Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab.24 Milik Siapa?


__ADS_3

Edward tertidur lelap setelah kegiatan siang yang panas. Deya langsung membersihkan diri melakukan kewajibannya menurut agama. Untuk kali ini dia selalu membawa mukena nya dan memakai kaos milik Edward yang ada di dalam lemari. Ada juga baju wanita di dalamnya namun itu pasti baju istri pertama Edward. Dia tidak ingin memakainya.


Deya lantas pergi ke bawah memeriksa isi dapur. Dia tidak menemukan satu sayuran atau daging segar di dalamnya hanya ada makanan kaleng, seperti daging dan sayur dan buah.


Dia mencari sesuatu di dalam laci dan menemukan spagetti mentah. Menemukan bumbu dan sesuatu yang membuatnya senang adalah beras.


Tadinya dia ingin membuat spagetti namun diurungkan. Dia mulai memasak nasi dan membuat lauk dari campuran bahan seadanya dan juga puding.


Wangi masakan menguar ke seluruh ruangan. Deya yang sudah terbiasa dengan kompor, penggorengan dan pisau tidak merasa kesulitan menyiapkan semua masakan itu. Tangannya dengan terampil mengolah semua bahan yang ada hingga tercipta aneka ragam. masakan yang terlihat menggugah selera walau dia tidak tahu apa namanya.


Pinggangnya tiba-tiba dipeluk dari belakang oleh Edward membuat Deya melonjak kaget.


"Serius sekali?" tanya Edward. "Sampai aku berdiri melihatmu dari tadi kau tidak menoleh sedikitpun."


"Aku tidak tahu." Edward mengecup leher Deya ketika wanita itu sedang mengoleh makanan. "Hmmm, kau akan membuatku melupakan masakannya. Ini sudah matang, aku harus mengangkatnya," ucap Deya kegelian dan merinding. Kelenjar tubuhnya langsung bereaksi dengan serangan mendadak itu.


"Kalau begitu akan kubantu." Edward melepaskan Deya dan meraih pegangan penggorengan.


"Aww panas," seru Edward mengibaskan tangannya yang terkena sengatan panas penggorengan.


"Kau sih tidak hati-hati." Deya mematikan kompor. Dia lalu menarik tangan Edward ke wastafel lalu mengalirkan air ke luka pria itu.


"Ini sangat merah kau bisa kena iritasi nanti." Deya mengamati luka itu.


"Dimana kotak P3K dalam hunian ini?" lanjut wanita itu cemas meniup luka itu.


"Ini tidak apa-apa sudahlah," ungkap Edward.


Deya menatap pria itu dengan tajam.


"Kau jadi menggemaskan jika seperti ini."


"Tidak lucu!" ucap Deya.


"Kotaknya ada di lemari bufet bawah televisi." Deya lantas mencarinya dan kembali dengan salep di tangan. Dia mulai mengoles luka itu dengan hati-hati.


"Kenapa aku tidak bertemu denganmu sebelum ini?" ucap Edward tiba-tiba. Deya mendongak, menatapnya.


"Kau bilang apa?"


"Tidak apa-apa?" jawab Edward.


"Kau masak apa saja?" Dia mulai mengalihkan pembicaraan.


"Tumis sayur campur-campur. Sarden dimasak pedas entah kau akan menyukainya atau tidak dan juga puding karamel."

__ADS_1


Edward mencicipi masakan itu, "Ini sangat enak, kalau bersamamu terus bisa-bisa perutku yang seksi ini akan menggelembung seperti balon."


Deya mencubit perut Edward."Kalau begitu kau harus banyak berolahraga."


"Berolahraga bersamamu setiap malam? Tidak masalah!"


"Ckk, Mas itu deket dikit aja langsung aja. Memang nggak cape?"


"Nggak lah malah tambah sehat dan bugar."


Deya mengangkat satu alisnya ke atas bertanya dalam hati apakah memang suaminya tidak lelah setelah bermain itu. Dia sendiri merasa capek dan lelah tetapi takut untuk mengeluh.


"Minggir dulu dong, aku mau selesaikan ini dulu, perutku sudah lapar," ujar Deya yang risi Edward terus menempel kayak perangko saja.


Edward tertawa. "Biar aku bantu bawakan." Edward mengambil piring berisi sarden yang sudah jadi di piring, meletakkan di meja makan.


Dia menata piring dan gelas, serta menuangkan air putih ke dalam flut glass dan duduk seperti anak kecil yang menunggu ibunya menyiapkan makan.


Deya meletakan dua piring lauk yang lain. Mengambilkan nasi ke piring Edward serta lauk.


"Kau mau ini?" tanya Deya. Edward mengangguk. Pria itu tersenyum tetapi tatapannya menyiratkan kesedihan yang di sembunyikan.


Mereka lalu makan.


"Kau membuatku melewatkan makan siang," ujar Deya memasukkan suapan ke mulut. "Aku sangat lapar, sepertinya aku akan makan banyak sekarang."


Deya melihat ke arah tubuhnya. "Kalau suami tidak masalah dengan bentuk tubuhku yang melar maka bukan masalah yang berarti kan?"


Edward tersenyum kecut.


"Apa kau mempermasalahkan hal itu?" tanya Deya. "Ku lihat istrimu sangat sempurna secara fisik padahal sudah punya anak. Kemungkinan kau suka dengan penampilan wanita yang menarik dengan tubuh seperti gitar spanyol jadi dia berusaha untuk selalu terlihat cantik dan menarik."


"Jagalah tubuhmu karena kau menghargainya. Bukan karena ku atau sebab lain sebab itu akan jadi boomerang untuk dirimu sendiri."


"Artinya kau masalah jika suatu hari tubuhku melar dan tidak berbentuk lagi?" tanya Deya.


"Tubuh wanita akan berubah jika punya anak dan melahirkan. Padahal dia melahirkan anak untukku, maka tidak adil baginya jika aku menuntut kesempurnaan dirinya sebab dia telah berkorban besar demi kebahagiaanku."


"Cinta itu tidak dinilai dari bentuk tubuh tapi dari rasa nyaman yang tercipta ketika bersama."


Deya berhenti mengunyah, menatap Edward.


"Pertanyaannya adalah apakah aku akan jadi istri sahnya, hamil anaknya dan melahirkan untuknya. Jika tidak lebih baik aku pergi ketika aku telah bekerja nanti."


"Bersama tidak harus dengan cinta seperti yang kita lakukan ini."

__ADS_1


Giliran Edward yang terdiam.


"Tambah lagi, Mas. Aku sudah masak banyak lho. Sayang kan kalau dibuang."


Edward terdiam ketika Deya meletakkan nasi lagi ke piring Edward.


"Deya mulai besok kamu mulai masuk magang ya!"


"Bukannya seharusnya Minggu depan menurut jadwal yang ada."


"Aku bosnya!" ucap Edward.


"Apa kau tidak takut jika istrimu memergoki kita bersama?" tanya Deya takut-takut.


"Aku lihat ada baju wanita di lemari atas," imbuhnya.


"Memang kenapa kalau ada baju wanita dj atas. "


Deya menghela nafas.


"Itu artinya jika istrimu pernah atau bahkan kemari. Buruknya aku tidur diatas ranjang yang sama kau gunakan dengan istrimu?"


Edward menyingkirkan makannya. Dia nampak tidak senang ketika membahas soal istrinya.


"Ini salah. Aku memang simpananmu tetapi tidak seharusnya kau melakukan itu di rumah kalian di atas ranjang yang pernah kalian gunakan sebelumnya. Aku tidak pernah bisa membayangkan jika itu terjadi pada diriku."


"Aku sangat merasa bersalah karena itu."


"Deya kau tidak perlu merasakan semua itu."


"Akan sakit jika tahu selingkuhan pasanganmu tidur di ranjang yang sama dengan yang kau gunakan!" ujar Deya.


"Deya, apa kau tidak melihat jika baju yang ada di dalam belum pernah digunakan sama sekali!"


"Aku tidak mengerti."


"Itu artinya aku sengaja menyiapkan itu untuk kau gunakan selama berada di sini."


"Berarti bukan milik istrimu?"


"Milik istriku!"


"Kau tadi bilang...." Deya nampak kebingungan.


"Kau itu siapaku?"

__ADS_1


Bantu favoritkan ya, beri like dan komentarnya


__ADS_2