Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 116 Sidang Penentuan


__ADS_3

"Kelainan yang diderita oleh Nyonya Soraya membuat menderita anaknya. Dulu, ketika pihak ketiga belum masuk ke dalam rumah tangga Tuan Edward, Nyonya Soraya mengabaikan anaknya dengan alasan tertekan dengan semua kewajiban yang ada. Dia ingin mencari hiburan untuk membuat hatinya gembira. Dengan pesta dan minum-minum dengan temannya meninggalkan anaknya yang saat itu sedang sakit lumpuh karena kecelakaan."


"Itu bohong!" teriak Soraya berdiri, tidak terima.


"Waktu untuk Anda bicara ada sendiri nanti," peringat panitera. Soraya lalu dibisiki oleh pengacaranya dan dia duduk kembali dengan wajah merah padam dan dada yang baik turun tidak beraturan. Sorot matanya tajam menatap Edward. Pria itu hanya tersenyum manis padanya sambil menggelengkan kepala pelan.


Soraya lalu memalingkan wajah kesal dan marah. Edward dan salah satu pengacaranya yang sedang duduk, tertawa tanpa suara. Mereka melakukan itu karena tahu siapa orang dibalik layar yang menyebarkan berita tidak benar tentang keluarga barunya terutama Deya. Puncak kekesalannya adalah ketika video Pertengkaran dengan Soraya ketika wanita itu mau mengambil Zahra di edit habis-habisan oleh kelompoknya, di sebarkan luas dan jadi trending topik dua hari yang lalu.


Di sana Deya terlihat seperti Ibu tiri kejam yang melarang Ibu kandung bertemu dengan anaknya. Edward ingin mengubah image itu dengan membuka semua masalah yang ada di depan umum.


"Zahra putri kandung mereka tertekan dengan keadaan itu. Tuan Edward memasukkan Deya untuk membangkitkan kembali semangatnya. Deya, wanita ketiga yang disebut sebagai pelakor itu, maaf Yang mulia, telah membangkitkan semangat kembali putri Tuan Edward sehingga mau menjalani terapi dan kembali bersekolah di tempat umum."


"Itu tidak benar, aku yang mengajaknya pergi terapi selama ini." Emosi Soraya mulai tidak terkontrol.


"Tenang... tenang... harap Anda duduk lagi di kursi Anda jika tidak saya akan menyuruh Anda keluar dari ruang sidang sekarang," peringatan panitera untuk kedua kali.


"Nona Zahra apakah yang saya katakan itu benar?" tanya Pengacara Edward.


"Ibu Deya datang sebagai pengasuh dan dia menjadi teman yang baik. Dia mengajakku untuk pergi ke sekolah dan mengatakan jika sekolah itu tempat yang menyenangkan. Padahal aku takut untuk ke sekolah karena punya pengalaman buruk. Ibu maksudku Ibu Deya menemaniku hingga aku terbiasa ke sekolah. Dia lantas membujukku untuk memulai terapi agar bisa berjalan dan aku setuju. Dia memberitahu Ibu jika aku sudah mau ikut terapi, semenjak itu Ibu sering mengajakku terapi."


"Apakah sebelumnya Ibumu tidak pernah mengajak pergi terapi?" tanya pengacara lagi.

__ADS_1


"Keberatan Yang mulia ini berbeda konteks pembicaraan. Kita akan bahas dengan penyakit yang diderita oleh Nyonya Soraya bukan tentang masalalu keluarganya," ujar pengacara Soraya.


"Ini nanti berkaitan Yang mulia jadi, mohon diijinkan untuk merunut cerita aslinya hingga terbuka semua kejadian."


"Baiklah, teruskan."


Pengacara Soraya duduk dengan lesu memangku kepala dengan tangan.


Pengacara Soraya kembali mengajukan pertanyaan yang sama.


Zahra merasa ragu untuk menjawab melihat ke arah Soraya. Bibirnya kemudian gemetar dan air matanya keluar. Dia menunduk, hanya isak tangisnya saja yang keluar dan itu membuat jawaban. Suasana hening seketika ikut merasakan apa yang Zahra pendam selama ini.


Edward memberi isyarat pada Pengacaranya untuk menyudahi pertanyaannya, dia tidak tega melihat anaknya menangis di depan umum.


"Satu lagi pertanyaan. Apakah Ibu kandungmu pernah melakukan kekerasan padamu jika iya sering kah dan seberapa parah?"


Zahra menatap ke arah Deya. Deya mengangguk sambil menyeka air matanya.


Zahra menarik nafasnya yang tersengal. "Ibu aku sangat menyayangi bukannya aku menceritakan ini karena marah atau membencimu tapi aku hanya ingin tinggal bersama dengan Ayah." Soraya juga ikut menangis.


"Ibu suka kelupaan jika marah lupa jika aku adalah anaknya jadi... jadi... mencubitku atau memukul atau kemarin mengurung ku ke dalam... hik... hik... kamar mandi karena aku tidak mau ikut ke sebuah acara penghargaan bergengsi. Ibu ingin aku meneruskan jejaknya tapi aku tidak mau. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin seperti anak lain yang punya waktu bermain dengan temannya dan juga keluarganya sedangkan Ibu memberiku banyak kegiatan agar terlihat menonjol dimata banyak orang. Ibu pikir itu baik untukku tetapi itu membuatku sedih dan tertekan," ucap Zahra serak seraya menatap Soraya dengan kesedihan yang tersirat di matanya.

__ADS_1


"Satu lagi, Nona Zahra, apakah kau senang tinggal dengan Ibu sambungmu?"


Kini giliran Edward yang deg-degan. Dia menatap Deya yang juga sedang melihat ke arahnya. Deya sendiri sudah pasrah dengan jawaban yang akan diberikan oleh Zahra. Entah itu baik atau buruk, itu sama saja yang penting Zahra senang.


"Ibu, Ibu Deya menjagaku dengan baik, seperti anaknya sendiri. Dia merawatku tanpa bantuan orang lain. Menyiapkan makan dengan tangannya sendiri dan mengantar jemput sekolahku juga menemaniku tidur. Dengan Ibu, aku merasa menjadi anak kecil lagi. Terkadang aku iri dengan Dafi, entah mengapa. Kami sering berebut perhatian Ibu. Terdengar lucu, tapi mungkin itu karena Ibu membuatku selalu senang karena merasa dimanja."


Semua menatap ke arah Deya. Deya sendiri merasa terharu dan menyeka air matanya. Setelah itu, Zahra diperbolehkan kembali ke tempat duduknya. Deya berdiri menyambut, memeluk Zahra dan mencium pipinya.


Edward berkaca-kaca ketika melihat pemandangan itu. Dia tidak mengira begitu banyak masalah yang menimpa anaknya selama tiga tahun ini dan bodohnya, dia tidak tahu akan hal itu. Ayah macam apa dirinya? Rasa sesal dan bersalah menyesakkan dadanya karena terlalu terlena dengan kesedihannya sehingga mengabaikan anaknya dan tidak melihat penderitaan Zahra. Dia berjanji akan membalas semua penderitaan Zahra dengan perhatiannya berusaha untuk selalu membuat anaknya bahagia.


Hal baik dari itu semua adalah kehadiran Deya yang obat dari semua masalah di keluarga. Dia bersyukur karena wanita itu mau datang kembali menerangi serta mewarnai kehidupannya dengan Zahra.


Sidang selesai setelah Dokter Franda datang dan memberikan kesaksiannya. Membuat pihak Soraya semakin terpojok dan malu.


Edward langsung menemui keluarganya setelah hakim keluar dari ruang sidang.


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Edward pada Zahra, mengusap kepalanya, tanda sayang. Anak itu mengangguk. Di saat yang sama Soraya terlihat lewat di sisi yang lain, melihat ke arah mereka. Tidak ada pembicaraan tapi dari sorot matanya menggambarkan rasa kecewa yang teramat sangat pada Zahra. Zahra hanya menunduk. Deya mendekap Zahra dan mengusap kepalanya. Tatapan matanya bertemu dengan Soraya dan mereka saling beradu pandang hingga wanita itu keluar dari ruang sidang.


"Apakah Ibuku akan membenciku?" tanya Zahra pada Deya.


"Seorang Ibu tidak akan pernah bisa membenci anaknya karena seorang anak adalah darah dagingnya, hatinya selalu ada untukmu. Sekarang mungkin ibumu sedikit kecewa tetapi percayalah, dia akan kembali menyayangimu seperti dulu bahkan lebih."

__ADS_1


__ADS_2