Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 7 Bayar Lunas


__ADS_3

Deya kembali lagi ke kamar Edward ketika pria itu hendak bersiap untuk cek out dari kamar.. Ini sudah tengah malam, pasti Zahra tertidur tanpa ada dia di sampingnya.


"Hey, kenapa kau kembali?"


"Kalau boleh biarkan aku menginap di sini sampai pagi. Ayah pasti akan memarahiku jika aku pulang tengah malam. Aku tidak tahu harus pergi kemana malam ini."


Edward menghela nafas. "Ya, sudah. Kau boleh tidur di sini malam ini tetapi kau harus pulang besok pagi."


"Siap!"


"Ingat jangan mencoba berbuat kesalahan yang sama."


"Iya... aku tahu."


"Ya, sudah aku harus pulang. Anakku pasti sudah menunggu di rumah."


"Terima kasih Tuan,...''


Edward tidak mengatakan apapun langsung pergi dari ruangan itu.


***


Deya langsung menjatuhkan diri di ranjang ukuran besar yang empuk. Dia menggerakkan tangannya menyentuh tempat tidur itu dari atas ke bawah sambil melihat langit kamar.


" Ini mah kayak tidur di surga." Deya mulai menggulingkan tubuhnya ke kanan dan kiri setelahnya menyalakan televisi dan akhirnya, tertidur pulas.


Deya bangun ketika matahari sudah masuk melalui celah kamar.


"Astaghfirullah, belum. subuhan. Jam berapa ini? Aduh nggak menyapa Alloh, padahal udah di tolong semalam."


Deya langsung masuk ke kamar mandi dan menepuk dahinya. Di kamar hotel mana ada mukena. Dia lalu melihat indahnya kamar mandi presiden suit room.


"Wah.... Sekali-kali jadi orang kaya. Ternyata enak juga, ya." Dia mulai berendam dengan gumpalan sabun tebal. Puas bermain dan mandi, dia keluar dan melihat sudah ada paper bad di atas tempat tidur. Dia menengok ke kanan dan kiri. Mengangkat alis lalu melihat isi paper bag.


Rupanya dress sopan lengkap dengan **********. Nomernya pas pula. Dia mulai memakainya. Tidak lama kemudian dia mendengar ketukan pintu. Deya membuka kamarnya dan mendapati pengawal Edward masih berdiri di depan kamar. Di depan Deya ada seorang pegawai hotel yang membawa sarapan untuknya.


"Tuan mengatakan jika Anda harus sarapan terlebih dahulu baru pulang ke rumah. Kami akan mengantar Anda sampai depan rumah."


Deya mengangguk kepala. "Tuan Recehan ini baik sekali."

__ADS_1


Deya benar-benar diantar oleh pengawal Edward sampai depan rumahnya. Di saat itu, terdengar suara orang ribut di dalam rumah dan isak tangis. Deya langsung menyuruh pengawal Edward untuk pergi tetapi pria itu tetap berdiri.


"Ish!" ucap Deya membuka pintu rumah.


"Aku itu sudah baik sekali kakak Ratmi, utang suamimu sudah molor jatuh temponya semenjak setahun yang lalu. Berkali-kali aku menagih tapi yang hanya kalian bayarkan hanya sebagian kecil saja. Bagaimana pun aku juga butuh uang untuk modal tambahan. Rumahmu ini cukup besar untuk kos-kosan. Makanya, aku ingin kalian pergi dari sini secepatnya," ujar Bu Melfa dengan logat bataknya yang kental.


"Saya mohon, beri kami waktu lagi," pinta Pak Seto turun dari kursi rodanya bersimpuh di depan Bu Melfa.


"Aku beri waktu sampai seminggu jika kalian tidak membayarnya...." Perkataan wanita paruh baya itu terhenti ketika Deya masuk dan mengeluarkan uang dan diberikan kepada wanita itu.


"Apakah itu cukup?" tanya Deya. Uang itu diberikan pengawal Deya ketika berada di mobil dan katanya ada uang lebih di kartu yang bisa Deya gunakan untuk hal lainnya.


Ibu Ratmi dan Pak Seto membuka mulut lebar memandangi uang itu, lalu beralih ke wajah Deya.


"Wah... wah.... kau dapat uang ini dari mana?"


"Bukan urusanmu!" ujar Deya sengit. Ratmi lalu melihat keluar rumah dan mendapati ada sebuah mobil mewah diparkir depan rumah Deya.


"Kau habis menjual diri?" tanya Bu Melfa dengan suara berbisik namun masih terdengar oleh orang lain.


"Ck... pikiranmu kotor sekali. Aku baru saja dapat endorse dari sebuah produk. Makanya aku dapat uang sebanyak ini," ucap Deya berbohong.


"Terserah apa kata Ibu ini yang pasti aku sudah membayarnya. Tidak peduli uang dari mana, betul nggak?"


"Betul sih... Okey aku terima uangnya. Lae Budi, senang berbisnis denganmu... beruntung kau punya anak cantik jadi bisa digunakan kecantikannya." Bu Melfa menghitung berapa gepokan uang itu lantas dimasukkan ke dalam tas.


"Tidak dihitung dulu, Bu Melfa?" sindir Deya sambil membantu Ayahnya naik ke atas kursi roda.


"Tidak perlu, aku percaya padamu."


"Lae, aku pulang dulu, Kak Mi, aku pamit."


"Yo," jawab Ratmi tenang tapi bertanya dalam hati darimana Deya dapat uang sebanyak itu.


"Wah... mobilnya keren sekali Deya? Apakah bos yang mengendorse mu juga memberikan mobil ini?"


"Ck... Bu Melfa ini mau tahu saja urusan orang. Ini mobil milik temanku, dia menyuruh sopirnya mengantarku sampai di rumah."


"Teman atau teman?" nyinyir Bu Melfa.

__ADS_1


Deya tidak menanggapi, malah berjalan mengetuk pintu mobil. Kaca lalu diturunkan.


"Kok belum pergi?"


"Tuan ingin bicara dengan, Nona." Pengawal itu lantas memberikan handphone miliknya ke Deya.


"Aku sudah mengatakan pada Arya jika uang bayaranmu biar aku saja yang membayarnya Kau bisa menggunakannya untuk membayar hutang orang tuamu itu. Ada juga uang sepuluh juta yang bisa kau gunakan untuk hal lain."


"Terimakasih, aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu ini."


"Itu untuk hutang balas budi ku. Aku cuma pesan satu hal padamu, jauhi Arya. Suatu saat jika kau masih dekat dengannya, kau juga bisa dimakan olehnya!"


"Tidak mungkin dia...!"


"Aku tahu siapa dia, jadi sebaiknya kau jauhi dia jika ingin selamat."


"Baiklah."


"Jaga dirimu baik-baik dan jangan nakal lagi."


"Iya," kata Deya serak dengan mata yang berembun. Dia sangat terharu dengan perhatian Edward, pria yang baru dia kenal beberapa hari ini.


Panggilan lalu tertutup. Deya mengembalikan handphone itu.


Setelah mobil Edward pergi, Deya membalikkan tubuhnya dan melihat kedua orang tuanya ada di pintu menunggunya masuk untuk menjelaskan dari mana uang sebanyak itu Deya dapatkan.


"Aku meminjamnya dari Lia," ucap Deya.


"Tadi kau bilang dapat endorse sekarang kau bilang dapat dari Lia, mana yang benar Deya. Ayah tidak pernah mengajarimu untuk berbohong!"


"Lia menawariku pekerjaan dengan menjadi model iklan untuk beberapa barang jualan miliknya dan aku meminta bayaran di muka karena uangnya tidak bisa kudapatkan sebelum bekerja akhirnya Lia meminjami ku uang itu dari uang pribadinya."


"Memang kau artis dibayar sebegitu banyak oleh temanmu itu?"


"Terserah Ibu atau Ayah mau percaya padaku atau tidak. Yang jelas, aku masih tetap putri Ayah yang sama, tubuhku masih sama, belum pernah tersentuh oleh pria manapun." Deya lalu meninggalkan Ayah dan Ibunya masuk ke dalam kamar.


"Yah... apakah yang dikatakan Deya itu benar? Ibu kok takut ya?" Ibu Ratmi mulai menyeka mata dengan kaos yang membalut tubuhnya.


"Kita hanya bisa berdoa semoga Deya memang bena-benar tidak melakukan kesalahan itu."

__ADS_1


__ADS_2