Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab 58 Kesehatan Mental


__ADS_3

"Kebetulan aku juga belum makan dari siang juga."


"De, memang kau tidak memasakkan makanan untuk suamimu?"


"Suami?" gumam Zahra bingung. Deya menepuk dahinya sendiri. Ayah nampak kebingungan merasa apa kata yang salah dia ucapkan


Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga. Pak Seto dan Edward duduk di layar menatap ke arah jalan raya.


"Apa yang terjadi? Jika Ayah boleh tahu."


"Istriku tahu tentang hubunganku dengan Deya."


"Lalu apa yang akan kau lakukan.Aku yakin dia pasti tidak setuju."


"Aku berniat menikah dengan Deya namun wanita itu menolak."


Sejenak Pak Seto mengernyitkan dahinta berpikir."Apakah maksdunya kau ingin meresmikan hubungan kalian?"


"Ya, seperti itu Ayah hanya saja Deya menikah karena masih ingin meneruskan kuliah hingga wisuda."


"Menjadi sarjana adalah hal yang membuat Deya bersemangat untuk ke sekolah. Dia pikir dengan bersekolah tinggi dia bisa meraih cita-citanya sebagai seorang wanita sukses."


"Dia tidak perlu melakukannya karena aku bisa memenuhi semua kebutuhan Deya."


"Anakku sudah lama. ingin kuliah. Dia ingin menjadi seorang dosen."


"Dosen?"


"Hmm itu cita-citanya."


"Jatuh cinta itu pakai perasan tapi pernikahan butuh keuangan," celetuk Deya tiba-tiba.


Deya longok Deya dari ruangannya, mendapati suami dan ayahnya sedang bercerita."


"Kau betul."


"Maksudku, aku juga ingin mempunyai suami yang siap siaga, tetapi dia juga membiarkan aku melakukan kegiatan luar dengan tenang. Aku ingin merasakan terlebih dahulu dunia kerja."


"Lihat kan Pak dia menolak terus aku yang ingin menikahinya secara sah katanya dia ingin mengejar karir terlebih dahulu."


"Aku juga pengen punya penghasilan sendiri nanti.


" Terserah kau Deya tetapi Nak Edward ingin agar kau jari ibu rumah tangga."


"Suami punya uang bukan berarti harus memakai punya suami untuk membeli makan dan barang-barang lainnya."


***


"Apa kau mau pulang?" tanya Edward pada Zahra.


Gadis itu terdiam, menunduk tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak ingin pulang untuk saat ini. Hanya saja rumah ini sangat kecil dimana mereka akan tidur nantinya?" batin Zahra melihat sekitar rumah itu.


"Sudah tidur saja di sini, bersama dengan abang Rai, nanti abang ajak jalan-jalan keliling komplek besok pagi. Kita cari bubur ayam terenak sepanjang masa karena yang jualan." Roy dan Rai saling menatap. "Bu Masya," ucap keduanya dengan nada genit lalu tertawa.


"Bagaimana?" tanya Deya pada Zahra sambil mengusap kepalanya.

__ADS_1


Zahra menatap ke arah Edward. "Kalau aku tidur di sini bagaimana dengan Kak Deya?"


"Kakak akan tidur bersamamu," ujar Deya.


"Ayah?"


"Ayah akan tidur di sofa saja, dia melihat sofa kecil di ruang tamu."


"Itu kecil buat Ayah."


"Tidur di kamar Roy saja, Kak."


"Kamar Roy?"


"Lalu kalian tidur dimana?" tanya Zahra.


"Kamu bisa tidur dimana pun," ucap keduanya.


"Paling senang tidur di depan televisi tetapi ayah selalu memarahi kami."


Zahra merasakan kehangatan keluarga yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya di rumah. Dalam hati dia iri, ingin punya keluarga seperti ini. Namun, Ayah dan Ibu sering bertengkar, jauh sebelum Kak Deya masuk. Kini setelah ada Kak Deya, Zahra merasa ada yang mulai melindungi hatinya.


Saluran televisi diganti oleh Raihan membuat Roy kesal, dia mau merebut remot dari tangan kakak yang hanya terpaut setahun lebih tua darinya. Rai menyembunyikan di belakang tubuhnya sambil menjulurkan lidah. Mereka lalu bergumul memperebutkan remot.


"Apa Ayah harus membeli dua televisi agar kalian tidak bertengkar?"


"Ini Rai, dia mengganti acara film kartunnya," sungut Rai.


"Bosan tau episodenya diputar itu-itu aja," ujar Raihan.


Keluarga itu tertawa. Deya memang selalu punya ide untuk setiap masalah yang ada. Semenjak Edward bersama dengan wanita itu, dia merasa tenang. Dia menatap Deya terus. Wanita itu mengangkat alisnya menanyakan ada apa?"


Edward menggeleng tersenyum.


Malam semakin larut dan Zahra mulai menguap, Deya mengantar Zahra kembali ke kamarnya. Dia memeluk Zahra yang memunggunginya. Hal yang biasa ibunya lakukan jika dia sedang sedih kini dia terapkan pada anak sambungnya.


"Apakah kakak memang sudah menikah dengan Ayah?" tanya Zahra tiba-tiba membuat Deya terkejut sejenak walau dia sudah memperkirakan hal itu.


"Ya, apa kau keberatan?" jawab Deya pelan hampir tidak terdengar.


"Kenapa Kakak tidak bercerita semuanya padaku?" tanya Zahra, nafasnya mulai terdengar tersengal karena menangis lirih


Deya menghela nafas. Tidak menjawab hanya memeluknya erat dan menciumi pucuk kepala Zahra.


"Pantas saja ibu marah pada kakak."


"Ya, ibumu pantas memarahi Kakak karena hal itu. Kau juga boleh marah dan kecewa, aku akan terimanya Zahra. Keluarkan semuanya jangan dipendam. Ini tidak baik kondisi jiwa dan tubuhmu."


"Aku ingin marah, tapi tidak tahu bagaimana harus marah pada Kakak," kata Deya lirih dan serak.


Mereka terdiam lama hingga isak tangis Zahra tidak terdengar lagi. Setelah hanya mendengar suara nafas Zahra yang teratur, Deya menarik tangannya. Di saat itu, Edward masuk ke dalam kamar.


"Mas," panggil lirih Deya. Pria itu lantas duduk di sebelah Zahra. Mengusap pipinya yang basah.


"Dia masih saja menangis," kata Edward.

__ADS_1


"Itu pantas karena Zahra sangat terpukul dengan semua yang terjadi. Dia nampak shock dan bingung."


Edward mengusap kepala Zahra. "Dia masih terlampau kecil untuk mengalaminya."


"Buruknya kau malah memperparah semuanya dengan membiarkan pertengkaran itu terjadi di depan matanya. Tidak bisakah kalian bicara dengan nada pelan sehingga anak tidak bisa mendengarnya? Seumur hidupku, aku tidak pernah mendengar Ayah atau Ibu bertengkar di depanku! Jika aku mendengarnya mungkin aku trauma seperti yang Zahra alami."


Deya mengomel seperti seorang Ibu yang tidak ingin anaknya terluka. Padahal dia bukan ibunya, sedangkan pelaku dari trauma Zahra sendiri adalah Ibu kandungnya yang suka sekali membuat masalah.


"Maaf dan terimakasih atas perhatianmu untuk Zahra." Edward mencium pipi Deya. Dalam hatinya ingin tidur bertiga dengan istri muda dan anaknya. Namun, ukuran tempat tidur ini kecil sehingga tidak akan muat untuk mereka bertiga.


"Aku akan tidur di luar," ungkap Edward, Deya lalu bangkit tapi Edward mencegahnya.


"Tidur di kamar Rai saja sudah diberesin kok."


"Di luar saja, lebih dekat dengan kalian. Lagipula Rai dan Roy sudah tidur di kamar satunya setelah aku membujuk mereka."


"Maaf, kau pasti tidak nyaman nanti. Aku carikan selimut kain, ya."


"Ibu mertua sudah memberikan nya. Kau tidur saja. Kau sudah lelah sedari kemarin malam dan kurang istirahat."


Edward mengingatkannya tentang apa yang mereka lakukan kemarin kamar. Deya tersipu untuk sejenak. Matanya tiba-tiba terbelalak.


"Aku belum minum obatku," ucap Deya hendak bangkit.


"Memang kau sudah membelinya lagi?" tanya Edward nampak terkejut. Dia adalah pelaku hilangnya obat Deya kemarin malam.


"Ya, tadi sebelum pergi ke rumahmu," ucap Deya.


"Jangan berpikir untuk membuangnya lagi!" tegas Deya penuh curiga yang turun dan mencari tasnya.


Edward tertawa tanpa suara. Tersirat kilatan jahil dimatanya. Ingin rasanya dia menarik tubuh Deya dalam dekapannya dan membuat wanita itu lupa dengan obat KB miliknya. Namun, tidak di rumah ini. Sangat ramai dan sempit, semua orang akan mendengar rintihan kecil Deya.


Deya mengambil obatnya di tas lalu keluar mencari air minum di dapur, diikuti oleh Edward.


"De, besok kita pindah ke condominium milik kita saja ya?"


"Lalu Zahra?'' tanya Deya.


" Terserah dia mau tinggal di rumah bersama dengan ibunya atau kita."


"Itu tidak adil, kau itu punya dua istri lho, Mas," ujar Deya. Deya senang jika Edward sudah berkata terus terang pada istrinya mengenai hubungan mereka. Itu artinya memang pria itu tidak main-main dengan hubungan mereka. Dia juga tidak mau serakah jika memang Soraya masih mau menjadi istri Edward. Dia akan berbagi dengan Ibu kandung dari Zahra.


"Aku cuma punya kau," jawab Edward.


"Apa kau akan berpisah dengan Nyonya Aya?" tanya Deya terkejut.


"Aku menyerahkannya pada Aya, jika dia mau melakukan gugatan perceraian aku persilahkan. "


"Artinya kalian tidak ada kesepakatan mengenai hal itu?"


"Nggak, ini demi kebaikan Zahra aku membiarkan Soraya tetap tinggal di rumah itu dan menjadi istriku tetapi untuk menerimanya kembali. Aku tidak bisa!"


"Kenapa Mas? Ini yang ingin ku tanyakan padamu selama ini. Mengapa kalian selalu bertengkar tetapi ini sudah malam. Aku takut orang tuaku terganggu karena mereka harus bangun jam dua pagi untuk memasak. Kita bicarakan ini lagi besok di hunian kita. Aku minta kau bisa jujur padaku. Namun, jika tidak aku tidak akan memaksamu."


"Oh, ya. Biarkan Zahra nyaman dengan keadaan nya jangan buru-buru mengambil satu keputusan yang akan membuatnya menderita. Itu tidak baik bagi mentalnya."

__ADS_1


__ADS_2