Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 35 Tragedi Mencekam


__ADS_3

Deya pergi keluar rooftop untuk mencari udara segar. Di dalam gedung nafasnya terasa sesak. Dia sebenarnya lelah dengan pertengkaran ini yang bukannya membaik malah semakin bertambah parah saja. Kini, Edward malah salah faham lagi padanya karena kedatangan Mario.


Setelah merasa tenang Deya kembali ke ruangannya dan bertanya pada Katrine, pekerjaan apa yang bisa dia kerjakan. Katrine memberikan beberapa pekerjaan pentingnya yang harus selesai sebelum besok. Ini akhir bulan jadi ada banyak laporan yang harus dibuat dan dicek dulu sebelum diberikan kepada Presdir. Deya kebagian membuat laporan yang sudah ada contoh formatnya tinggal ketik memasukkan angka dan selesai.


Namun, semua tidak semudah yang terlihat. Katrine ikut dengan Edward menemui klien di luar. Deya ditinggal sendiri di ruangan itu. Ada juga beberapa pegawai lain hanya saja berada sedikit jauh darinya.


Larut dengan pekerjaannya membuat Deya lupa dengan waktu. Kesibukannya itu membuat dia tidak mengingat pertengkaran dengan Edward. Dia tidak sadar ketika semua pegawai sudah berangsur mulai meninggalkan kantor.


"Mba, kok belum pulang?" tanya seorang penjaga yang berkeliling.


Deya lalu melihat sekitar dan jam tangannya. Sudah hampir jam tujuh malam.


"Ini mau pulang, Pak," jawab Deya.


"Kalau begitu saya keliling dulu ke sekitar, Mba," kata penjaga itu.


Satu persatu, barang mulai dimasukkan ke dalam tasnya. Deya melihat keadaan sekitar yang sepi dan gelap hanya ada beberapa lampu saja yang menyala. Sepertinya ada yang sedang lembur juga, dia jadi tidak merasa sendiri.


Suara langkah kaki Deya menggema di seluruh lantai membuat bulu kuduk seketika meremang. Deya mulai merasa ada yang salah, seperti ada yang mengikuti, tetapi ketika dia mencari tidak ada orang lain selain dirinya.


Tiba-tiba instingnya menyuruh waspada. Dia berjalan semakin cepat ke arah pintu lift. Ketika dia hendak memencet tombol lift, seseorang membekap nya dari belakang.


Tubuhnya diseret ke belakang. Deya meronta dan melawan tetapi tenaganya tidak sekuat itu untuk melawan tubuh besar seorang pria.


Deya di seret hingga sepatunya terlepas dari kakinya. Dipaksa masuk ke sebuah ruangan. Lalu dilempar ke sebuah sofa.


"Kau... mau apa kau?" tanya Deya mundur ke sudut sofa.


"Mau kau, sejak dari awal aku melihatmu aku memang sudah tertarik padamu. Sekarang katakan berapa bayaranmu agar bisa memuaskan aku!'' tanya Mario. Deya hendak berlari ke arah pintu tetapi Mario menutup dan menguncinya.


"Kau jangan berani sentuh aku!" teriak Deya.

__ADS_1


"Kenapa tidak boleh, bukankah kau itu wanita bayaran yang mau disentuh pria asal ada bayarannya?"


"Aku bukan wanita seperti itu. Kau lihat cincin yang melingkar, ini adalah bukti jika aku sudah menjadi istri seseorang!"


"Sekali ****** tetap ******! Walau kau memakai pakaian suci sekalipun aku tidak percaya. Aku yakin kau ada di sini karena bantuan Edward dan itu tidak gratis kan? Ha... ha... aku bisa membayarmu lebih darinya. Katakan berapa maumu!" Mario telah kalap, dia mendekat ke arah Deya dan hendak menerkam nya, tetapi Deya mengelak dengan cepat.


"Tolong! Siapapun di sana tolong aku!" teriak Deya.


"Tidak ada yang akan mendengarmu karena ruangan ini kedap suara." Mario mulai menarik blazer Deya sehingga terlepas.


"Kau tambah seksi dan cantik saja, aku tidak sabar menikmati indahnya tubuhmu." Mario yang dalam pengaruh Alkohol menjilati bibirnya. Tangannya berusaha menggapai tubuh Deya tetapi Deya selalu berkelit. Dia juga melawan dengan melemparkan apa saja yang ada di dekatnya.


Rasa takut dan cemas sudah merasuki tubuhnya dia melawan Mario sebisa dia. Baju bagian depannya mulai ditarik oleh Mario hingga sobek.


"Jangan kumohon!" pinta Dey terisak memegang menutupi bagian depan tubuhnya yang terekspos.


"Aku sudah mengira jika buah kembarmu itu besar asli." Mata Mario membesar, pupil nya mulai menggelap tanda gairah sudah di ujung otak. Mario segera memeluk Deya dan mulai menciumi nya dengan brutal. Tubuhnya memeluk Deya dengan erat dan menekannya pada dinding ruangan.


Sedangkan di tempat lain Edward merasa cemas tanpa sebab karena Deya belum juga pulang ke apartemen. Dia tadi mampir karena merasa bersalah telah menuduhnya macam-macam. Ingin agar mereka bisa meluruskan masalah yang ada.


"Apakah dia sudah keluar gedung?" tanya Edward. Penjaga itu saling melempar tatapan dan menggelengkan kepala.


"Terakhir saya lihat Mba Deya masih di atas katanya mau langsung pulang tetapi sampai sekarang belum terlihat keluar juga."


Edward langsung naik ke lantai atas ruangannya. Ada rasa tidak enak dan firasat telah terjadi hal buruk dengan Deya. Pintu lift mulai terbuka.


"Deya! De... Deya!" panggil Edward namun tidak ada sahutan.


"Lihat itu, Pak!" tunjuk penjaga yang ikut bersamanya pada sebuah sepatu yang tergeletak di lantai.


"Itu sepatu, Deya." Edward langsung mengambilnya. Ketakutannya sepertinya beralasan. Dia lalu melihat ke sekitar, dadanya mulai berdegub dengan kencang, matanya yang tajam menyoroti setiap sisi ruangan dari lantai ini. Dia melihat ada satu ruangan yang masih menyala.

__ADS_1


"Kita kesana," ajak Edward pada para penjaga.


Brak!


Pintu didobrak. Edward terkejut melihat keadaan Deya yang sedang ditindih oleh Mario. Wajahnya nampak kacau dan basah. Tangisnya pecah dan keras ketika melihat Edward.


Tanpa banyak kata Edward langsung menghajar Mario. Lalu melepaskan jaketnya untuk menutupi tubuh Deya yang terbuka.


"Apa yang kau lakukan padanya!" teriak Edward kesal sambil memukul Mario lagi hingga babak belur.


"Untuk apa kau bela wanita murahan itu, pekerjaannya memang untuk memuaskan nafsu semua pria!" Bukannya menghentikan aksinya Edward malah tambah keras memukul Mario. Wajah pria itu sudah tidak berbentuk dan banyak luka memar yang terlihat di tubuhnya.


"Untuk apa kau bela pela*** sialan itu !" Mario mencoba menghindari serangan Edward.


"Kau yang sialan, bre.... engga sek. Dia itu wanita baik-baik!" teriak Edward.


"Ha.... ha.... kau bercanda, kau sendiri sudah mencicipinya. Kini biarkan aku yang ikut merasakannya."


"Kalau kau sentuh dia lagi, seujung kuku saja aku akan membunuhmu dan melupakan jika kita pernah berteman!"


"Apa karena kau belum puas dengannya hingga kau melarang? , kalau begitu aku akan menunggu hingga kau bosan dengannya!" ejek Mario.


Edward hendak memukul lagi tapi tangannya dipegang oleh dua penjaga.


"Tuan jangan lagi kalau tidak dia bisa masuk rumah sakit."


"Aku tidak peduli dia masuk rumah sakit atau sekali ke liang lahat. Aku ingin merobek mulutnya dan mencabik tubuhnya."


"Tuan, lihat, kasihan Mbak Deya yang ketakutan." Edward lalu menoleh melihat Deya yang meringkuk sambil menangis.


Edward lantas pergi mendekat ke arahnya. Deya langsung memeluk Edward erat dan menangis keras. Edward memeluk tubuh rapuh dan gemetar milik Deya. Netranya menginginkan perlindungan dari Edward.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja. Sekarang, kita pulang ke rumah." Edward menggendong tubuh Deya keluar ruangan itu dengan lembut dan penuh perasaan. Deya sendiri memasukkan wajahnya ke dada Edward dan memeluk lehernya dengan erat. Seolah mencari perlindungan dalam pelukan itu.


Mario menatap nanar kepergian mereka. Dia ingat jika Deya mengatakan sudah menikah. Kata pulang terasa menggelitik pikiran Mario. Apakah Edward suaminya?


__ADS_2