
"Aku tahu perasaanmu, hanya saja belum tentu Soraya kembali lagi kemari."
"Kalau kembali lagi kemari, aku ingin kembali ke hunianku," pinta Deya.
"Apapun yang kau inginkan," kata Edward. "Hanya saja aku heran padamu."
"Heran apa?"
"Kenapa yang kuberikan lewat bank tidak pernah kau gunakan?"
"Untuk apa? Kau sudah mencukupi semuanya sehingga aku tidak butuh apa-apa lagi."
"Apakah kau tidak ingin belanja keperluanmu?"
"Semua sudah ada, baju, tas, sepatu hingga kosmetik sudah kau siapkan, jadi untuk apa membeli yang tidak perlu."
"Kau tahu alasanku memberi uang cash setiap kali pergi dari condonium?"
"Bukan karena aku ingin membayar atas semua pelayanan yang kau berikan. Aku hanya khawatir kau tidak memegang uang karena tidak mau memakai kartu yang kuberikan."
"Kau juga menolak kendaraan yang kubelikan."
"Aku tidak bisa mengendarainya, lagipula aku nyaman dengan kehidupanku yang biasa saja."
Edward menatap Deya dengan kagum. Dia terkesan dengan Deya yang sederhana tidak neko-neko walau semuanya sudah ada di depan mata. Walau ada banyak uang, dia tidak berubah sedikit pun.
"Hingga aku merasa kau tidak membutuhkan aku," lanjut Edward.
"Aku membutuhkanmu," Deya masuk ke dalam pelukan Edward bersandar di dadanya.
"Kalau begitu sekali saja katakan yang kau inginkan."
"Sungguh?"
"Ya," jawab Edward.
"Aku hanya ingin masuk ke sini walau sedikit saja sehingga aku punya tempat di hatimu."
"Sebelum kau meminta aku sudah, memberikan hatiku padamu. Apa kau tidak merasakannya?" ujar Edward.
"Kau tahu, aku begitu menahan hatiku agar tidak jatuh cinta padamu, aku takut terluka."
"Jangan kau tahan karena aku akan menjagamu dengan hatiku," jawab Edward.
"Aku takut kau pergi dan memilih hidup bahagia bersama keluargamu."
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri."
"Bagaimana jika keluargamu ingin kau meninggalkan aku? Ayahmu, Ibumu dan Zahra?"
__ADS_1
"Aku tetap akan mempertahankanmu," jawab Edward tegas. Deya menegakkan tubuhnya sehingga kepalanya berada di atas Edward. Hidung mereka saling bersentuhan dan tatapan mereka saling mengunci. Tangannya berada di kedua bahu Edward.
"Sungguh? Kata orang, mulut pria itu pandai berbohong."
"Demi Tuhan, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi, walau kau yang meminta pergi karena aku merasa kau sendiri yang tidak akan kuat menerima semua cobaan yang akan menerpa."
"Kenapa kau merasa seperti itu?"
"Banyak hal yang menjadi penyebabnya, salah satunya kau masih sangat muda belum tentu kuat menahan semua tekanan yang ada jika semua kebenaran dari hubungan kita terungkap."
"Kuat asalkan kau selalu menopang ku di saat aku butuh dirimu," balas Deya. Tangannya mulai membuka kaos yang di pakai Edward.
"De, kau selalu meminum obatmu kan?" tanya Edward.
"Iya kenapa?"
"Apakah kau tidak ingin hamil anakku?" tanya Edward yang membuat Deya bingung.
"De?"
"Aku belum siap hamil, hubungan kita belum. pasti dan belum resmi."
"Aku ingin kau hamil agar kau tidak bisa pergi dariku."
"Mas, aku masih kuliah juga. Aku ingin punya masa depan yang cerah. Aku tidak ingin disepelekan orang hanya karena aku cuma lulusan SMU saja."
"Lagipula kau sudah punya Zahra."
"Jika kau hamil anakku lagi, kedua orang tuaku pasti akan merestui hubungan kita."
"Mas, aku belum siap, beri aku waktu setidaknya sampai lulus kuliah."
"Baiklah, aku akan menunggunya," ucap Edward terdengar kecewa.
"Maaf." Deya menciumi bibir Edward berkali-kali.
Edward tersenyum dia lalu memeluk Deya dan gantian menghisap leher wanita itu.
***
Pagi sekali Zahra sudah diantar oleh Soraya ke rumahnya. Wanita itu langsung masuk ke dalam rumah dan duduk di sebelah Edward yang sedang sarapan pagi.
"Pagi," sapa Soraya hendak mencium pipi Edward. Edward hendak mengelak tapi melihat Zahra sedang melihat ke arah mereka. Dia lantas diam saja. Dia sempat melihat Deya melintas menatapnya.
Soraya yang merasa Edward bersikap dingin padanya hanya tersenyum canggung.
"Aku membuatkanmu sandwich telur ala Perancis kesukaanmu," ucap Soraya membuka kotak makan yang dia bawa.
"Itu enak, Yah. Aku juga sudah makan dua tadi di jalan."
__ADS_1
"Sejak kapan kau mau ke dapur?" balas Edward menohok hati Soraya.
"Aku sedikit belajar, tapi ini enak lho."
"Maaf, aku sudah selesai makan."
"Mungkin bisa kau bawa kerja," kata Soraya penuh harap.
"Aku nanti ada pertemuan di luar dengan klien dan makan di sana pula. Jadi tidak perlu membawa bekal. Biar di simpan saja untuk Zahra jika masih mau atau untuk orang belakang."
Edward seperti memberi penghalang tinggi bagi hubungan mereka sekarang. Terlihat sangat marah dan kecewa walau tidak dia katakan dengan lugas. Edward pun tidak mau menatap mata Soraya.
"Zahra kau sudah siap atau belum?" tanya Edward.
"Sudah Yah," jawab Zahra.
"Mana Deya," panggil Edward mencari Deya.
"Aku ada di sini, Tuan," jawab Deya mendekat.
"Kau sudah siapkan semua perlengkapan Zahra?"
"Ini sudah, sekalian bekal dan minumnya." Deya memperlihatkan tas yang dia bawa.
"Kita berangkat kalau begitu," ucap Edward mengabaikan Soraya.
"Bu, aku berangkat dulu," pamit Zahra. Soraya mendekat dan mencium kening Zahra. Mengantarkan Zahra hingga ke mobil. Deya sendiri berjalan di belang keluarga kecil itu.
Sampai di luar, Deya melihat Edward belum memakai jam tangannya.
"Mas, eh Tuan Edward, Anda belum memakai jam tangan," ujar Deya mengutuk mulutnya sendiri karena memanggil suaminya dengan 'Mas' di depan istri sahnya. Dia menggigit lidahnya sendiri berharap tidak ada yang mendengar.
Edward melihat tangannya. "Kau benar, aku lupa. Aku meninggalkannya di kamar. Ambilkan."
Kamar di maksud adalah kamar Deya. Wanita itu menelan salivanya dengan sulit, dia menggenggam tali tas ditangannya dengan erat. Soraya menatap ke arah Deya dengan banyak pertanyaan.
"Maksudku biar Mr.Lee yang mengambilkan."
"Baik Tuan," kata Mr Lee.
"Biar aku saja," ujar Soraya mencegah Mr Lee pergi.
Deya nampak lega. Dia lalu masuk ke dalam mobil bersama dengan Zahra. Edward memilih duduk di depan bersama dengan sopir.
Soraya lantas bergerak mendekat mobil Edward membuka pintunya.
"Biar aku yang pakaikan." Soraya hendak mengambil tangan Edward tapi pria itu mengambil jam tangannya.
"Aku sendiri saja, ini sudah terlambat," tolak Edward. Soraya mundur dan pintu mobil lantas ditutup. Dia melihat Deya sedang duduk disebelah Zahra merapikan rambut anak itu.
__ADS_1
"Ibu aku pergi dulu, sampai ketemu lagi nanti siang, dadah...." seru Zahra tatkala mobil mulai berjalan pergi meninggalkan rumah.
Soraya menatap nanar kepergian mobil itu. Dia merasa ada yang salah tapi mungkin itu hanya pikirannya saja.