Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bergabung


__ADS_3

"Ed? Aku... aku butuh penjelasan darimu. Kau selalu menyalahkanku jika aku tidak setia nyatanya?" Soraya kembali menyeka cairan dari hidungnya.


"Kenapa kau kecewa marah? Itu yang sama kurasakan ketika tahu kau berselingkuh di belakangku tapi apa aku pernah melakukan seperti yang kau lakukan? Tidak aku selalu bersabar padamu."


"Bersabar? Nyatanya kau melakukan hal yang sama denganku!" teriak Soraya. Suara pertengkaran suami istri itu menggema sampai ke setiap sudut rumah.


"Aku melakukannya setelah kau pergi meninggalkan aku, jadi aku tidak salah mencari penggantimu karena kau sendiri yang meminta cerai dariku...." Edward tersenyum smirk melihat wajah Soraya yang memucat.


Entah kenapa rasa terhadap wanita itu kini hilang sudah. Dia sudah tidak peduli lagi padanya. Seorang pria seperti diinjak harga dirinya ketika istrinya bermain belakang di depannya.


"Kau itu wanita terbodoh yang pernah kutemui. Kau pergi demi pria yang tidak mau menjalin hubungan resmi denganmu dan sebuah pernikahan dengan seorang pria bodoh yang mau menerimamu yaitu aku sendiri. Mario... temanku sendiri bukan yang kau pilih?" tanya Edward. Lalu tertawa sumbang.


Soraya membelalakkan matanya. Dia sangat menutup rapat hubungannya dengan Mario bagaimana Edward tahu?


"Aku tahu hubunganmu dengan pria muda pendatang baru sebuah PH aku tidak percaya kau melakukannya sebelum aku melihat sendiri. Berkata bahwa mungkin kau sedang khilaf, lalu aku mulai meminta Mario untuk merayumu."


Nafas Soraya mulai terhenti. "Hanya untuk melihat seberapa setianya dirimu padaku. Nyatanya kau seperti wanita murahan yang mudah jatuh pada pelukan pria lain. Bahkan pada relasi bisnis suamimu sendiri, bawahan ku. Pria yang tidak lebih baik dari ku."


"Ed, kau?"


"Kenapa? Kesempatan terakhirmu adalah ketika kau ku panggil untuk kembali nyatanya, kau pergi saja. Ha... ha... mencari surga lain yang ternyata hanya ilusi belaka." Edward tertawa keras.


Soraya bersimpuh memegang kaki Edward. "Maafkan aku. Ku mohon."


"Mudah mengatakan maaf, tetapi kau telah membuat luka yang dalam di dadaku, Aya, bahkan jika kau meminta maaf padaku seribu kali luka ini masih tetap ada."


"Ed, aku tidak ingin kehilanganmu," kata Soraya putus asa.


Edward menarik kakinya dan mundur. "Jangan sentuh aku, Soraya."


"Ed...." panggil Soraya menangis keras.


"Aku tidak akan percaya lagi dengan tangismu. Kau boleh tinggal di rumah ini, tetapi jangan coba dekati aku lagi!" tegas Edward.


"Aku tidak akan menceraikan mu, bukan karena aku memaafkanmu. Seseorang mengatakan jika Zahra membutuhkanmu. Maka dari itu, aku memberimu kesempatan untuk menjadi ibu yang baik bagi anak kita. Jika kau sudah menyerah kau bisa meninggalkan rumah ini."


"Tidak Ed, beri kesempatan pada hubungan kita. Bukankah kau sudah membalas perlakuan ku, maka beri kesempatan padaku lagi."


"Aku bersama Deya bukan karena ingin membalas apa yang kau lakukan. Namun, aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kudapatkan darimu."


"Apa yang Deya punyai yang tidak kumiliki?"


"Rasa hormat sebagai istri."

__ADS_1


"Ed...."


"Dari awal menikah, aku yang selalu mencoba mengerti dirimu karena aku buta oleh cintamu. Menerima setiap kekuranganmu. Bahkan aku tidak memintamu melakukan sesuatu, memasak dan melayani kebutuhanku karena kita punya pelayan."


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan kau membayar pelayan agar aku tidak perlu melakukan apapun. Kau ingin menjadikanku ratu dalam istana kita ini?"


"Hmm, itu benar dulu. Kini, aku merasa jika itu salah. Kau jadi terus menuntut. Bodohnya aku selalu mengiyakan keinginanmu dan aku selalu buta oleh cintamu."


"Ed...." gumam Soraya lemas merasa menyesal.


"Aku bekerja siang dan malam, untuk membahagiakanmu. Nyatanya, semua yang kuusahakan untukmu tidak cukup membuatmy bahagia. Kau ingin kejayaan dan kekayaan berlimpah, tetapi kau juga ingin semua waktuku. Itu semua bullshit! Manusia tidak akan pernah bisa mendapatkan semuanya, Aya. Dan kau menyalahkanku untuk satu hal yang tidak kuberikan padamu, waktuku."


Tubuh Aya yang duduk bersimpuh di depan Edward bergetar, dia menangis keras.


"Sebagai suami aku tidak pernah meminta padamu untuk melakukan apapun namun sebagai seorang Ayah aku memintamu untuk memperhatikan Zahra. Namun, kau mengeluh. Kau wanita yang gagal menjadi seorang istri dan buruk menjadi seorang ibu."


"Karena itu, aku mohon kau bisa memaafkanku dan memberi kesempatan padaku."


"Tidak, Aya. Sebagai suami, aku tidak bisa memberi kesempatan padamu. Namun, aku bisa memberi kesempatan padamu menjadi ibu yang baik bagi Zahra.''


" Apakah Deya itu simpananmu?" tanya Soraya karena penasaran mengapa Edward mengatakan istri pada Deya.


Edward menyeringai. "Dia istriku!"


"Non Zahra dibawa oleh pelayan itu," kata Mr. Lee.


"Dia bukan pelayan. Dia istriku!" Mr Lee tidak terlalu terkejut. "Panggil dia Nyonya."


"Baik, Tuan."


"Urus Aya dengan baik. Aku akan menjemput Zahra."


"Baik, Tuan." Mr Lee hanya bisa menahan nafasnya. Wanita yang selama ini dia rendahkan ternyata adalah istri Tuannya. Namun, tidak sekalipun Deya bertindak sok walau tingkahnya membuat kesal dirinya. Sejauh ini dia terlihat sopan dan berpenampilan apa adanya.


"Dia tadi pergi dengan apa?" tanya Edward yang kenal dengan kebiasaan Deya yang suka naik ojek.


"Diantar oleh Pak Tarno."


"Oh, ya sudah."


Edward lantas mengambil kunci mobilnya pergi meninggalkan Soraya yang melihatnya dari jendela kamar. Wanita itu nampak tertekan dan sedih.


Sepanjang jalan pikiran Edward menerawang jauh mengingat saat bahagianya dengan Soraya dulu dan kini hilang tanpa bekas. Ternyata cinta dengan begitu mudah hilang dari hatinya berganti dengan cinta baru dan suasana hati baru pula.

__ADS_1


Dia tidak menyesal menikah dengan Soraya tetapi dia sangat menyesali perbuatan buruk Soraya yang murahan. Tidak seperti punya harga diri.


***


"Ck ini buat aku, kau itu saja." Garpu Raihan sudah berada di ayam goreng bagian dada.


"Itu banyak tulangnya, ogah! Ini buat aku saja." Roy melakukan hal sama pada daging itu.


"Kalian sebenarnya mau makan atau bertengkar? Kalau kalian mau yang itu maka Ibu potong jadi dua biar nggak bertengkar."


"Jangan nanti jadi kecil, Bu, rugi di aku lah.''


"Kalau begitu makan seadanya!" ucap tegas Ibu Ratmi.


"Ini buat Zahra saja." Deya mengambilnya untuk Zahra membuat dua orang itu membuka mulutnya lebar sambil menelan salivanya. Zahra tertawa geli.


"Kalau kalian mau ambil saja," tawar Zahra.


"Wah, buat aku saja," ucap Roy hendak mengambil ayam itu tapi oleh Deya ditabok tangannya.


"Aw! Sakit kakak ini namanya penganiayaan terhadap anak kecil bisa dipenjara."


"Jadi pria gentleman, selalu biarkan perempuan mendapatkan hal terbaik."


"Iya Kak," ujar keduanya menunduk mengambil ayam lainnya.


"Zahra, dimakan. Ibu cuma bikin ayam serundeng sama sayur terong."


"Ini bukan cuma tapi ini lebih enak dari makanan restoran bintang lima."


"Memang kau pernah ke sana?" tanya Roy.


"Belum," tegas Raihan. Zahra tertawa kecil. Mulai mencicipi masakan itu. Ternyata memang enak dan gurih.


Edward sampai di rumah keluarga Deya. Dia mengucapkan salam ketika membuka pintu. Melihat Zahra yang sedang makan bersama dengan keluarga Deya. Mereka makan di lantai.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam. Nak Edward mari masuk," panggil Pak Seto. "Ikut bergabung bersama kami."


"Kebetulan aku juga belum makan siang juga."


"De, memang kau tidak memasakkan makanan untuk suamimu?"

__ADS_1


"Suami?" gumam Zahra bingung. Deya menepuk dahinya sendiri. Ayah nampak kebingungan merasa apa kata yang salah dia ucapkan.


__ADS_2