Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab.17 Saling Mencintai?


__ADS_3

Ibu Ratmi masih diam. Belum menyatakan kesetujuannya untuk permintaan Deya yang ingin menikah dengan Edward. Semua yang dikatakan oleh Deya memang benar tetapi aral rintangan pasti menerjang jika Deya melakukan hal gila ini. Hujatan dari semua orang. Hujatan dari keluarga Edward dan juga bagaimana cara dia menghadapi istri pertamanya. Wanita itu pasti terluka jika Deya merebut suaminya. Belum lagi dengan anaknya. Apakah dia akan menerima kehadiran Deya, orang yang membuat hidup ibunya hancur.


Apakah Deya bisa berbagi cinta dan waktu dengan wanita lain? Apakah dia bisa mengalah jika waktu untuk keluarga istri pertamanya lebih banyak? Apakah dia menerima jika dia hanya menjadi wanita simpanan yang tidak pernah terlihat orang lain? Semua itu tidak mudah tetapi Deya tidak sadar dengan tindakannya itu.


Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam dada Ibu Ratmi. Sesak. Rasanya ingin menangis dan menjerit. Ibu Ratmi lalu menatap suaminya yang masih tertidur lelap.


"Jika kau mendengar ucapan Deya, Kira-kira apa yang akan kau lakukan?"


Deya sendiri sedang ada di rumahnya memandangi Raihan dan Ryan yang sedang menyantap makanan restoran. Namun, pikirannya pergi entah kemana.


"Kakak, kenapa malah melamun bukannya makan." Ryan mengguncang tubuh Deya membuat wanita itu terkejut.


"Kakak sudah makan tadi sebelum pulang." Sebenarnya Deya sama sekali belum makan karena nafsu makannya tidak ada memikirkan semua masalah yang ada. "Apakah enak?"


"Ini sangat enak. Makanan terenak yang pernah aku makan. Kakak dapat darimana?" tanya Ryan.


"Dari teman kakak."


"Pasti Kak Angga karena hanya dia yang sering membawa makanan," ujar Ryan.


"Bukan dia," jawab Deya.


"Lalu siapa?"


"Kau mengenalnya."


"Siapa Kak? Kak Lia?" cecar Raihan masih penasaran.


Deya menggelengkan kepala.


"Oh aku tahu. Kakak yang suka antar kakak pulang dari kampus.''


''Bukan!"


"Lalu siapa Kak?"


"Yang mengantar kita pulang dari rumah sakit."


"Oh, pria itu. Kelihatan orang baik ya, Kak?''


" Hum," jawab Deya.


"Tapi bukannya dia sudah punya anak?"


"Memang kenapa? Apa hubungan makanan dan orang beri makanan."


"Tidak apa-apa," jawab kedua adik Deya.


Sebuah panggilan mampir ke handphone Deya. Dia menggeser tombol merah. Panggilan terjadi lagi, Deya melakukan hal. yang sama. Sebuah pesan mulai masuk.


'Keluar rumah dan angkat atau aku akan ke rumahmu!' Tulis Edward dalam chat. Deya menghela nafas. Baru saja dia menurut sudah banyak menuntut.


"Kakak mau keluar dulu ya, mau mengangkat telepon kalau sudah selesai cuci mulut lalu tidur."


"Okey!"

__ADS_1


Deya lantas pergi keluar rumah setelah mendapat panggilan lagi.


"Ada apa?"


"Mas!"


"Ada apa, Mas,"


"Kau lihat ke depan," kata Edward.


Deya lalu menutup mulutnya. Dia melihat sekitar ketika mendekat ke arah mobil. Deya mengetuk pintu dan pintu terbuka.


"Mau apa kau ke sini?" tanya Deya.


"Masuk!"


"Ada adik-adikku di dalam."


"Aku hanya ingin bicara denganmu sebelum. pulang ke rumah."


"Untuk apa, bukankah tadi kita sudah bertemu dan bicara."


"Ini untukmu." Edward mengambil kotak besar pizza dari tempat duduk penumpang.


"Belum sore ini tapi pagi sudah."


Edward menajamkan matanya menatap Deya tetapi Deya malah tertawa renyah.


"Aku tidak enak makan teringat bagaimana kau menciumku," ujar Deya. Ini adalah salah satu trik memikat pria yang diajarkan oleh Lia. Harus memberi pujian atas apa yang pria itu berikan termasuk dalam soal hubungan intim. Membuat pria senang dan percaya diri serta nyaman bersama kita. Terkadang istri sah tidak mau mengatakannya karena malu. Bahkan ada yang malah mengatakan sesuatu yang jelek di depan suami sehingga suami mencari wanita lain untuk membuktikan bahwa dia hebat di ranjang.


"Malah kebetulan kan? Kita bisa langsung menikah."


"Ck!"


"Di makan dulu."


"Di dalam rumah saja."


"Di sini biar aku tahu kau sudah makan atau belum."


Deya mengerutkan bibirnya membuka kotak pizza. Dia membuka salah satu dan memberikan pada Edward.


"Kau makan dulu," ucap Deya. Edward mulai menggigit. Pria itu lantas memegang tangan Deya dan memasukkan pizza ke mulut Deya.


"Makan yang banyak agar sedikit berisi."


"Gendut dong, nanti nggak seksi."


"Berisi bukan berarti gemuk."


"Nggak mau akh, nanti kamu cepat bosan." Mereka mulai makan bersama.


Cetar!


Sebuah sentilan mengenai kepala Deya membuat wanita itu memegang dahinya yang sedikit panas.

__ADS_1


"Belum apa-apa sudah KDRT."


"Makanya kalau ngomong yang benar."


"Aku hanya mengatakan apa yang ada dalam pikiranku. Tidak salahkan jika aku berpikir demikian."


"Kau belum mengenalku makanya kau mengatakan itu."


"Istrimu dia masih terlihat muda dan cantik jika aku menjadi gemuk kalah saing dong."


"Cantik dan menarik itu bukan segalanya. Pria akan tulus mencintai seseorang jika wanita itu juga memiliki ketulusan dan cinta untuk suaminya."


"Lalu mengapa kau memintaku menjadi simpanan mu berarti cintamu pada Soraya tidak tulus dong?"


"Karena kau itu butuh bantuan ku dan kau juga terlihat menggemaskan untuk kumiliki. Cintaku pada Soraya itu urusan hatiku. Bukankah sudah kukatakan jika kita jangan terlalu masuk ke tanah pribadi masing-masing."


Deya sejenak menghentikan aktivitasnya mengunyah pizza. Mulai berpikir dengan otaknya yang kecil.


"Jadi kau melakukannya karena kasihan padaku?" Ada rasa kecewa yang dalam.


"Ya, dari pada kau dimiliki pria lain lebih baik untukku saja," jawab jujur Edward. Sifat Deya yang blak-blakan membuat dia nyaman untuk berkata jujur.


"Kau menyakiti hatiku. Kalimat daripada dimiliki orang lain terasa merendahkan. Tidak bisakah kau mengatakan jika kau sangat tertarik padaku sehingga enggan melepaskanku. Sedikit berbohong tidak apa-apa kan agar bisa menyenangkan hati." Deya membungkus kalimat itu dengan senyuman yang manis dan suara yang manja sehingga Edward yang mendengarnya tersenyum kembali.


"Hidup dalam kebohongan seperti hidup dan ilusi Deya. Lebih baik kita saling jujur agar tercipta hubungan yang sehat tanpa adanya kepalsuan." Edward mengusap rambut Deya.


"Kau masih terlalu muda untuk tahu bagaimana kejamnya dunia. Masih banyak waktu untuk belajar tentang itu."


"Aku sudah bicara dengan Ibu tentang hubungan kita."


Suasana terasa hening.


"Apa yang kau katakan padanya?"


"Jika kita saling mencintai dan ingin melakukan pernikahan itu," ucap Deya lirih menatap ke arah Edward lalu meringis.


Sejenak Edward terhenyak, mengambil nafas dalam menatap ke depan.


Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu, wajahnya nampak serius dan tatapannya kosong.


"Lalu apa yang ibumu katakan?" Deya yang ditanya menunduk memainkan kakinya.


"Ibu nampak keberatan tetapi belum menjawabnya."


"Ayahmu?"


"Kami belum berbicara."


"Kalau begitu aku akan menemui ayahmu besok." Deya membuka mulut dan matanya lebar. Dia menelan air liur dengan sulit.


"Jangan!"


"Kenapa?"


***

__ADS_1


Bantu aku dengan vote agar karya ini dilirik yang lain terutama editor kesayangan, ha... ha... rindu promosi nih.... jangan lupa tinggalkan jejak manis berupa like atau komennya. Okey!


__ADS_2