JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Insiden dijalan


__ADS_3

Greb...


Hanan memarkirkan motornya, disana sudah ada motor Dewi nangkring diteras, namun knalpotnya masih ngebul berarti Dewi juga baru masuk, terbayang betapa ngebutnya Dewi untuk ukuran emak emak, semoga saja tidak salah pencet rigthing kekanan beloknya kekirin, ya mak Dewi.


" Maaaa....", Hanan sedikit tergesa memasuki rumah yang tidak terkunci, benar istrinya itu tengah duduk disisi ranjang tidur dengan nafas naik turun dan wajah pucat.


Hanan pun sama, nafasnya turun naik menahan amarah giginya merapat sempurna untuk menahan agar tak kelepasan.


" Ayo bicara! Bicara!!", Hanan mengeraskan suaranya seraya mengamati Dewi yang sudah basah oleh keringat dingin mengalir dipelipisnya.


" Ma...afff", Ujar Dewi terbata, dengan wajah ketakutan, air matanya langsung tumpah ruah membasahi pipinya.


" untuk? Jelaskan!!", Hanan melotor nanar menatap Dewi wajahnya tak terlihat ada kebaikkan sedikitpun disana, membuat Dewi hampir terkencing dicelana.


" Mama ga jujur sama bapak, mama memang suka karaoke cuma biasanya tidak goyang, baru tadi aja karena sudah lama tidak pernah lagi semenjak menikah sama bapak", Ujar Dewi terbata dengan tertunduk.


" Dengan siapa tadi?", Suara Hanan belum turun volumenya.


" Sab.... ehh... teman pak, teman lama", Jawab Dewi dengan duara bergetar apalagi tadi hampir keceplosan.


Tok


Tok


Tok


Sementara Hanan sedang mengiterogasi Dewi diluar ada yang mengtuk pintu dengan hebohnya.


" Hah! Siapa lagi itu, sudah malam juga!", Hanan berbicara masih dengan menatap Dewi, tetapi kali ini wajah Deei makin pucat pasi, bahkan terlihat jika dia sangat lemas hingga seperti tak ada tenaga, tetapi Hanan tak peduli, Dia langsung keluar kamar bezmaksud membuka pintu.


" Iya ini benar motornya, lihat itu dasbor depannya", Suara orang bicara di terasnya terdengar, membuat Hanan yang sedang mengintip siapa tamunya, jadi mengeryit.

__ADS_1


Brak


Hanan membuka pintu.


" Ada apa ya?", Tanya Hanan dingin, diluar sudah ada pak RT dan dua orang lainnya yang tidak Hanan kenal.


" Selamat malam pak", Ucap pak Rt.


" Malam, ada apa ya pak?", Tanya Hanan bingung.


" Begini pak, barusan mas mas ini datang kerumah saya dan mereka berdua bilang jika barusan motor yang ibu Dewi kendarai tadi dijalan menyerempet orang, dan orangnya terjatuh, sekarang sudah dibawa ke rumah sakit", Pak RT menjelaskan.


Deg


Hati Hanan, dia pun langsung lemas, seperti disambar geludug disiang bolong.


" Maa.... sini!!", Hanan dengan kencang memanggil Dewi untuk keluar.


" Ini, bapak bapak ini mencari mama, katanya tadi mama menyerempet orang!", Suara dingin Hanan begitu menusuk hati Dewi, membuat semakin takut.


" Silahkan masuk bapak bapak, biarkan istri saya yang mrnjelaskan, dan tolong juga jelaskan kronologinya menurut saksi ini", Hanan mempersilahkan tamunya masuk.


" Begini pak, saya berboncengan dengan teman saya dan teman saya ini berboncengan juga dengan teman saya yang satu lagi, kami berada di belakang motor ibu, kami merasa jika ibu naik motornya buru buru dan kadang tak terkendali, saat ada yang mau menyebrang ibu ini sepertinya kurang konsentrasijadinya menyerempet, jatuhlah korban, namun ibu terus saja, dan kami akhirnya berinisiatif menolong korban, tetapi teman saya ini lanjut mengikuti ibu sampai rumah sini, tetapi teman saya ini tidak berani langsung menegur ibu karena menunggu kabar dari kami, dan saat sudah di klinik dia menelpon dan menunggu hasil dari dokter yang memeriksa, dan saya dikabari jika pasien harus di jahit lima jahitan dan juga harus di rawat karena kakinya banyak mengalami luka lecet sehingga baru besok pagi diperbolehkan pulang oleh dokter", Terang saksi.


Dewi hanya tertunduk sedih, badannya gemetar, sementara Hanan masih bisa bersyukur dalam hati korbannya tidak sampai meninggal, namun kepalanya akhirnya berdenyut juga, menginggat dua pemuda ini datang pasti karena minta Dewi tanggung jawab, nah itu artinya uang.


Hanan melirik Dewi tajam, hatinya bagai dihantam palu godam, tidak bisa lagi di gambarkan rasa marahnya pada Dewi terlebih ini menyangkut uang lagi uang lagi.


" Hem.... Terima kasih mas mas yang sudah menolong korban, untung ada kalian jika tidak mungkin istri saya ini akan kabur dan tidak akan tanggung jawab, tolong antar kami menjenguk korbannya", Ujar Hanan dengan sedikit rasa malu.


" Ma, sekarang kamu nyerempet orang tapi tak ada inisiatif untuk menolong, nah jika begini, apa yang bisa mama lakukan? Malu tidak?", Tanya Hanan pada istrinya yang duduk disebelah sambil tertunduk.

__ADS_1


Dewi diam saja, sesekali terdengar isaknya.


" Karena sudah malam, sebaiknya bapak ibu datang sendiri ke klinik Kemuning, nama pasiennya bu Endah, ini saya tadi sempat fotoin", Ujar orang yang telah ngaku menolong korban, Hanan mengamari korban itu, nampak perban dikepalanya, serta di sepanjang kaki dan tangan korban yang katanya lecet juga di perban.


" Baik, tetimakasih atas informasinya, terima kasih juga pak RT", Ujar Hanan.


" Kami permisi pak", Pamit pak Rt dan dua orang yang lainnya tadi.


" Oya, silahkan, sekali lagi terima kasih", Hanan.


" Hemm.... Tahu berapa kesalahan mama hari ini, tahu!!! ", Suara Hanan keras dengan mata nanar melotot tajam pada Dewi, sementara Dewi tertunduk takut sambil manggut.


" Berapa sebutin?!!!", Teriaknya lagi.


Dewi menggelengkan kepala, " Bingung? Ga bisa jawab!, Terlalu banyak?!, Atau masih ada dosa yang mama perbuat hari ini tanpa bapak tahu?", Hanan menekan setiap kata.


" Pakai baju pantas, kita ke rumah sakit sekarang!", Seru Hanan diapun juga berdiap, diliriknya motor Dewi, tak ada yang salah, syukurlah berarti tidak kenang menyerempetnya, batin Hanan.


Dewi keluar dengan memakai jaket dan mengunci pintu, sementara Hanan sudah menunggu diatas motor, sebetulnya Hanan ingin marah hebat tetapi penolong tadi bilang jika besok pagi pasien sudah boleh pulang jadi malam ini Hanan ingin segera menyelesaikan masalah yang menyangkut orang lain dulu. Sebisa mungkin menahan amarahnya.


" Ma.... Bapak kamu dulu ada kan, saat mama dilahirkan?", Tanya Hanan.


" Ya ada lah, memang kenapa?", Tanya Dewi.


" Besok tanya sama bapak, waktu kamu lahir di adzankan tidak? Kok Kamu itu beda banget sama bunda?!", Kets Hanan.


" Apa maksud bapak bilang gitu? Mau bandingin mama sama bunda, iya? Halah... jangan percaya sama orang yang dikerudung!", Ketus Dewi.


" Iya, kalau yang dikerudungnya model mama memang jangan dipercaya, munafik... tapi jangan petnah kamu mrnghina bunda, dia jauh lrbih baik dari mama", Ketus Hanan.


" Kalau bunda lebih baik dari mama kenapa juga bapak masih menikah lagi dan mama yang bapak pilih!", Ketus Dewi, dan ucapan Dewi dimotor itupun suksus membungkan Hanan hingga terdiam sampai rumah sakit.

__ADS_1


Mereka pun bertemu dengan pasien, Dewi meminta maaf dan Hanan menyesaikan administrasi.


Bersambung...


__ADS_2