
"Mau kemana Nyonya?" tanya bodyguard yang merangkap menjadi sopir Deya.
"Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku," kata Deya lemas, kepalanya disandarkan di jendela mobil.
Pertengkaran tadi benar-benar menguras emosinya. Dia sebenarnya benci dengan pertikaian tetapi jika ada yang ingin merusak keluarganya maka dia tidak akan bisa menerimanya.
"Nyonya apa tidak sebaiknya kita kembali apartemen saja?" ujar pengawal melihat majikannya dari kaca spion. "Tuan sangat membutuhkan Nyonya saat ini. Dia pasti butuh teman untuk bercerita tentang masalahnya ini."
"Ya, kau benar."
Mereka lalu membalikkan arah laju kendaraan. Menuju ke condonium. Sesampainya di sana, Deya tidak langsung turun dari mobil.
"Jangan katakan pada Tuan jika aku baru saja dari rumah Tuan. Itu akan menambah masalahnya."
"Baik, Nyonya," jawab kedua pengawal Deya. Wanita itu lantas keluar dari mobil dengan pengawalan mereka.
Deya baru saja membersihkan diri ketika panggilan masuk ke handphone miliknya. Itu dari adiknya berarti dari orang tuanya.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikum salam."
"Bagaimana kabar Ibu dan Ayah?"
"Kami baik saja, kami justru sedang khawatir padamu. Berita itu...." Ibu Ratmi terdengar menangis.
"Semua akan baik-baik saja, Bu. Kami akan mengatasinya dengan baik."
"Ini tidak semudah yang dibayangkan Deya."
"Aku tahu hanya saja aku akan bertahan demi Mas Edward."
"Deya, jika keluarga Edward tidak menerimamu bagaimana?"
"Asal Mas Ed masih membutuhkanku aku akan bertahan."
__ADS_1
"Jangan sampai merusak rumah tangga orang lain De, itu salah," sela Ayah Seto.
"Rumah tangga Mas Ed memang sudah bermasalah ketika Deya datang, istrinya bahkan sempat ingin bercerai dari Mas Edward," ujar Deya.
"Walau begitu kau jangan memperburuk permasalahan mereka. Kalau bisa kau menyatukan mereka," sela Ayah Seto merebut handphone dari tangan Bu Ratmi.
"Itu sudah Deya lakukan Pak, hanya saja wanita itu sangat mengesalkan."
"Itu wajar orang dia merasa suaminya direbut ya dia tidak terima, De," balas Bu Ratmi.
"Ibu benar. Yang jadi korban saat ini adalah Zahra."
"Nah itu, kau lihat kemarin kan, pertengkaran orang tuanya saja membuat dia tertekan apalagi kalau datang tekanan dari pihak luar. Ibu takut dia akan terpuruk padahal katamu dia sedang bangkit."
"Itulah Bu yang membuatku ragu untuk melangkah. Aku sama sekali tidak merasa bersalah pada istri Mas Edward tetapi aku merasa bersalah pada Zahra karena telah merebut perhatian Ayah-nya. Inginku Zahra ikut bersama kami, tetapi sepertinya anak itu ingin tetap bersama ibunya."
"Posisimu sungguh sulit, De."
"Minta doanya saja, Yah," ujar Deya lemas.
"Bu, kalau ngajari anakmu seperti itu juga salah. Poligami itu sah saja dilakukan," ungkap Ayah Seto
"Hanya saja jika adil. Nah ini jika Nak Edward condong ke Deya dan bermasalah dengan istrinya. Yang dirugikan di sini adalah Deya yang tidak tahu masalahnya ikut di seret dalam rumah tangga Nak Edward yang sudah rusak sebelumnya. Saran Ibu biarkan Nak Edward menyelesaikan dulu masalahnya dengan istri pertama mau lanjut atau tidak. Setelah itu baru hubungan dengan Deya dimulai kembali, " balas Ibu Ratmi
"Ayah tidak setuju. Seorang istri harus ada si samping suaminya saat suaminya merasa banyak masalah dan beban. Dia harus bisa menjadi obat penenang suaminya. Tempat suaminya bersandar dan menenangkan diri."
"Iya, Yah, Deya akan melakukan apa yang Ayah dan Ibu sarankan."
"Sudah dulu ya, De. Ibu masih ada pekerjaan lain."
"Oh ya De. Ayah ingin bilang kalau Nak Edward jangan sering memberi uang pada keluarga kita lagi. Kita sudah cukup bahagia jika melihat anak Ayah juga diberi hidup yang layak oleh suaminya. Tercukupi nafkah lahir dan batinnya," ucap Ayah Seto
"Mas, tidak pernah membicarakan hal itu dengan Deya. Deya malah tahunya dari Ayah dan Ibu. Deya sudah bilang jangan melakukan itu biar Deya sendiri saja tapi kata Mas, orang tua Deya juga orang tua Mas."
"Nak Edward memang pria bertanggung-jawab yang ideal. Kau beruntung memilikinya."
__ADS_1
"Iya, Bu."
Deya lantas memakai baju yang sedikit ketat. Entah mengapa dia ingin memakainya, Mungkin ingin membuat suaminya senang. Walau terasa tidak nyaman dia tetap menggunakannya.
Setelah itu Deya memasak makanan yang mudah. Membuat saos spagetti dan minuman bernama ice Lychee tea. Mienya akan dia masak nanti ketika sangat suami datang.
Deya sengaja mematikan handphonenya karena tidak ingin ada banyak pertanyaan masuk dari orang yang mengenal dirinya. Pertanyaan tentang video kebersamaannya dengan Edward. Prioritasnya kini adalah sang suami.
Lama Deya menunggu hingga sampai adzan maghrib tiba. Suaminya belum juga pulang. Akhirnya dia menjalankan ibadah sendiri. Meminta petunjuk dan jalan terbaik pada Yang Maha Kuasa.
Baru saja dia melipat mukena pintu kamar mulai terbuka. Wajah Edward nampak lesu dan tidak bersemangat. Rambutnya yang biasa rapih telah kusut. Deya menyambutnya mengambil tangan sang suami dan mencium setelah itu mengambil tas Edward. Membantunya meletakkan jas yang sudah di berada di tangan suaminya.
Edward duduk dengan lemas di pinggir ranjang menatap kosong ke depan. Dia sama sekali tidak memperhatikan penampilan Deya.
Deya hendak turun mengambilkan minum untuk suaminya namun Edward malah memeluknya dan meletakkan kepala di perut Deya. Memejamkan mata. Seperti yang Ayahnya katakan jika suaminya butuh sandaran dan ketenangan dan Deya harus bisa melakukannya.
Sejenak mereka terdiam. Hingga Deya mengucapkan sesuatu. "Mas bersihkan badan Mas terlebih dahulu trus sholat agar pikiran tenang."
Edward tersenyum mengangguk. Dia menengadahkan wajahnya. Deya tahu yang harus dia lakukan. Mencium kening suaminya dan mengecup bibirnya.
"Sebentar lagi isya, sana buru sholat aku akan buatkan kopi dan makan malam untuk kita."
Edward lantas melangkah ke kamar mandi tetapi sebelumnya dia membalikkan tubuh menatap istrinya. "Kau cantik dan seksi. Aku suka melihatmu seperti ini tetapi jangan perlihatkan di depan lelaki manapun."
Deya tersenyum manis ternyata suaminya juga memperhatikan penampilannya.
"Bajunya aku aku taruh di atas tempat tidur ya Mas. Eh aku belum memanaskan air tunggu," kata Deya hendak ke kamar mandi mendahului sang suami. Edward mencegahnya.
"Aku bisa sendiri, kau siapkan saja makanan yang lezat untukku. Aku sangat lapar tidak sempat makan siang tadi."
"Ck... kau harus perhatian dengan jam makanmu nanti sakit."
"Tak apa sakit ada istri yang akan merawatku luar dan dalam."
"Ih, Mas ini, suka mesum."
__ADS_1
Edward tidak bisa jika harus berpisah dengan Deya walau sekejap. Deya itu seperti nafas baginya untuk saat ini. Semangat hidupnya yang pernah layu.