
"Aku akan mengajukan cerai secepatnya," ujar Edward.
"Apakah kau yakin?"
"Aku tidak pernah seyakin ini. Keputusanku sudah bulat."
"Apakah ini juga karena aku?" Deya ingin jawaban dari mulut Edward mengenai hal ini.
"Soraya pernah mengajukan cerai terlebih dahulu namun dia kembali dan meminta maaf."
"Kenapa kau tidak memaafkannya, bukankah manusia tempatnya salah. Dia mungkin ingin memperbaiki hubungannya dengan kau dan Zahra. Keputusanmu untuk bercerai dengan Soraya apakah tidak berdampak buruk pada perkembangan psikis anak itu?"
"Deya kau ingin mengajakku berdebat di pagi hari atau apa?" tegas Edward.
"Aku tidak tahu, ini semua terlalu cepat untukku dan aku masih belum yakin, kita tidak bisa menjalaninya dengan baik.
" Apa yang membuatmu ragu?"
__ADS_1
Deya menarik nafasnya panjang. "Soraya bukan orang biasa dia artis terkenal jika orang tahu aku yang ada diantara kalian berdua, kau tahu sebab atau perkara yang akan timbul kan?" ujar Deya.
Edward menghela nafasnya panjang. "Ini bukan soal antara kita dengan orang tuamu saja tetapi dengan banyak orang, apa kau sadar itu."
"Bukan hanya diriku yang jadi bahan kebencian para fans fanatik Soraya tetapi juga keluargaku. Mereka akan mencari tahu tentang dirimu semuanya dan merenggut kebebasanku nantinya. Aku bahkan bisa dikeluarkan dari tempat kuliahku jika skandal ini sampai tercium pihak dosen."
"De, aku bukan bermaksud seperti itu dan tidak ingin kejadian itu terjadi. Namun, yang kau katakan itu memang benar."
"Maka dari itu aku ingin semuanya diundur untuk sementara waktu. Aku ingin kita bisa bersama seperti ini saja tapi jangan memintaku untuk hal lainnya, bukan karena aku tidak mau hanya saja waktunya tidak tepat."
"Aku tidak tahu," ujar Deya bingung.
Edward memegang tangan Deya. "Kita akan lewati semua dengan baik. Percaya padaku, aku akan menyelesaikan semua urusan ini." Edward memeluk Deya.
"Aku takut," ujar Deya
"Ada aku yang akan selalu bersamamu. Kita lewati semua bersama walau terasa sulit, tetapi aku yakin kita bisa melewatinya." Deya mengangguk
__ADS_1
Edward baru saja pergi keluar dari apartemen ketika belum pintu huniannya terdengar. Deya tersenyum mengira jika itu adalah Edward yang kembali lagi. Deya tersenyum berjalan membuka pintu.
"Ada apalagi?" tanya Deya terkejut melihat siapa yang ada di depannya. "Zahra, Nyonya," panggil Deya pada dua orang wanita beda d
generasi yang ada di depannya.
"Aku mohon Deya, jangan pisahkan aku dengan suamiku," ucap Soraya menekuk kakinya ke lantai, bersimpuh di depan Deya.
"Ibu... jangan lakukan itu," ujar Zahra menangis.
Deya melihat ke arah Zahra, lalu memegang bahu Soraya.
"Kumohon, Nyonya jangan lakukan ini. Kau tidak harus melakukan ini."
"Lalu aku harus melakukan apa? Aku sudah membujuk Edward dan minta maaf padanya agar dia mau kembali padaku nyatanya tidak," ungkap Soraya penuh emosi sakit yang menyayat hati. "Biasanya wanita kedua yang bersimpuh agar diterima hubungannya dengan suami. Namun, kini aku yang bersimpuh agar Edward tidak meninggalkanku."
"Baiklah, aku akan membujuknya agar tidak meneruskan soal perceraian itu." Deya tidak tahu harus mengatakan apalagi. Di satu sisi dia tidak tahu keinginan suaminya yang kekeh ingin bercerai dengan istri sahnya. Disisi yang lain ada Zahra yang masih butuh kasih sayang keduanya.
__ADS_1