JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Cerita


__ADS_3

" Santai mas, Mas boleh ketemu dengan anak-anak kapan pun tetapi untuk bundanya harus melalui izin saya dulu mas, sorry gue tidak minta izin dulu bundanya anak-anak sekarang sudah menjadi bundanya anak-anak saya juga", dokter Yusuf pun terkekeh lebar untuk memberikan suasana rileks karena dia sangat tahu saat ini Hanan sedang tegang dan stress.


Hanan yang yang sedari tadi sudah seperti sport jantung ditambah dengan ucapan dokter Yusuf makin lemas jangankan untuk menjawab ucapan dokter Yusuf untuk sekedar mendongakkan kepala saja rasanya sudah tidak mampu.


" Minum dulu teh nya Mas agar sedikit bertenaga, habis itu kita sarapan bareng, jangan canggung Mas anggap saja Mas sedang bertamu kerumah sahabat atau teman, bukankah memang begitu, Mas sudah mengenalku sejak di bangku kuliah, betul Aku ini temannya Bryan dari fakultas kedokteran yang sama dengan Bryan", lengkap dokter Yusuf bukan bermaksud sombong karena Hanan sudah tahu Yusuf seperti yang dia katakan itu.


" kakak pegang Bapak, ajak jalan sampai ke ruang makan kita makan bareng oke", ucap dokter Yusuf kepada Hasan dan Husein, yang tahu kondisi Hanan sedang tidak baik.


Kedua bocah itu pun menuruti perintah sang ayah dengan hormat.


" Baik Ayah!", Ucap keduanya.


" Sudahlah kalian sarapan saja, biar bapak disini", Ucap Hanan yang sebetulnya sedikit tak enak hati bertamu dan langsung diajak sarapan bersama.


" He.... Ayo, sudah aku siapkan mas, jangan sungkan, kapan lagi kita bisa sarapan bareng", Dokter Yusuf akhirnya membantu kedua putranya untuk mengajak Hanan ke ruang makan.


Setelah sampai di ruang makan Hasan dan Husein mendudukkan Hanan di kursi yang berhadapan langsung dengan dokter Yusuf.


" Mari silakan makan Mas seadanya soalnya ini tadi permintaan anak-anak untuk sarapan bubur ayam dan ayahnya langsung mencarikan bubur ayam kesukaan mereka", ucap Yasmin dengan senyum manis kepada Hanan.


Hanan yang sudah sampai dan duduk di depan dokter Yusuf hanya mengangguk seraya mengamati di sudut meja ada seorang anak gadis yang sepantaran dengan Haya putrinya nya.


Gadis itupun hanya menatap Hanan dengan tatapan heran.


" Kakak Awa, kenalkan ini bapaknya Kakak Hasan Husein dan kakak Hawa", ucap Yasmin kepada awal yang terlihat sedari tadi menatap Hanan dengan tatapan heran.


" Oh", jawabnya singkat, Hanan pun mengangguk dengan senyum tipisnya.


" Silakan nikmati dulu sarapannya Mas, mungkin banyak pertanyaan di hati Mas saat ini, nanti akan saya ceritakan tapi mas harus sarapan dulu mengingat ini sudah menjelang siang kami sudah lapar Mas ", dokter Yusuf pun terkekeh lebar agar suasana tidak canggung.

__ADS_1


Hanan pun akhirnya ikut mengulas senyum dan mereka memulai sarapannya.


Semua makanan sudah di hadapan tempat duduk masing-masing, menu pagi ini bubur ayam request dari anak-anak.


Namun begitu makanan yang lembut atau lembek itu di mulut Hanan susah sekali sekedar untuk ditelan pun, tenggorokannya seperti terganjal batu hingga rasanya benar-benar sulit untuk menelannya.


" Minum pak", rupanya Hasan tahu juga bapaknya kesusahan untuk menelan bubur ayam pagi itu, sehingga dia mendekatkan gelas yang berisi teh hangat ke dekat tangan Hanan.


" Iya terima kasih", jawab Hanan.


" Santai aja Mas", ucap dokter Yusuf kembali, sebetulnya dokter Yusuf tahu jika saat ini kondisi Hanan tidak baik-baik saja dari pemeriksaan yang dilakukan tadi pun detak Jantung Hanan tidak normal namun dokter Yusuf berfikir barangkali hanya karena sok saja Setelah sekian lama berpisah dengan anak-anak dan Yasmin terus sekarang bertemu sudah dengan keadaan yang berbeda.


" Hua huaaa... bunda.. ana? ", dari dalam kamar keluarlah anak yang berusia kurang dari 3 tahun dalam kondisi menangis dan menanyakan Bunda mana, sontak semua arah mata memandang ke arah asal suara.


" Sayaaangg.... bunda disini... Ayo kita makan yuk", Yasmin kemudian menghampiri Yafi.


" Akan?", Tanya bocah itu seraya menunjuk ke meja makan.


.


" adek mau disuapin Kakak Iya mau?", Awa langsung menyapa adiknya, bocah itu menggeleng dan menunjuk ke arah Yasmin.


Dokter Yusuf hanya melirik Hanan yang terlihat sedang memperhatikan interaksi Yasmin dengan putranya namun di sini ini dokter Yusuf belum berniat menjelaskan rencananya setelah mereka selesai makan.


" kita ngobrol di belakang yuk Mas", ucap dokter Yusuf seraya berdiri dan berjalan menuju taman di belakang rumahnya yang berdekatan dengan mushola dan juga kolam ikan di sana ada kursi santai.


Hanan mengikuti arah jalan Dokter Yusuf setelah mengangguk mengiyakan ajakannya.


" Bi tolong buatkan kopi untuk kami, suka ngopi kan Mas?", Tanya Dokter Yusuf.

__ADS_1


" Iya boleh", jawab Hanan kemudian mereka beriringan menuju ke taman belakang.


" Hem.... ", dokter Yusuf berdehem untuk memulai pembicaraan.


" Mas masih di kota A?", Tanya Dokter Yusuf.


" Masih", jawab Hanan singkat seraya memandangi ikan-ikan yang berenang di kolam kecil milik dokter Yusuf.


" Sudah dikaruniai putra berapa dengan istri yang baru Mas, maaf!", Tanya Dokter Yusuf hati-hati.


Hanan pun tersenyum dan memandang dokter Yusuf, " belum ada, dengan yang baru saya tidak memiliki anak.", jawaban dengan wajah yang sedikit lesu.


" Oh maaf!", ucap dokter Yusuf Tidak enak hati.


" Tidak apa-apa! memang saya tidak menginginkan anak darinya", jawab Hanan apa adanya.


" Lho kenapa? bukankah Mas Hanan lebih memilih wanita itu daripada Yasmin dan anak-anak, kenapa tidak menginginkan anak darinya?", Tanya Dokter Yusuf lebih dalam.


" awalnya karena dia tidak mau punya anak dulu ternyata setelah waktu berlalu memang mungkin sebaiknya saya dan dia tidak usah punya anak cukup aku dapat anak dari Bunda aku bersyukur karena nya", jawab Hanan seraya tertunduk Entah kenapa melihat anak tadi yang memanggil Yasmin merasa jika dokter Yusuf dan Yasmin adalah orang tuanya.


" Oh begitu!, saya dan Yasmin telah menikah 3 tahun lebih yang lalu dan dari pernikahan itu saya dikaruniai dua orang putra tadi yang pertama putra kami Yafi dia berusia 2 tahun lebih dan yang satu baru saja lahir beberapa bulan yang lalu hampir 4 bulan yang lalu", ucap dokter Yusuf.


Deg


Langit rasanya runtuh menimpa dirinya, dadanya sesak kakinya lemah seluruh badannya bergetar hebat perlahan halaman hendak meraih cangkir kopi yang telah disajikan bi Murni namun kentara sekali tangannya yang tengah bergetar hebat hingga dia pun menarik kembali tangannya takut dokter Yusuf melihatnya.


" Kamu serius dengan ucapan itu barusan?", tanya Hanan dengan nafas berat menahan sesak didadanya.


" Oh maaf Mas, bukannya saya tidak ingat dengan keberadaan Mas Hanan, namun saat kami di pertemukan kami berdua sudah dalam keadaan single dan kami bertemu di kota ini juga, maaf!!! jika sebelumnya saya tidak minta izin dulu pada mas Hanan", ucap dokter Yusuf menyedekapkan kedua tangannya di depan dada seraya menatap Hanan penuh permohonan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2