
Edward memikirkan semua yang Deya katakan. Tidak sepenuhnya ucapan Deya salah. Keadaan yang memaksanya melakukan itu. Jika semua terbongkar yang disalahkan adalah Deya padahal wanita itu datang di saat yang tidak tepat bagi orang lain. Namun, bagi Edward Deya adalah pelipur luka.
Cinta? Apakah dia sudah jatuh cinta pada Deya atau dia hanya menjadikan Deya sebagai pelampiasan semata? Edward juga belum mengerti perasaannya sendiri. Dia ingin menggali lebih dalam lagi apa yang dia mau.
Zahra sangat butuh ibunya. Namun, Soraya hanya menengok Zahra sebentar lalu pergi lagi. Edward pun enggan untuk meminta Soraya kembali bagaimanapun harga dirinya sebagai lelaki terluka akibat pengkhianatan yang Soraya lakukan. Lalu dimana cinta yang mereka miliki dulu? Apakah menguap begitu saja seiring berjalannya waktu.
Deya masih terlalu muda untuk tahu kejamnya dunia. Walau dia terlihat dewasa apakah dia mampu untuk terus bertahan di sisinya? Soraya yang dulu mencintainya saja kini telah berpaling apalagi Deya yang menikah dengannya hanya karena kebutuhan materi semata.
Kepala Edward terasa pecah memikirkan semua ini. Dia melemparkan gelas kaca ke lantai dengan keras sehingga suaranya sampai keluar ruangan.
Deya yang berada di luar langsung berlari masuk ke dalam. Dia melihat pecahan gelas yang berserakan. Dia menatap ke arah Edward yang nampak biasa saja menatap ke arah map.
"Ada apa, Pak?" tanya Katrine yang baru masuk.
"Kau minta OB untuk membersihkannya."
"Tidak biar aku saja." Edward menatap Deya sekilas lalu kembali lagi ke pekerjaannya seolah tidak peduli.
Katrine yang merasa berada di tempat yang salah dalam pusaran pertengkaran suami istri yang saling bersikap dingin, langsung meninggalkan tempat itu.
Deya membersihkan semua itu. Setelah itu, dia pergi ke pantry mengambil air mineral dingin dan kembali masuk ke dalam tanpa permisi.
Edward menatapnya.
"Minum ini agar kepalamu sedikit dingin," ucap Deya menyerahkan minuman itu ke depan Edward. Tatapan matanya tajam tapi terasa lucu bagi Edward seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Deya lantas pergi ke arah pintu, dia hendak membukanya ketika Edward memanggilnya.
"De."
Deya mengabaikannya, meninggalkan ruangan itu begitu saja.
"Bu, aku ke pantry sebentar membuat kopi." Katrine mengangguk.
__ADS_1
Deya masuk ke ruang pantry. "Eh, Mba Deya balik lagi Mbak," sapa petugas OB bernama Supri.
"Hooh, ngantuk pengen buat kopi."
"Bukan buat Pak Edward?" Deya menggeleng.
"Biasanya saja buat Pak Presiden kita. Kalau bukan Mbak Deya yang buatkan Pak Presdir suka nggak kebeneran aja rasanya. Kadang kemanisan, kurang gula kalau tidak terlalu kental atau kayak pipis kuda," ungkap Rina OB wanita yang sudah lama bekerja di sini.
"Lucunya ketika kuberi kopi sachet secengan malah senang," lanjut Rina tertawa membuat yang lain juga ikut tertawa tidak terkecuali Deya.
"Jangan bilang Pak Edward ya Mbak."
"Nggak lah."
"Kok bisa pakai kopi itu Mbak? Bukannya Pak Edward punya kopi khusus dari Aceh ya?"
"Sebenarnya iya tapi karena maunya Pak Edward yang sukar dimengerti jadi iseng pakai kopi sachetan kok malah suka."
"Hei siapa yang ngobrol di jam kerja seperti ini. Apa kalian tidak tahu jika pekerjaan di luar sana banyak. Toilet pria belum dibersihkan, cepat... cepat...!" Omel Bu Murni kepala OB di kantor ini.
Matanya seakan ingin keluar dari tempatnya.
Supri dan Rina saling menyikut lalu segera pergi dari ruangan itu dengan tergesa-gesa, sedetik kemudian kembali lagi mengambil alat pembersih yang tertinggal.
"Eh, kamu ajak magang kan? Jangan malas-malasan di sini atau genit ma pegawai lain jika ingin dapat nilai tinggi," seru Bu Murni berkacak pinggang. Wajahnya yang lebar terlihat masam.
"Saya tidak sedang mau membuat kopi."
"Kalau begitu cepat!" perintah wanita itu seperti pada anak buahnya sendiri.
Deya langsung membuat kopi untuknya, diiringi tatapan tajam wanita itu. Deya menghela nafas panjang setelah selesai dia langsung pergi keluar dari pantry dengan lega.
"Wuiss herder, galak amat." Dia bersyukur karena atasannya adalah Katrine yang malah menganggapnya seperti adik sendiri. Entah itu karena wanita itu baik atau memang karena dia punya hubungan dengan Edward.
__ADS_1
Di tengah jalan Deya bertemu dengan Mario pria yang bersama Edward di klub malam itu. Dada Deya berdegub kencang takut jika identitas dirinya yang hendak menjual diri terekspos di kantor ini. Kepalanya di tundukkan, sengaja menghindar namun pria itu malah menghentikan langkahnya.
"Eh, tunggu aku seperti pernah melihatmu?" tanya Mario.
"Maaf, Anda mungkin salah orang," Deya berjalan melewatinya tetapi tangan Mario memegang lengan Deya.
"Bukankah kau wanita yang tidur bersama Pak Boss waktu itu?" bisik Mario ditelinga Deya membuat mata Deya yang bulat dan besar membelalak lebar.
Dia hendak menepisnya ketika sebuah suara terdengar keras memanggil pria itu.
"Mario, kau sudah kembali?" tanya Edward yang ada di belakang Deya.
Mario langsung melepaskan Deya. "Sudah Presdir semua sesuai dengan harapan kita."
"Kalau begitu aku meminta laporannya."
"Baik. Aku akan mengambil di ruanganku." Mario menatap genit pada Deya sejenak lalu pergi.
"Kau buat kopi lama sekali, cepat bawa ke ruanganku!" Edward mengatakannya dengan wajah masam.
Deya lantas mengikutinya Edward ke ruangannya. Dia meletakkan kopi itu diatas meja lantas beranjak pergi.
"Hebat kau, Deya. Kau masih mempunyai hubungan dengan pacarmu padahal kau sendiri istriku. Kini kau mulai mengincar pria lain di belakang ku." Ada nada mengejek dari suara Edward. Dia tersenyum sinis pada istrinya. Langkah kaki Deya terhenti, hatinya merasa terluka akan tuduhan dan hinaan Edward yang dilayangkan padanya.
"Memang semua wanita itu sama saja tidak pernah puas dengan satu pria."
Deg! Dada Deya terasa sakit seperti dihujam oleh sembilu tajam. Dia tidak percaya Edward mengatakan hal itu padanya tetapi pendengarannya tidak salah kali ini. Sebisa mungkin Deya menahan air mata yang hendak turun dari kedua matanya.
Bagaimana bisa, Edward masih mengira dia wanita murahan yang akan menjual diri pada setiap pria. Padahal dia telah menyerahkan segalanya pada pria itu. Dia menuruti semua yang Edward inginkan.
"Waktu satu bulan memang bukan waktu yang cukup untuk mengenal karakter seseorang. Apa yang kau katakan memang benar. Aku memang mencari mangsa baru jika suatu saat kau tendang pergi. Harus ada cadangan kan, Pak Edward yang terhormat!" ucap Deya dengan suara gemetar, menatap balik Edward dengan rasa sakit yang tergambar nyata dari balik matanya.
Deya hendak memutar knop pintu tapi dihentikannya. "Kau katakan saja kapan kau sudah bosan padaku agar aku tahu kapan aku mulai mencari penggantimu!" Deya langsung keluar dari ruangan itu, pergi ke toilet wanita.
__ADS_1