Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 67 Belum Mencinta


__ADS_3

Deya baru selesai mandi ketika pintu kamarnya terbuka. Kepala suaminya melongok masuk ke dalam. Tersenyum lebar dengan nakal, baru masuk ke dalam.


"Sudah pulang, Mas. Kok cepat," ujar Deya meraih tangan Edward dan menciumnya. Pria itu menarik tubuh Deya mendekat memeluknya dan mencium kulit leher Deya yang masih basah dan dingin.


"Istri siapa ini yang sudah wangi," ujar Edward dengan nada gemas kekanak-kanakan.


"Ih geli, Mas."


"Geli atau enak."


"Aku sudah masak udang lobster kesukaan, Mas," ucap Deya mendorong tubuh Edward setelah mendapat serangan bertubi dari suaminya.


"Aku mau kamu saja?" ungkap Edward dengan nafas memburu, tubuh kecil Deya diangkat dan dibaringkan ke ranjang.


"Mas, bersih-bersih dulu, ehm bau, lagi pula sebentar lagi sholat maghrib," kilah Deya menghindar.


"Edward lantas melihat jam di dinding. Pukul lima lebih lima belas. Wajahnya yang sudah memerah kini ditekuk beringsut turun dari tubuh Deya yang sudah tanpa penutup karena handuk yang dia pakai sudah tersingkap.


"Ck... sebentar saja."


"Nanti malah sampai maghrib," bujuk Deya menarik handuk untuk menutupi tubuhnya lagi. Tersenyum ketika mendengar gerutuan Edward. Dia cepat-cepat memakai baju setelah Edward masuk ke kamar mandi. Pergi ke bawah untuk membuatkan suaminya minum. Setelah itu membawa kopi ke kamar.


Edward telah selesai mandi ketika Deya masuk. Deya langsung meletakkan kopi diatas meja dan mengambil baju untuk suaminya. Membantu mengeringkan rambut suaminya dengan handuk kecil.


Edward duduk menikmati pelayanan yang Deya berikan. Dia tersenyum menatap Deya dari cermin. Deya nya begitu sempurna di mata Edward. Selalu memberikan yang terbaik dalam mengurusnya bahkan hal detail selalu diperhatikan oleh Deya. Selain itu, Deya cantik dan imut serta tidak membosankan. Ingin rasanya Edward mengurung dia di apartemen ini setiap waktu takut jika suatu saat ada pria yang menatap kesempurnaan istrinya itu. Dia takut kejadian Soraya terjadi lagi pada Deya. Apalagi jarak umur keduanya terbentang jauh. Bisa saja wanita itu lebih memilih pria yang seumuran dengannya suatu saat nanti.


"Kenapa, Mas?"


"Tidak apa-apa."

__ADS_1


Edward lalu membalikkan tubuhnya memeluk Deya dengan menyandarkan kepala di perut wanita itu.


"Baby boy ayah sudah ada di dalam belum?" tanyanya membuat geli hati Deya. Kini dia tidak takut lagi hamil karena sudah mendapat restu dari Soraya dan Zahra.


"Ayah berdoa saja pada Alloh ya, biar baby boy segera datang," jawab Deya dengan suara seperti seorang anak kecil. Edward menengadahkan kepala menatap Deya.


"Kau setuju untuk hamil?"


"Bagaimana tidak setuju jika Ayahnya terus saja memanggilnya setiap saat."


Edward bangkit lalu memeluk Deya. "Terima kasih sayang," ungkapnya tulus.


"Tapi bagaimana jika bukan baby boy," tanya Deya.


"Aku yakin calon anakku akan lelaki, InsyaAllah. Namun, andai seorang gadis cilik aku pun tidak keberatan. Apa saja yang penting kau mau mengandung anakku itu sudah cukup." Nampak wajah puas yang terpancar dari mata yang berkilat dari Edward. Hal itu membuat Deya ikut merasa senang. Suaminya memang benar-benar ingin seorang anak darinya apapun kelamin anak itu. Perkataan Edward yang ingin mensahkan hubungan mereka memang benar adanya bukan hanya sekedar janji manis saja.


'Kau tahu mengapa aku ingin kau segera hamil Deya, agar kau tetap berada di sampingku dan tidak pergi-pergi lagi karena ada pengikat antara kita. Dia yang akan menjadi sebab kau berada di sisiku. Selamanya, kau menjadi milikku."


'Ya, Tuhan aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hanya saja jangan pernah kau hancurkan rumah tanggaku lagi. Hatiku sudah pernah hancur dan terluka lalu kau datang dan berikan obat untuk luka itu. Oleh sebab itu, ridhoi pernikahan kami dunia hingga ke akhirat. Serta cepat hadirkan seorang anak pada kami, ' Doa Edward dalam hatinya.


'Ya Tuhan, apakah jalan yang kutempuh ini benar walau awalnya salah? Jika iya maka permudah segalanya dan mantapkan hatiku untuk bisa berjalan beriringan bersama suamiku. Hadir rasa cinta di hatiku untuknya sebesar dia mencintaiku. Aku tidak ingin membuat dia kecewa karena aku tahu dia sangat menyayangiku dan aku sangat menghormatinya.'


Edward membalikkan tubuhnya seusai sholat. Dia lalu mengulurkan tangan dan disambut oleh Deya. Lalu mengecup kening wanita itu dalam.


"Kata orang tidak boleh mencintai sesuatu hal terlalu besar tetapi entah mengapa kau telah menarikku terlalu dalam jauh ke dalam hatimu. Aku sadar satu hal, kau belum mencintaiku." Mata Deya melebar. "Namun, aku akan menunggu hingga kau yakin untuk mencintaiku sepenuhnya."


"Mas, aku...." ucapan Deya terpotong ketika jari tangan Edward berada di bibirnya.


"Jangan katakan cinta jika kau belum yakin. Aku tidak ingin itu hanya keluar dari bibir saja. Aku ingin kau mengatakannya dari dalam hatimu yang terdalam. Belajarlah mencintaiku."

__ADS_1


Deya tersenyum mengangguk dan masuk ke dalam pelukan Edward.


"Jangan pernah tertarik pada pria lain selain aku Deya karena itu sangat menyakitkan."


"Selama aku menjadi istrimu selama itu pula aku tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kita dengan melihat pria lain. Aku janji. Walau aku belum mengatakan cinta tetapi aku akan pastikan hanya kau yang ada di dalam pikiran dan hatiku."


Edward tersenyum lega. Mengacak rambut kepala Deya lembut. Lalu memegang dagunya dan dinaikan keatas. "Kau tetap akan jadi istriku. Selamanya." Sebuah ciuman mampir ke bibir Deya yang lembut. Bermain pelan lalu dilepaskan ketika perut Edward berbunyi. Deya tertawa tanpa suara.


"Aku tiba-tiba lapar karena membayangkan lobster yang kau buat."


"Kalau begitu, aku akan menyiapkannya." Deya lantas melipat mukenanya, membereskan alat sholat. Berjalan bergandengan tangan ke bawah.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Mas," tanya Deya. Sebenarnya dia tidak begitu mengerti dengan dunia bisnis kecuali dari yang dia pelajari. Dia ingin belajar banyak secara real langsung dari Edward, pria yang sudah berkecimpung di dunia bisnis lama.


Wanita itu mulai membuka tudung saja dan menyiapkan alat makan. Edward duduk di salah satu kursi dan menarik kursi lain untuk Deya.


"Baik. Aku tadi melakukan rapat untuk membahas proyek di pertambangan di Kalimantan." Edward mulai membicarakan tentang pekerjaannya sambil mereka makan dan Deya mendengarkan.


Setelah acara makan malam selesai. Deya mulai menatap Edward. Menarik nafas dalam.


"Ada apa? Kau nampak menahan diri dari tadi."


Rupanya insting suaminya begitu tajam selalu tahu apa yang ada di dalam hati Deya sebelum wanita itu mengatakan apapun.


"Tadi, Zahra datang kesini."


"Oh, ya kau tidak mengatakannya dari tadi. Dengan siapa, sopir saja kah?"


"Tidak, bersama dengan Kak Soraya." Edward membuang lap di tangannya ke meja. Wajahnya nampak menegang.

__ADS_1


"Untuk apa dia kemari? Apakah dia melakukan hal buruk padamu!"


__ADS_2