Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 20 Pemberitahuan Langsung


__ADS_3

Dua hari ini Edward memang tidak menemui Deya. Ayahnya pun rencananya akan kembali ke rumah pada hari ini.


Deya pergi ke kampus. Ketika waktu istirahat tiba dia memesan soto dan teh hangat untuk makan pagi yang dirapel makan siang. Dia bangun kesiangan sehingga tidak punya waktu untuk sarapan. Kedua adiknya hanya dibelikan makanan dari penjual keliling.


"Ya, beberapa hari ini kenapa tidak membalas pesan dariku?" tanya Angga yang langsung duduk di sebelah Deya.


Deya membulat matanya, menoleh ke samping, memikirkan alasan yang tepat.


"Aku sedang sibuk mengurus ayah di rumah sakit."


"Ayahmu masuk rumah sakit lagi?"


"Iya."


"Dan kau tidak mengatakan hal itu padaku?"


"Ehm hanya terpeleset dan itu butuh penanganan lebih karena ayah baru saja selesai operasi lepas pen," terang Deya.


"Padahal malam Minggu kemarin aku ingin menjemputmu dan mengajakmu keluar tapi kau tidak membalas pesan dan teleponku."


"Pulsaku habis kemarin jadi tidak bisa membuka pesan darimu," Deya berbohong yang terjadi sebenarnya adalah orang tua Deya melarang Deya untuk berhubungan lagi dengan Angga untuk menjaga perasaan Edward.


"Kalau begitu biar aku yang belikan."


"Tidak usah. Aku sudah membelinya tadi. Kemarin aku malas untuk membeli karena sibuk mencari lokasi magang."


"Lho bukannya kamu kemarin ke Xavier corporation?"


"Ya, tapi ada sedikit masalah sekarang sudah tidak lagi."


"Aku akan pergi KKN besok karena itu aku mencarimu di sini."


"Yang hati-hati di sana patuhi adat istiadat sekitar jangan macam-macam," ucap Deya.


"Macam-macam apa?"


"Ya, kamu tahu sendirilah tanpa aku harus menjelaskan."


"Kau juga jangan cari penggantiku ketika ditinggal."


Deya nyengir. Mendadak ponsel Deya mulai berdering. Tuan Recehan.


Dia menoleh ke arah Angga.


"Aku mau menjawab telepon ini dulu." Deya langsung pergi menjauh dari tempat itu membuat Angga mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Deya melakukan itu. Dia selalu menjawab telepon dan pesan di depan Angga selama ini. Apa ada yang Deya sembunyikan?


"Hallo Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam. Kenapa lama menjawab panggilanku?" Nada bicara Edward terdengar curiga.


"Aku tidak mendengar maaf."


"Kau dimana?"


"Di kantin kampus sedang sarapan tapi kau menganggu." Entah apa yang dipikirkan Edward dengan kata mengganggu Deya tidak peduli.

__ADS_1


"Tidak pergi magang?"


"Bukannya aku tidak diterima?" tanya Deya.


"Diterima sebagai asisten sekretarisku jadi ruangan mu bersama sekretarisku."


"Kenapa tidak ada pemberitahuan padaku?" tanya Deya karena tidak ada balasan WA atau email dari perusahaan Edward yang menerima dia untuk PKL di sana.


"Pemberitahuannya langsung." Deya membayangkan Edward sedang tersenyum ketika mengatakannya.


"Baiklah." Deya terdiam menunggu apa yang Edward katakan lagi tetapi Edward pun terdiam membuat Deya melanjutkan kalimatnya lagi.


"Sudah kan! Assalamu'alaikum."


"Eh tunggu dulu ada yang mau kukatakan lagi."


"Apa?" Deya sudah tidak sabar untuk mematikan panggilan itu.


"Kau datang ke hotel kamar yang sama ketika kita pertama kali bersama."


"Hotel Sultan?" Ingatannya kembali ke masa itu. Deya menggelengkan kepala.


"Hmmm."


"Mandi yang bersih jangan ada daki dan bau tidak sedap. Pakai pakaian yang telah kusiapkan." Nada bicaranya seperti seorang bos pada bawahannya saja. Deya mencium ketiaknya. Wangi kok.


Deya merinding seketika mendengar perintah Edward.


"Memang kau sudah tidak sibuk?" tanya Deya ingin lari dari hal yang sudah mengotori pikirannya yang masih bersih.


"Tidak. Kenapa?"


"Memang kau tidak rindu padaku?"


"Ehm... " Deya memainkan kuku jarinya. "Rindu." jawab Deya berbohong terdengar ada keraguan dalam nada bicaranya.


"Deya, sudah selesai belum?" tanya Angga yang sudah ada di sebelahnya membuat Deya melonjak karena terkejut.


"Anu.... tunggu sebentar."


"Itu siapa Deya!" tanya Edward dari seberang telephon.


Deya langsung mematikan panggilan telepon karena panik.


"Dari Pak Dhe ku," kata Deya asal agar Angga tidak curiga. Dia menjadi salah tingkah sendiri karena berbohong itu tidak enak.


"Angga aku harus pulang ke rumah karena Ibu perlu bantuan."


"Biar aku antarkan ya," pinta Angga.


"Tidak usah," jawab Deya masuk kembali ke kantin untuk membayar makanannya.


"Tapi Deya."


"Maaf Angga aku harus cepat." Deya lalu berjalan cepat meninggalkan Angga yang terpaku sendiri memandangi kepergian Deya.

__ADS_1


Sedangkan ponsel Deya kembali berbunyi. Deya mulai mengangkatnya lagi.


"Kenapa kau matikan!" bentak Edward dari seberang telepon.


"Ada temanku yang sedang berbicara. Aku harus menjawab pertanyaannya dulu."


"Temanmu atau kekasihmu!" tanya Edward curiga.


Langkah Deya terhenti. "Kita bicarakan masalah ini nanti saja ya, tidak enak kalau di handphone," ucapnya lembut.


Terdengar suara hembusan nafas keras dari Edward.


"Aku mau pulang ke rumah baru ke hotel, okey. Kita bertemu di sana." Deya tidak mau berlama-lama berbicara dengan Edward. Dia seperti istri yang ketahuan selingkuh tetapi dia memang sudah jadi istri seseorang.


"Biar kau dijemput oleh sopir ku saja," kata Edward melembut.


"Enggak usah, aku nggak mau terlihat mencolok di depan semua orang biar aku jadi Deya apa adanya di luar tapi aku pun akan jadi Deya yang kau minta jika bertemu," ungkap Deya.


"Langsung saja ke hotel," kata Edward.


"Bukankah kau akan datang malam?"


"Tidak, nanti sore."


"Okey."


"Aku matikan panggilannya ya," pinta Deya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Dia bernafas lega setelah Edward mematikan panggilan itu. "Deya mati kau sekarang!"


***


Dua jam kemudian Deya sampai di hotel yang dituju. Dia langsung menemui resepsionis untuk mendapatkan akses ke kamar yang dituju. Belum juga dia bertanya Satria mendekat ke arah Deya.


"Saya disuruh oleh Tuan Edward untuk menunggu dan mengantar Nyonya ke kamar." Mereka lantas menuju ke kamar yang telah dipesan.


Sesampainya di kamar itu Deya melihat ke kursi yang Edward duduki dulu, bayangan masa itu kembali lagi. Wajahnya memerah seketika. Dia tidak tahu bagaimana beraninya dia membuka baju sendiri di depan pria yang tidak dia kenal. Deya menarik nafas, mengisi paru-paru nya yang kekurangan oksigen.


Satria berjalan menuju ke sebuah meja panjang menunjuk ke arah beberapa paper bag.


"Nyonya, ini ada pakaian yang Tuan pesan khusus untuk Anda beserta sepatu, alat rias dan lain-lain. Dia ingin agar Anda mengenakannya."


"Baik. Dia membelikanku banyak barang tapi lupa membelikanku mukena. Aku tidak membawanya ketika kemari. Bisakah kau membelikannya untukku sekarang."


Satria terkejut mendengarnya. Dia sampai mengerjapkan mata tidak percaya dengan permintaan Deya. Dia kira Deya seperti wanita murahan lainnya ternyata berbeda. Pantas saja jika Tuannya kali ini tertarik padanya.


"Baik Nona saya akan memesannya, nanti saya akan titipkan pada petugas hotel. Saya harus pergi karena ada urusan penting lainnya. Saya di sini hanya untuk memastikan jika Anda bisa datang."


Satria lantas undur diri.


Deya lantas pergi melihat isi paper bag.


Perlengkapan alat rias yang sepertinya mahal. Sepatu hak tinggi. Dia menulis merknya di pencarian Google dan melihat harga sepatu itu. Enam belas juta. Deya menutup mulutnya. Ini bisa untuk membeli seratus sepatu yang dia kenakan. Lalu lingerie, dia tahu itu dari Lia. berwarna putih, berkain transparan. Deya meringis sendiri di buatnya.

__ADS_1


Deya melihat sebuah surat yang berada di dalam amplop. "Pakai ini semua, buat imajinasiku menjadi kenyataan."


"Dasar, Tuan Recehan yang nakal!" Deya tersenyum sendiri.


__ADS_2