Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 23 Marah


__ADS_3

"Aku ingat itu dan aku tahu batasan dalam bergaul." Deya langsung mematikan panggilan di handphone nya kesal. "Aku istrinya? Hah! Aku kira aku hanya gundiknya." Batin Deya.


"Aku sedang ada diseberang jalan. Cepat kemari!" perintah Edward.


Mata Deya membesar seketika. Dia melihat ke sebuah mobil yang berhenti di seberang jalan.


Deg! Deya menjadi panik dengan wajah yNg memucat seketika.


"Tapi... aku-," ucapan Deya terpotong.


"Sekarang, Deya!" geram Edward tertahan. Baru mereka melalui malam panas bersama dan kini Deya bersama dengan pria lain. Apakah tidak ada wanita yang setia di muka bumi ini? Tanya Edward dalam hati sakit mengingat perselingkuhan yang dilakukan Soraya dibelakangnya.


"Ngga, aku harus pergi," pamit Deya.


"Kenapa?"


"Lia menungguku di mobil itu," alasan Deya yang tidak ingin ketahuan jika dia telah menikah dengan pria lain.


"Lia?" tanya Angga. Tidak ingin ada lagi pertanyaan Deya lantas pergi menyeberang jalan begitu saja meninggalkan Angga yang menatap nanar kepergiannya. Sepanjang hubungan mereka baru kali ini dia merasa asing dengan Deya dan seperti ada jarak yang dia tidak tahu apa itu.


Pintu mobil di ketuk oleh Deya, Edward langsung membukanya dan membiarkan Deya masuk ke dalam mobil.


"Masuk!" Edward menatap Deya dengan sedingin kutub utara yang bisa membekukan darah.


"Aku...." Deya melihat ke arah Edward yang nampak tidak senang menatapnya. Apakah pria itu sedari tadi melihatnya? Kalau iya, dia dalam masalah besar.


Dengan malas dan lemas Deya lalu duduk di kursi.


"Ke apartemen kelapa Gading Residences," perintah Edward pada Satria yang sedang menyopir.


"Bukankah kita akan menemui klien, Pak!'' ujar Satria.


"Kau saja yang menemui mereka untuk mewakili aku. Katakan aku sedang tidak bisa menemuinya karena ada urusan penting."


"Baik, Pak." Satria menyalakan kembali mesin mobil.


Deya diam saja menatap keluar jendela.

__ADS_1


"Jadi kau bersama lelaki lain setelah bersamaku?" tanya Edward menatap ke depan. Dia menekan ego dan rasa marah yang nyaris saja meledak.


"Bukankah katamu kita tidak harus mencampuri urusan pribadi masing-masing?" balik Deya menatap Edward.


"Deya kau sudah menjadi istriku! Kau tahu apa artinya itu kan!"


Deya menggigit bibirnya.


"Kita bicara di tempat lain." Suara Deya terdengar lirih. Lebih besar dari suara hembusan nafas Edward.


Mereka terdiam seperti dua orang asing hingga sampai di Condonium mewah milik Edward.


"Masuk!" ucap Edward membukakan pintu untuk Deya.


Deya melangkah masuk ke dalam. Dia memperhatikan setiap detail dari ruang tamu dalam Condonium itu.


Ruangan itu menggunakan desain minimalis kekinian dengan cat berwarna putih gading. Ada sebuah sofa panjang yang cukup untuk empat orang menghadap ke sebuah televisi besar di tembok. Di sisi yang lain ada tangga dari kayu menuju ke lantai atas. Di bawah tangga ada meja kerja dan di sampingnya meja makan dengan dua kursi saja. Sedangkan di ujungnya ada dapur kecil yang bersih mungkin tidak pernah dipakai sama sekali. Dapur yang menghadap keluar jendela dengan pemandangan kota Jakarta yang ingin indah dari lantai 26.


Edward membuka tirainya sehingga cahaya masuk ke ruangan itu dari luar.


Edward mengambil dua minuman botol, mendekat ke arah Deya yang sedang melihat ke sebuah lukisan yang dipajang oleh Edward.


"Ini indah sekali," ucap Deya yang melihat gambar seorang anak yang memeluk ibunya.


"Ya, itu buatan Zahra."


"Tapi kok menangis bukannya tersenyum atau tertawa ketika memeluk ibunya?"


"Tempat ternyaman seorang anak melepaskan kesedihannya yaitu ibu," terang Edward. Deya menghela nafas lalu menghadap ke arah Edward.


"Kau benar." Deya menerima botol minuman itu, duduk dan mulai meminumnya.


Edward meletakkan minuman di meja dan melepaskan jasnya.


"Tadi kau ingin marah padaku kan? Sekarang, katakan semua yang menjadi unek-unekmu. Aku tidak suka kita bertengkar di depan orang lain. Ayah tidak pernah terlihat bertengkar dengan Ibu sekalipun di depan anak-anaknya atau orang lain, aku mau kita juga seperti itu."


Deya nampak dewasa sekali menanggapi suatu masalah disaat umurnya masih muda dan labil. Kemarahan Edward menguap seketika. Dia menyuruh Deya duduk di antara dua kakinya. Deya menuruti, tidak ingin memperpanjang masalah. Kepalanya di sandarkan di dada Edward. Nyaman dan hangat terasa terlindungi.

__ADS_1


Tubuh besar Edward melungkupinya dan mencium pucuk kepala Deya.


"Aku tidak suka kau dekat dengan pria lain saat denganku!" jujur Edward. "Apakah itu salah dan berlebihan?"


Deya menggelengkan kepala. Dia tahu salah dalam hal ini.


"Jika kau masih berhubungan dengannya maukah kau memutuskan?" tanya Edward.


"Aku hendak melakukan itu hanya saja hari ini dia pergi ke lokasi KKN, aku tidak tega melakukannya sekarang. Berikan aku waktu untuk melakukan itu. Lagi pula, kami tidak akan bertemu selama beberapa bulan ke depan."


Mereka terdiam untuk sesaat larut dalam pikiran sendiri.


"Soal perjanjian tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing itu-" Jari lentik Deya berada di bibir Edward. Wanita itu membalikkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan dan saling menatap.


"Kau punya hak untuk bertanya dan marah." Deya mendekatkan bibirnya ke bibir Edward lalu menciumnya.


Pelajaran kedua dari Lia, menghentikan kemarahan pasangan adalah dengan merayu bukan sekedar kata-kata tetapi lewat tindakan dan buat pasangan jatuh dalam pesona mu.


Seorang simpanan tidak berhak marah karena tubuh dan hidupnya adalah milik pasangannya. Jika dia mudah marah maka sang pemilik tidak akan betah berada di sampingnya. Kuncinya harus pandai merayu dan bersikap manja.


Sebetulnya bagian tubuh bawah Deya masih terasa perih dan mengganjal tetapi dia harus menahan itu demi memuaskan pemiliknya.


Deya bergerak dengan naluri membuat pria di dekatnya melenguh. Hal yang membuat gairah yang tidak dia kenal kemarin kini bangkit dengan sendirinya.


Untuk pertama kalinya dia memanjakan seorang pria membuang rasa jijik dan malu yang menyerang. Bertindak seperti orang profesional yang pernah melakukannya walau dia sempat tersedak ketika memanjakan pria itu.


"Kau sangat cepat belajar," ucap Edward ketika hasratnya mulai memuncak. Dia membaringkan Deya di sofa.


"Kini giliranku."


Keduanya tengah asik sendiri. Jika kemarin malam Deya merasakan sakit kini dia menemukan kenikmatan dalam setiap sentuhan. Kala peluh mereka saling menyatu dan kulit mereka melekat. Mereka seperti dua manusia yang melebur menjadi satu saat hentakan demi hentakan dilakukan.


Tidak ada yang berbicara hanya suara lenguhan yang terdengar ketika tubuh mereka sama-sama bergetar hebat dalam puncak nirwana.


"Deya, kau sungguh menakjubkan," erang Edward keras membuat Deya takjub. Wajah putih pria itu memerah dengan keringat yang membasahi ujung rambut yang pendek. Kelopak mata sedikit tertutup merasakan kenikmatan yang ada.


Pria itu nampak seribu lebih tampan dari sebelumnya dengan tampilan acak seperti itu. Rasa puas terbit di bibir Deya membentuk sebuah lengkungan senyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2