat Deya dan Ayahnya bergantian.
"Kalian akan menungguku di sini sampai selesai?" tanya Zahra.
"Hmm." Edward nampak berpikir. Dia ada rapat hari ini. Sebuah cubitan kecil mampir di pinggangnya, membuat dia meringis menatap pelakunya. Mata besar dengan bulu mata lentik itu menatapnya horor, membuat Edward menganggukkan kepala.
Edward keluar duluan mengambil kursi roda lalu membantu Zahra naik ke kursi roda. Setelah itu mereka bertiga pergi ke ruang kepala sekolah dan langsung diantar ke kelas yang tuju.
"Semuanya. Ada anak baru di kelas ini. Kalian ajak belajar dan bermain bersama. Ibu harap kalian tidak ada yang nakal padanya."
"Iya Bu," jawab semua anak. Mulai terdengar bisik-bisik membuat Zahra tidak nyaman. Belum lagi tatapan aneh mereka melihat Zahra. Zahra memegang tangan Deya.
"Teman kalian memang sedikit berbeda jadi kalian harus membantunya jika menemui kesulitan. Selain itu, dia tadinya sekolah di rumah jadi masih malu untuk berinteraksi dengan kalian. Ibu harap kalian mau mengajaknya bermain," lanjut Ibu kepala sekolah.
"Iya, Bu," jawab semua anak serempak.
"Dila, kau duduk di belakang biar Zahra duduk di depan agar lebih mudah."
__ADS_1
Seorang anak kecil menuruti perintah Ibu wali kelasnya. Zahra lalu di suruh duduk di depan.
"Kak Deya?" tanya Zahra keberatan jika ditinggal.
"Kakak duduk diluar," jawab Deya.
Edward lalu berbisik pada Ibu Kepala sekolah agar memberi kompensasi pada Deya untuk bisa menunggu Zahra di luar kelas supaya anak itu mau sekolah. Kepala sekolah setuju asal jangan lebih dari satu bulan.
"Ayah juga kan?"
"Hari ini Ayah akan menunggumu sampai selesai."
Deya dan Edward lantas menunggu Zahra di depan kelas. Duduk di pinggiran tanaman.
"Bagaimana caramu bisa membujuk Zahra sekolah kembali? Terus terang tidak ada yang bisa membujuknya."
"Dengan hati," jawab Deya santai sambil memasukkan untaian surai hitam ke belakang telinga.
Edward menghela nafas lega dan tersenyum. "Kau memang berbeda dengan wanita kebanyakan."
"Aku berbeda karena kau melihatnya berbeda."
Mereka saling menatap. Jika mereka tidak ada di tempat umum, Edward sudah pasti akan memeluknya.
"Ibu akan kembali ke rumahnya hari ini."
"Lalu?"
"Zahra akan sendiri."
"Itu yang tidak kusuka," ujar Edward terus terang.
"Lho, bukannya ini maumu?" tanya Deya. Wajah Edward nampak suntuk dan ditekuk.
"Sudah seminggu, De," ungkap Edward.
"Apanya?" tanya Deya pura-pura bodoh.
"Ingin rasanya aku menerkammu sekarang," gemas Edward.
Deya tertawa. "Aku jadi bisa tidur tenang."
"Aku yang tidak bisa tidur."
"Lalu?" tanya Deya.
"Kau tidur saja di rumah," kata Edward.
"Nanti ada yang melihat dan ketahuan."
"Tidak ada pelayan jika malam kecuali jika aku belum pulang. Mereka ada di rumah belakang."
"Apa alasannya?"
__ADS_1
"Alasannya agar kau lebih mudah mengurus Zahra, tidak perlu bolak balik ke rumahmu yang jauh."
"Tidak jauh hanya dua puluh menit dari hunianku. Kau sebetulnya bisa mengendap pergi setiap malam," ujar Deya.
"Ck, kau ingin orang tuaku curiga jika aku pergi keluar setiap malam?" Deya menggelengkan kepala.
"Aku sudah bicara dengan Mama mengenai masalah ini dan dia setuju."
"Kau selalu memutuskan sesuatu tanpa bertanya dulu padaku."
"Aku suamimu, punya hak untuk itu."
"Kau punya hak, hanya saja kau seperti tidak menghargai pendapatku."
"Karena kupikir kau akan setuju."
"Tidak semudah itu, Pak Edward, bukan karena aku setuju tetapi masalah apa yang akan timbul jika aku berada di sana? Hubungan kita akan mudah tercium."
"Itu urusanku kau hanya perlu ikuti semua yang perintahkan."
"Perintah," gerundel Deya lirih, nyaris tidak terdengar.
"Apa?"
"Tidak apa-apa." Mereka lalu terdiam.
"Aku dengar dari Zahra jika istri pertamamu akan ke rumah sore nanti."
"Oh iya kah? Aku tidak tahu dan tidak perlu tahu."
"Kau tidak rindu padanya?" tanya Deya.
"Bukan aku bermaksud ikut campur urusanmu dengan istrimu hanya saja, jika kita tinggal satu rumah dan ada istrimu, aku tidak bisa, aku tidak akan kuat menerimanya."
"Hubunganku dengan Soraya sudah kandas." Tiba-tiba Edward mengatakan itu, membuat Deya tertegun. Dia sudah mengiranya dan mendengar sebagian cerita dari Zahra tetapi dia ingin mendengar itu dari Edward. Mendadak keinginan untuk menjadi satu-satunya terbesit dalam dirinya. Dia ingin memiliki yang Soraya buang. Apakah itu salah?
"Aku seharusnya tidak menceritakan ini padamu," kata Edward memalingkan wajah ke arah lain. Dia paling benci memperlihatkan kelemahannya di depan Deya.
Deya memegang tangan Edward setelah memastikan tidak ada orang lain selain mereka
"Aku tidak ingin mencampuri urusanmu dengan istri sahmu, hanya saja jika kau mau berbicara padaku mungkin itu bisa mengurangi beban di hatimu."
"Kehadiranmu sudah membuatku tersenyum kembali." Mereka saling memandang dan tersenyum.
"Bagaimana, apakah kau akan tidur di rumah mulai malam ini?" tanya Edward.
"Bisa apa aku. Kau sudah putuskan dan aku hanya bisa menurut."
"Itu baru istriku yang manis."
Deya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tidak mau memikirkan jika Soraya kembali lagi ke rumah Edward. Yang dia tahu saat ini adalah dia mulai merasa nyaman dengan Edward dan ingin selalu dekat dengannya.
Namun, jika istri sah Edward kembali ke rumah, dia akan mempertahankannya pernikahannya selama Edward masih ingin bersamanya. Dia telah mempersiapkan hati dan jiwanya menjelang pertemuannya dengan Soraya nanti sore.
__ADS_1
'Apakah aku mulai mencintainya?" pikir Deya menatap Edward. 'Andai itu benar cinta, apakah Edward juga mencintaiku?'