
"Dia tidak melakukan apapun hanya kunjungan biasa dan ingin minta maaf padaku."
Edward tertawa sinis. "Ingin minta maaf padamu, tidak salah?"
"Tidak Mas, dia kemari memang ingin minta maaf."
"Kau jangan terlalu percaya padanya, dia itu terlalu pandai memanipulasi."
Edward bangkit mengambil botol jus di lemari pendingin. Sedangkan Deya merapikan bekas makan mereka.
"Mas, apa salah jika orang itu ingin berubah."
"Tidak ada yang salah tetapi jika kau memberi kesempatan pada Soraya kau pasti akan kalah."
"Maksud Mas?" Deya meletakkan piring bekas makan ke wastafel.
"Jujur dulu padaku, apa yang dia katakan padamu?" kata Edward berdiri di pinggir meja dapur menyaksikan istrinya mencuci bekas makanan.
"Hanya itu," jawab Deya tanpa mau melihat ke arah Edward.
"Kalau bicara tatap matanya Deya."
__ADS_1
Deya menghentikan pekerjaannya, mulai merangkai kata. Tidak mudah membohongi suaminya. Dia terlalu pandai untuk menebak suasana yang ada.
"Kau tahu jika berbohong pada suami itu dosa."
"Dia tidak ingin berpisah dengan Mas."
"Hanya itu?" Edward menatapnya tajam seperti meneliti jauh ke dalam hatinya. Membuat Deya tidak berdaya. Dia kembali meneruskan pekerjaannya.
"Zahra tidak ingin kalian berpisah."
"Aku sudah menyangkanya.''
" Mas, aku mohon jika itu kau lakukan kita bisa hidup bersama dengan bahagia. Aku juga merasa tenang karena statusku akan jelas tanpa harus menyakiti hati siapapun."
"Kau memang tidak mau memilikiku seutuhnya?" tanya Edward merapikan rambut yang ada di wajah Deya.
"Aku ingin tetapi aku tidak boleh egois. Dari awal aku yang datang menjadi ketiga tidak mungkin aku menutup mata ketika istri dan anakmu datang untuk meminta berbagi dirimu."
"Kau pikir semua akan bahagia jika kita melakukannya?"
"Ya, semua akan membaik dan tenang."
__ADS_1
"Baiklah kita lakukan apa yang kau pikirkan agar kau belajar bagaimana harus menghadapi orang di sekitarmu. Kau harus berjuang untuk dirimu sendiri karena aku juga tidak bisa selalu berada di sisimu."
"Maksud, Mas?"
"Kita akan mengikuti semua yang kau mau hingga kau sendiri yang akan memilih akan tetap melanjutkan ini atau tidak. Kau harus belajar untuk membaca situasi dan mengatasi semua masalah yang ada. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan hati. Kita juga harus pakai insting dan logika."
"Mas kok begitu selalu berpikir buruk pada Mba Aya."
''Aku sudah bersamanya lebih dari 11 tahun bahkan hampir tiga belas tahun kami bersama jadi aku yang lebih tahu sifatnya dibanding dirimu."
"Apakah ada yang Mas sembunyikan."
"Jika kau pandai kau harus menemukan jawaban mengapa aku kekeh tidak mau Soraya kembali pada hidupku."
"Mas."
"Itu tantangannya. Kau punya uang dan anak buah yang bisa kau mintai tolong. Jangan hanya disimpan saja nanti menjamur."
"Menjadi istri presdir itu tidak mudah Deya, jika kau salah langkah maka kau akan jatuh dan sekarang kau harus mulai pandai memposisikan dirimu. Mulai kini kau harus belajar semuanya agar tidak mudah dimanipulasi oleh orang."
"Mas," lirih Deya yang tidak menyangka dengan tanggapan Edward. Dia terlihat santai menanggapi semuanya. Deya sendiri yang harus memutar otak untuk mencerna perkawinan Edward.
__ADS_1
Satu kalimat dari Edward, 'Mulai kini kau harus pandai memposisikan dirimu sebagai istri seorang Presdir membuat hati Deya berbunga. Dia tahu niat baik Edward yang ingin mengenalkannya sebagai istri di depan semua orang. Edward memang terlihat sangat peduli padanya, bukan hanya soal finansial tetapi juga soal masa depannya nanti. Sesuatu yang belum dia pikirkan sudah pria itu pikirkan.
Lalu apa yang kurang dari suaminya? Tidak ada. Semakin hari semakin bertambah kagum dirinya pada sosok ini.