
Mobil yang Deya naiki masuk ke pekarangan rumah Edward dan berhenti tepat di depan pintu masuk utama. Seorang pengawal keluar terlebih dahulu membuka pintu mobil untuk Deya.
Di atas sana ada seseorang yang sedang mengamati gerakan dari Deya dengan melipat kedua tangan di perut.
"Sekarang seekor katak berubah menjadi putri karena mencium seorang pangeran. Namun, katak tetap katak. Tidak akan kuat lama hidup di daratan. Dia akan rindu dengan air comberan yang bau dan menjijikkan. Untuk itu aku akan membantumu kembali ke dunia itu."
"Nyonya, Nyonya muda baru datang, dia ingin berbicara dengan Anda."
"Katakan, aku sedang sakit dan tidak ingin diganggu," ucap Soraya dengan wajah lesu serta gestur tubuh orang sakit.
Deya yang berada di bawah mulai mencari keberadaan Zahra. Dia tahu jika anak itu tidak masuk sekolah beberapa hari ini. Dia akan tanyakan alasannya mengapa?
Tok... tok....
Suara ketukan pintu di kamar Zahra mulai terdengar.
"Masuk...." terdengar jawaban dari dalam kamar.
Deya mulai membuka pintu. Anak itu tengah asik melukis dengan posisi memunggungi Deya.
"Tolong bawakan aku segelas air putih."
Deya melihat sekelilingnya dan menemukan baki yang berisi gelas dan teko kaca. Dia lantas menuangkan air minum untuk Zahra dan mengulurkannya.
"Terimakasih," kata Zahra tanpa melihat ke arah Deya.
"Sama-sama," jawab Deya membuat Zahra terkejut. Menoleh.
"Kak Deya!"
"Hai, Sayang," sapa Deya tersenyum lebar. Dia memeluk Zahra dengan sayang namun anak itu tetap ditempatnya tidak memberi respon.
"Bagaimana kabarmu?"
Wajah Zahra nampak marah dan kecewa di saat yang bersamaan. Dia memalingkan muka ke arah lain. Dia merasa tidak nyaman dengan hal ini.
__ADS_1
"Kenapa Kakak kemari?" tanya Zahra kembali menyapukan kuas ke atas kertas. Dia memberi warna hitam yang tegas pada lukisan dan secara acak, itu seperti menggambarkan emosinya yang sedang kacau.
"Aku merindukanmu, sudah lama kita tidak bersama."
"Merindukan? Bukankah kakak bisa menemui keluarga kakak yang bahagia itu. Kakak juga sudah punya Ayah yang menemani kakak setiap saat, kenapa rindu?"
"Kakak menyayangimu, Zahra." Mendengar ucapan Deya, Zahra melempar kuas di tangannya dengan keras.
"Bohong, kakak hanya sayang pada Ayah bukan padaku, kakak di sini untuk mengambil ayah dariku, aku benci kakak," ungkap Zahra.
"Zahra!" panggil Deya lembut. Dia tidak percaya Zahra yang manis kini berubah menjadi seperti ini.
"Pergi dari sini, aku tidak suka kakak ada di sini," serunya sambil menangis.
"Nyonya, apa yang Anda lakukan!" Mr Lee masuk ke dalam ruangan Zahra.
"Aku tidak melakukan apapun."
"Cukup Deya, aku berusaha menghormatimu karena itu permintaan dari Tuan Edward, tetapi jika kau menyakiti Nona kami, aku tidak akan menerima."
"Aku sungguh tidak melakukan apapun," ucap Deya.
"Pak Lee, kau tidak tahu jika aku...." Deya tidak meneruskan kata-kata nya percuma saja berbicara dengan Mr. Lee, dia tidak akan pernah mengerti.
Deya berjalan keluar kamar menuju kamar Soraya. Dia sudah geram dengan semua rencana wanita itu yang ingin menjatuhkannya di mata semua orang.
"Nyonya Anda mau kemana?" teriak Mr. Lee. Deya tidak mengindahkan. Hingga akhirnya dia membuka pintu kamar Soraya dan mendapati wanita itu sedang mengecat kuku.
"Apa kau tidak punya sopan santun masuk rumah orang seenak sendiri kini masuk ke kamar orang tanpa permisi."
"Sopan santunku pergi ketika bertemu dengan manusia bersifat ular sepertimu."
"Ha... ha... kau ternyata mulai mengenalku dengan baik." Soraya berdiri dengan anggun mendekat ke arah Deya.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Soraya meniup kukunya yang masih basah.
__ADS_1
"Kau ingin kau hentikan semua dramamu di depan semua orang."
"Memang apa yang telah kulakukan?" ucap Soraya dengan mimik tidak bersalah. Mengerjapkan kedua mata di depan Deya.
"Kau sering membuat status dan caption yang memperparah berita di luaran sana."
"Well, aku tidak pernah menyebutkan namamu dan fotomu. Aku hanya menuliskan apa yang kurasakan. Aku sedih, anakku kini kehilangan ayahnya yang telah direbut oleh seorang putri katak tidak tahu diri."
"Mbak Aya!"
"Kenapa? Memang begitu kan aslinya. Kau datang untuk merebut Edward setelah Edward kau rebut, kau ingin rumah ini jadi kau dekati Zahra. Namun, sayang aku datang terlebih dahulu jadi kau rubah arah ceritanya. Kau pisahkan Zahra dari ayahnya dengan kejam," ucap Soraya dengan berbisik.
"Mbak Aya, aku tidak pernah melarang Mas Ed untuk bertemu dengan Zahra."
"Nyatanya, kau melakukan itu, kau sebenarnya tidak sayang anakku kau hanya ingin terlihat sebagai wanita yang sempurna di mata suamiku. Ibu tiri selalu punya niat buruk pada anak suaminya," teriak Soraya. Dia melihat Zahra dan Mr Lee berjalan ke arah kamarnya.
"Mbak Aya!" Soraya lantas menekuk kakinya dan memegang kaki Deya.
"Aku mohon Deya, biarkan Edward bertemu dengan Zahra. Kasihan Zahra, dia sangat merindukan ayahnya. Jika kau mau, aku akan pergi dari rumah ini. Namun, kembalikan Zahra dalam pelukan ayahnya." Soraya menangis keras membuat Deya bingung.
"Tidak usah bersandiwara, aku tidak akan termakan oleh omongan mu. Mas Ed tidak mau kesini karena dia membenci tingkah lakumu itu yang menjijikkan." Deya mendorong tubuh Soraya ke belakang. Di saat yang sama dia menatap Zahra yang sedang berdiri di depan pintu dari kaca meja rias. Tubuhnya membeku seketika.
"Aku tahu jika Mas Ed membenciku tetapi jangan buat Zahra jadi korbannya. Dia butuh ayahnya."
"Ibu, jangan melakukan hal itu pada dia." Zahra memeluk tubuh ibunya yang bersimpuh di lantai dan menangis.
"Ibu mengapa seperti ini. Kita berdua saja tidak apa-apa. Aku tidak suka ibu melakukan ini. Biar Ayah pergi dengan dia. Aku tetap bersama, Ibu," ucap Zahra tersedu-sedu.
Tubuh Deya mundur ke belakang dengan lemas. Permainan Soraya sangat cantik sekali, mudah baginya terlihat buruk di mata semua orang tidak terkecuali Zahra. Dia tersenyum sedih sambil menggelengkan kepala. Ibu macam itu yang memanfaatkan anaknya demi keuntungannya sendiri.
"Zahra tapi kau butuh ayahmu bukan ibu, Nak. Jika kau bersama dengan Ayah, kau bisa punya ibu yang baik seperti Kak Deya ini."
"Dia tidak baik, Bu. Dia datang hanya untuk mencuri Ayah saja. Setelah itu, dia membawa Ayah pergi bersamanya dan melupakan kita."
"Aku sayang Ibu dan mau bersama Ibu saja." Zahra menatap ke arah ibunya.
__ADS_1
"Ibu juga sayang padamu, sangat mencintaimu. Kau adalah nafas dan hidup Ibu."
Mereka lalu menangis berpelukan, untuk sesaat Deya melihat wajah Soraya tersenyum penuh kemenangan ke arahnya. Deya memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan rumah itu dalam diam. Semua pelayan melihat ke arahnya.