
Orang tua dan keluarga Yasmin berpamitan untuk pulang, Haya nampak berat melepas kakek dan neneknya begitupun mereka.
" Nenek nanti main lho ke rumah Aya, janji", Ucap Aya manja.
" Iya nanti kakek sama Nenek tidur sana", Jawab sang kakek mengusap rambut Aya, pak Yasman sadar betul jika cucunya ini memiliki sifat manja.
" Janji ya kek", Ucap Aya.
" iya dong! Nenek sama kakek kan mau jalan jalan ke kota, sama pakde Yudi dan keluarganya juga oke", Ujar Kakek.
" Yeeee.... Asyik, beneran ya kek!", Aya girang dan penuh harap suatu hari kakek dan neneknya akan datang kekota.
Nenek dan kakeknya cuma bisa tersenyum menanggapi kegirangan sang cucu.
" Sudah ya semuanya, kami pamit, terima kasih jamuannya, semoga kita menjadi tambah saudara", Pamit pak Yasman mewakili semuanya.
" Sama sama pak, bu ... pasti kita akan selalu menjadi saudara", Ucap pak Nugroho bapaknya dokter Yusuf.
" Nak Yusuf, bapak nitip Yasmin dan juga cucu cucu bapak, tolong jaga mereka, bapak percaya nak Yusuf bisa membimbing mereka hingga mereka mandiri", Ujar pak Yasman memeluk dokter Yusuf penuh haru, begitupun dokter Yusuf yang mendapat amanah itu menjadi melo hatinya.
" Pasti pak, mereka semua menjadi tanggung jawab saya sekarang", Jawab dokter Yusuf dengan mata berkaca kaca, merasa haru diamanahi dengan ucapan seperti itu dari bapak mertuanya.
Mereka bersalaman dan keluarga Yasmin masuk mobil untuk pulang.
" Assalamualaikum".
" Waalaikum salam".
Hanan hari ini ke rumah Dewi dengan maksud untuk mengambil barang barang yang masih berada di rumah itu.
Namun Dewi rupanya masih di kios dan dengan terpaksa Hanan harus menyusul karena untuk mengambil kunci rumah.
" Ma", Sapa Hanan saat sampai di kios melihat Dewi sedang menyetrika.
" Oh, masih ingat pak", Jawab Dewi sinis.
__ADS_1
" Jangan mulai, aku kesini cuma mau pinjam kunci, mau ambil baju dan barang yang masih di rumah". Ucap Hanan acuh.
" Gampang!!! jika cuma mau ambil barang barang bapak, yang penting ceraikan dulu mama pak!", Jawab Dewi tak kalah acuh dan tak menghentikan setrikanya.
" Gampang!!!," Ucap balik Hanan.
" Kalau gampang sekarang juga talak mama pak!", Ucap Dewi seperti menantang.
" Asal mama tahu, bapak dulu begitu mencintai kamu ma, bahkan dengan sadar bapak telah menduakan bunda, tapi apa yang bapak dapatkan?, Kamu murahan sampai tega mengkhianati bapak, semua bapak betokan untuk mama... bahkan hutangmu yang segudang itu pun bapak yang membereskan, dan hal yang paling menyakitkan bagi bapak, bapak sampai menjual cincin kawin bapak dengan bunda, demi apa, demi siapa? Demi kamu, demi wanita yang aku cintai, dan ternyata bapak salah!", Ucap Hanan dengan suara dan badan yang bergetar hebat, matanya berkaca kaca, dalam ucapannya ada kemarahan yang luar biasa dan juga ada kesakitan dan penyesalan yang hebat juga, hingga Hanan hanya bisa mengepalkan tangannya kuat kuat.
" Maaf!", Ucap Dewi, mendengar pengakuan Hanan, Dewi juga merasakan penyesalan yang luar biasa dalam.
" Coba jika kamu dulu mau punya anak kita tidak akan seperti ini, sebegitunya bapak menurut sama kamu ma, tapi apa? Apaaa!!?", Hanan mengeraskan suaranya dengan mata merah dan kepalan tangan yang kuat.
Dewi juga tergugu lemas, menyesal, sungguh mau di bilang seperti apapun dia menyesali saran temannya Cici untuk memakai jasa mang Usep sableng.
" Maafkan mama pak, sekarang mama ikhlas bapak kembali pada bunda, mama tidak akan menganggu kebahagian kalian, bunda itu begitu tulus dan begitu baik, mama tahu itu pak, mama punya banyak salah padanya", Ujar Dewi.
Hanan melirik sinis pada Dewi, " Itu tidak akan pernah terjadi, kami sudah berpisah lama, itu semua bapak lakukan demi kamu ma... dan ternyata bapak salah telah memilih mama!", Jawaban Hanan sukses membuat Dewi makin menyesali perbuatannya.
" Ya Tuhan... bapak tidak bercanda?", Ucap Dewi dengan derai air mata, sungguh Dewi merasa semakin menyesal dan berdosa besar pada Yasmin.
" Tidak ada candaan dalam kata cerai, bahkan dalam kondisi marah sekalipun kata cerai di sahkan", Jawab Hanan dingin.
__ADS_1
Dewi yang baru sadar dengan itu, iya pelajaran itu pernah ia dapatkan saat SMP baru teringat sekarang jika seorang lelaki menyebut kata cerai/ talak meskipun bercanda atau dalam keadaan marah sekalipun itu dianggap benar adanya, dan karena ingatannya itu Dewi makin terpuruk dalam penyesalan yang dalam.
" Ya Alloh", Dewi duduk merosot dan bersandar di tembok, air matanya sudah banjir, tenggorokannya tercekat hebat, dadanya sesak, kakinya lemas, bahkan nyaris tidak bisa berkata kata lagi.
" Maaf", ucapnya lirih menahan sakit didadanya. Betapa jahat dirinya, pantas saja hidupnya selalu dalam masalah yang seakan tiada henti.
" Maaf mu sudah tidak bisa memperbaiki semuanya ma, semua telah menjadi bubur, jika saat itu kita menuruti ucapan ustadz Bukhori, mungkin kita tidak akan berada dalam keadaan seperti sekarang, paling tidak hidup kita bisa lebih tenang", Ucap Hanan datar.
Dewi terisak, " Mungkin juga mama masih bersama anak anak, kerja keras seperti ini tapi untuk siapa? Mereka sudah tidak berada di sisi mama pak?!", Dewi kembali terisak dengan hebat, bukan hanya sekedar penyesalan, dijauhkan dari anak anak bagi seorang ibu adalah pukulan terhebat dalam hidupnya, jika sakit masih berharap bisa sembuh, tapi kehilangan anak jauh lebih sakit dari kata sakit itu sendiri.
Hanan pun tak tahan mrlihat tangisan Dewi pun ikut menangis, " Sama ma, kita sama! Sama sama ditinggalkan oleh mereka yang kita perjuangkan", Ucap Hanan lirih, mendengar kata kata Dewi, Hanan pun merasa tertampar, bagaimana tidak diapun bekerja pada akhirnya hasilnya buat siapa?.
" Kalau kita pisah apa rencana mama?", Tanya Hanan, biar bagaimanapun mereka memang sudah tidak bisa bersatu.
" Ya tetap melanjutkan hidup pak! Mama tahu menjadi pelakor itu pada akhirnya aku yang rugi, lihat diriku saat ini, miris ya? Gigi ompong, kepala pitak, badan tak sesempurna dulu, kerjaan tidak punya, pandangan masyarakat negatif, anak pun akhirnya terlepas dan bapak juga pada akhirnya pergi.... hiks", Dewi terisak yang sangat menyayat hati, terasa sangat pedih dan merana.
" Maaf jika bapak tidak bisa sempurna menjadi suami mu, pada saat restu ibu ku, aku dapat untuk kita, tetapi ternyata keadaan kita sudah seperti ini, kita sudah hancur tak tersisa".
" Mulai hari ini aku bebaskan Engkau Dewi dari istriku, engkau aku talak!", Ucap Hanan lantang dengan menahan nafas.
Keduanya memangis tersedu, Dewi menanti kata itu untuk beberapa waktu ini, namun nyatanya hatinya hancur berkeping keping saat Hanan mentalaknya.
Menjeritpun tiada guna, ini hanya masalah waktu, pasti akan begini juga pada akhirnya, Pasrah.
__ADS_1
Bersambung.......