
Setengah jam kemudian. Deya dan Edward telah sampai di kompleks apartemen mewah. Deya yang shock tidak mengatakan apapun sedari kantor tadi di sepanjang perjalanan pulang. Dia nampak terpukul sekali. Psikisnya nampak tidak baik-baik saja membuat Edward sangat khawatir.
Deya masih saja menangis sambil memeluk erat Edward yang menggendongnya hingga mereka sampai di kamar condominium.
"Turunkan aku, aku ingin membersihkan diriku dari jejaknya. Tubuhku kotor karena disentuh oleh bajingan itu, " pinta Deya. Edward mulai menurunkan Deya
"Biar aku bantu."
"Jangan! Kau akan jijik nantinya," cegah Deya mundur menjauh dari Edward. "Aku... aku... sudah tidak seperti dulu lagi...." seru Deya menangis histeris.
Edward meraih pinggang Deya dan memeluknya erat, satu tangannya menyentuh wajah Deya. "Kau masih sama seperti Deya yang terakhir kutemui tadi." Wanita itu melepaskan diri dari pelukan Edward.
"Deya murahan yang bisa kau bayar?" Deya tersenyum mengejek menepis tangan Edward dari pipinya. "Kau dan dia sama saja, menganggapku hanya sebagai wanita bayaran." Deya menarik rambutnya ke belakang. Nampak putus asa dan frustasi.
"Kau tetap Deyaku." Edward mengulurkan tangan hendak menyentuh Deya namun wanita itu mundur seraya menggelengkan kepala.
"Aku memang wanita bayaran? Aku menikah denganmu hanya untuk mendapatkan uang. Sekali bercinta kau memberiku harta." Deya tertawa sinis dalam tangis. Dia menyeka cairan dari pucuk hidungnya yang merah sambil menatap Edward.
"Aku memang salah dan aku minta maaf," lirih Edward penuh penyesalan.
"Aku tidak butuh permintaan maaf. Aku hanya butuh kau bisa memberikan sedikit kehormatan padaku sebagai istri, bukan sekedar simpanan." Deya membuang nafas kasar. "Istri yang kau cintai ketika kita bersama walau itu hanya berpura-pura." Buliran bening itu kembali mengalir deras.
'Karena aku tahu, menjadi yang kedua bagai menjadi istri fatamorgana.'
"Aku memang butuh cinta tetapi aku tidak segila itu untuk mengkhianati sebuah pernikahan. Aku memang butuh uang tapi bukan berarti aku akan menjual diriku pada semua orang. Aku memang murahan tetapi hanya denganmu, suamiku bukan pria lain. Apakah itu salah?"
"Awal niat pernikahan kita memang hanya untuk memuaskan hasrat dunia semata, tetapi setelahnya aku selalu melihatmu sebagai suamiku. Aku sama sekali tidak perduli kau menganggapku apa, tapi aku akan terluka jika kau pertanyaan kan kesetiaanku padamu," tegas Deya penuh luka.
"Ingat satu hal, Tuan Edward! Walau pernikahan kita tanpa cinta, tapi aku akan tetap setia. Satu kali lagi ku tegaskan. Selama kau masih menjadi suamiku, selama itu pula hati dan tubuhku hanya milikmu. Jadi jangan pernah mencurigai ku lagi." Kali ini dia mengeluarkan semua unek-unek di hati yang disimpan selama ini. Jawaban dari ketidakpercayaan Edward padanya.
Edward tersenyum tipis bahkan nyaris tidak terlihat. Dia meraih tubuh Deya lagi dan memeluknya erat. Menghirup aroma tubuh yang dia rindukan selama beberapa hari ini.
"Aku percaya padamu. Maafkan semua kata-kataku yang pernah membuat hatimu terluka," bisik Edward.
"Aku kotor, bekas bajingan itu masih menempel ditubuhku." Deya berusaha melepaskan diri dari tubuh suaminya.
"Aku akan menghapus jejaknya dari tubuhmu. Hanya aku yang boleh menyentuhmu, tidak boleh ada pria lain."
Edward melakukan apa yang dia katakan. Dia membersihkan dan menghapus jejak Mario dari tubuh Deya, setelah itu mendekap nya di tempat tidur.
__ADS_1
"Apa kau akan tinggalkan aku ketika aku menutup mata nanti?" tanya Deya.
Edward terdiam. Ibu jarinya mengusap bibir Deya yang bengkak.
"Seharusnya aku tidak berharap lebih," cicit Deya menghembuskan berat lebih membenamkan kepalanya di dada Edward. Jari telunjuk bergerak abstrak di dada suaminya.
Edward tidak mungkin meninggalkan Deya sendiri di sini. Wanita itu sedang mengalami shock berat. Beruntung Mario belum sampai menodai Deya sehingga tidak membuat wanita itu depresi berat.
"Malam ini aku akan tidur disini bersamamu," kata Edward.
"Sungguh?" Deya naik ke atas dada Edward dan mengangkat wajahnya menatap sang suami. Matanya nampak berbinar senang. Hal yang tidak pernah Edward lihat selama mereka bersama. Hatinya merasa tersentuh. Apakah Deya memang serius dengan hubungan mereka? Apakah dia wanita tepat yang akan menemaninya hingga akhir usia?
Hatinya yang pernah terluka membuat dia sulit untuk mempercayai Deya dan mudah sekali cemburu. Dia mendadak menjadi posesif pada Deya dan akan tersulut emosi jika melihat Deya dekat dengan pria manapun. Alam bawah sadarnya sebenarnya takut jika pengkhianatan yang dilakukan Soraya akan diikuti oleh Deya.
Edward menganggukkan kepala. Deya mencium bibir Edward senang. Dia kembali lagi tidur di atas dada Edward. Memejamkan mata, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
"De," panggil Edward.
"Hmmm."
"Apakah kau sangat mencintai pria itu?" tanya Edward.
Edward mengecup pucuk kepala Deya. "Namun, aku takut jika suatu saat kau akan mencampakkan aku di saat aku sudah mencintaimu," lanjut Deya.
"Apakah kau tidak merasa malu bila bersamaku. Umur kita terpaut jauh, delapan belas tahun lebih."
"Bukan kebalikannya? Aku bukan wanita idaman setiap pria seperti istrimu yang cantik, modis dan sempurna. Aku hanya Deya yang menyedihkan sehingga kau datang karena kasihan padaku. Jika mereka tahu hubungan kita, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan menyembunyikanku karena malu dan berkilah bahwa kita tidak saling kenal?"
"Sempurna itu bukan karena fisik semata tetapi juga psikologis dan perilakunya. Sejauh aku mengenalmu kau adalah wanita sempurna yang kuinginkan hanya saja luka yang ditorehkan Soraya membuatku tidak percaya padamu."
"Bolehkah aku tahu luka apa itu?"
"Seorang pria sejati tidak akan membongkar aib keluarganya pada orang lain."
"Aku orang lain?"
"Kau orang lain dalam hubunganku dengan Soraya tetapi istriku dalam ikatan yang lain."
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah membuka masalahku dengan Soraya padamu atau pada orang lain biar itu tetap jadi rahasia kami. Bukan berarti aku tidak menganggapmu. Aku hanya tidak ingin memasukkanmu dalam lingkaran kehidupan kami."
"Aku mencoba mengerti." Deya tersenyum kecut. "Namun, cobalah untuk mempercayaiku. Selama aku menjadi istrimu, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."
"Mulai kini aku akan mempercayaimu walau kau mengatakan jika aku adalah Om di depan pacarmu."
"Tidak mungkin kan aku mengatakan jika kau adalah suamiku? Lagi pula, aku sudah memutuskan hubungan dengan Angga."
"Sungguh?"
"Kau bisa cek handphoneku, aku tidak pernah memberi sandi. Jika kau masih tidak percaya kau bisa menyadapnya."
"Aku percaya." Edward mengusap punggung terbuka Deya yang berada di dalam selimut.
"De, apakah kau ingin hubungan kita terjalin untuk selamanya?" tanya Edward.
"Jika kau menginginkan itu dan keluargamu setuju dengan hubungan kita."
"Kalau begitu kau mau berjuang untuk hubungan ini?" tanya Edward.
"Berjuang seperti apa maksudmu?"
"Berjuang untuk mendapatkan hati setiap orang yang dekat denganku." Deya menatap Edward menunggu penjelasan lebih dari pria itu.
"Jika kau telah dekat dengan mereka, akan mudah bagiku untuk menjelaskan hubungan kita pada mereka ke depannya. Kesempatan untuk kau diterima di keluargaku jadi lebih banyak."
Deya masih tidak mengerti.
"Kau hanya perlu untuk mengambil hati semua orang yang penting bagiku. Kedua orang tuaku dan juga anakku Zahra. Jika mereka menyayangimu, mereka akan memberi restu bagi kebersamaan kita. Kita jadi tidak usah menyembunyikan lagi pernikahan kita?"
"Tidak semudah itu!"
"Memang tidak semudah itu, tetapi kita bisa mencobanya. Aku ingin statusmu sebagai istriku bisa jelas sebelum kau lulus nanti agar aku bisa menemanimu wisuda sebagai seorang suami resmi."
"Suami resmi? Itu artinya kau ingin meresmikan hubungan kita nantinya?"
Edward mengangguk.
"Tapi bagaimana dengan istrimu?"
__ADS_1
Edward sudah masa bodoh dengan Soraya jika wanita itu kembali, dia harus merestui Deya sebagai istri keduanya nanti. Jika tidak, maka itu lebih mudah nantinya karena Soraya meminta cerai darinya.