Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 104 Anak Sendiri


__ADS_3

Mereka akhirnya bicara di ruang keluarga agar tidak mengganggu tidur Dafi.


"Masalah perceraianmu dengan Soraya, kami tidak akan mencampurinya. Kami tahu jika kau dan dia sudah tidak ada kecocokan lagi. Di pertahankan pun hanya akan membuat kalian saling menyakiti."


Mama Claudia hanya terdiam, menunduk. Sesekali menatap Deya dengan penuh penyesalan. Dia sudah melihat bagaimana hancurnya Edward tanpa Deya. Sangat sulit untuk ditemui. Bahkan sampai berbulan-bulan lamanya. Sekali bertemu Edward nampak acuh, tidak marah tetapi lebih mendiamkan.


Terbesit dalam pikirannya jika sebenarnya Edward tahu jika dia pernah menemui Deya dan memintanya pergi. Namun, andaikata iya, Edward seharusnya menegur bukan bersikap dingin pada ibunya.


Rasa syukur hinggap di hati Mama Claudia karena Edward akhirnya mau lagi menjejakkan kaki di rumah orang tuanya. Selama ini jika ada acara dia selalu tidak datang dengan berbagai alasan. Hal itu sempat di singgung oleh suaminya, apakah Edward marah pada mereka sehingga seperti pergi menjauh? Mama Claudia menjawab tidak tahu.


"Kalian tidak tahu betapa terpukul nya aku ketika tahu Deya pergi. Aku mencari alasan dibaliknya." Edward menatap ke arah ibunya.


"Ingin aku marah, tetapi itu tidak bisa menyelesaikan masalah karena Deya juga tidak akan kembali dengan kemarahanku."


"Apa maksudmu?" tanya Papa Adam mengernyitkan dahi. "Kau tidak sedang menuduh kami kan?"


"Aku rasa Ibu tahu apa yang ku maksud."


Semua mata menatap ke arah Mama Claudia. Netranya merebak seketika.


"Aku pergi karena keinginanku sendiri, kau jangan menyalahkan orang lain," potong Deya. "Kau tahu aku tertekan dengan semua keadaan itu. Jika dipaksakan pun aku sepertinya tidak bisa bertahan. Aku bukan wanita kejam yang akan mengambil seorang ayah dari anaknya karena aku tahu pentingnya kehadiran seorang ayah bagi anaknya."

__ADS_1


"Kalau kau tahu tentang pentingnya kehadiran seorang ayah dalam hidup anaknya, mengapa kau menjauhkan aku dari Dafi?"


Mata Deya berubah menjadi nanar seketika. Dia memalingkan wajah ke samping seraya mengigit bibirnya keras untuk menahan gejolak perasaan yang ada.


Edward memegang bahu Deya sehingga wajah wanita itu menghadap ke arahnya. "Deya, kau tidak bisa terus diam dan menghancurkan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain. Kau harus bicara padaku dulu sebelum mengambil sikap atau tindakan. Kita atasi semua masalah bersama dan temukan jalan keluar. Bukannya pergi dan menghilang begitu saja tanpa kabar."


"Jangan salahkan Deya, semua salah Ibu yang memintanya untuk mengalah." Mendadak suasana terasa hening. Hanya ******* keras nafas Papa Adam yang terdengar.


"Mereka telah dewasa untuk apa kau ikut campur urusan rumah tangga anakmu! Aku tidak pernah menyarankan kau melakukan itu!" ucap Papa Adam dengan penuh kekecewaan.


"Mama tidak menyuruh, Mama hanya mengajakku diskusi tentang apa yang harus kami lakukan agar semua baik-baik saja," bela Deya yang tidak ingin masalah menjadi runyam kembali.


Edward sendiri berpikir lain. Kali ini dia harus meluruskan semua permasalahan yang ada.


Deya menatap ke arah Edward dengan ekspresi terkejut. "Perkataan ibu menghancurkan hatiku tetapi aku sadar apa yang dia katakan benar. Oleh karena itu aku membiarkanmu pergi untuk sementara waktu. Setelah setahun, aku mencarimu lagi, tetapi kau sudah tidak ada di tempat itu."


"Aku ingin menyalahkan keadaan yang memisahkan kami. Kecewa berat dengan Mama yang menyuruh Deya pergi. Andai waktu itu Mama tidak mengatakan hal itu, mungkin kami tidak akan berpisah selama ini. Deya tidak akan menjalani kehamilannya seorang diri. Dafi tidak akan terlahir tanpa seorang Ayah di sisinya dan aku tidak akan menderita karena berjauhan dari orang yang aku cintai," ungkap Edward panjang lebar.


"Maafkan Mama Edward, waktu itu Mama hanya berpikir jika Deya pergi semua masalah mu akan teratasi."


"Itu salah Mama yang menganggap Deya sebagai biang masalah padahal permasalahan sebenarnya ada pada diri Soraya. Mama tahu sebab sampai saat ini aku tidak menceraikan Soraya?"

__ADS_1


"Aku ingin dia sadar bahwa kami memang berbeda dan tidak bisa bersatu walau dipaksakan bagaimanapun juga. Aku ingin dia menyerah dengan kegilaannya dan mencari kebahagiaannya sendiri. Sebenarnya dari awal menikah kami sudah berbeda hanya saja aku terlalu menutup mata pada kenyataan yang ada, aku mengira begitu mencintainya hingga tidak bisa hidup tanpanya. Aku begitu mempercayainya, sayangnya dia malah menodai cinta dan kepercayaanku. Dia menginjak-injak harga diriku sebagai suami serta seorang lelaki dengan bermain gila bersama sahabatku sendiri. Sampai kapan pun aku tidak akan bisa menerimanya lagi walau Zahra yang memintanya," tegas Edward keras.


"Bukan karena aku tidak menyayangi Zahra, tetapi aku sadar bahwa Soraya bukan ibu yang baik untuknya. Dia hanya akan memberi pengaruh buruk pada Zahra. Walau begitu aku tidak kuasa melarang seorang anak untuk tinggal bersama dengan ibunya."


"Sekarang setelah Deya dan Dafi kembali aku kembali mengurus perceraianku agar kehidupan rumah tangga kami tenang. Jadi aku minta dengan sangat terutama Ibu untuk merestui hubungan kami. Agar ke depan hal yang telah lalu tidak terjadi lagi."


"Maafkan Ibu, Nak," ucap Mama Claudia terisak mengusap air matanya. Dia sudah tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi.


"Mas," panggil Deya lirih hampir tidak terdengar lalu menggelengkan kepala.


"Ed sudah memaafkan Mama karena Mama adalah orang yang melahirkan dan membesarkanku," ucap Edward lembut. Bangkit lalu bersimpuh di kaki ibunya dengan kepala berada di pahanya.


"Ma, Edward lelah dengan semua ini. Ed harap Mama mau mengerti bahwa kebahagiaan Ed bersama dengan Deya."


"Mama kira Deya hanya pelampiasan nafsumu saja bukan wanita berharga yang kau perjuangkan. Jadi kepergiannya bukan masalah bagimu. Ternyata salah, kau marah dalam diam dan Mama tidak mengerti. Maafkan Mama, Sayang." Mama Claudia memeluk balik Edward.


"Deya, Mama mohon, maafkan Mama yang melakukan kesalahan fatal karena berusaha memisahkan kau dan Edward. Mama tahu kau wanita yang baik setelah tahu kau rela pergi meninggalkan kebahagiaanmu demi Zahra yang bukan darah dagingmu."


"Anak Mas adalah anakku juga, itu yang ayah dan ibuku ajarkan, Ma."


Semua orang menatap Deya dengan kagum akan pemikirannya.

__ADS_1


"Orang tuamu memang hebat dalam mendidik. Pendidikan dan status sosial yang tinggi tidak menjamin bahwa orang itu mempunyai akhlak dan kepribadian yang baik. Namun, orang tua yang baik akan menghasilkan anak yang baik pula," ucap Papa Adam. "Kali ini kau tidak salah memilih calon istri. Semoga ke depannya rumah tangga kalian akan semakin kuat dan tentram."


__ADS_2