
Pagi hari berikutnya Yasmin dan Aya serta Husain, mereka pergi kepasar tradisional yang tak jauh dari rumah kakek.
" Bun, waktu kecil bunda suka ikut kepasar?", Tanya Aya.
" Iya, dan bunda selalu jajan dawet", Jawab Yasmin mengenang masa kecilnya.
" Dawet bun, mau ya Aya juga mau merasakan dawet kesukaan bunda itu", Seru Aya.
" Ya, semoga yang jualan masih sama orangnya", Jawab Yasmin.
" Sama apalagi bun selain dawet", Tanya Husain.
" Jamu! Kalian mau minum jamu beras kecur, kunyit asem?", Tanya Yasmin.
" Iih.... ga ach!", Jawab Husain.
" Aya mau bun, yang beras kencur", Jawab Aya senang.
" Boleh".
Yasmin belanja keperluan untuk didapur serta keperluan pribadinya yang sengaja tidak bawa dari rumah.
" Bun, hari ini masak soto saja, biar kakek sama nenek suka", Ucap Aya.
" Baiklah, soto dengan tempe goreng bungkus daun... Mantap", Jawab mereka bertiga senang.
Dan sampailah mereka di tukang yang jualan dawet.
" Yasmin?", Sapa seorang ibu yang sedang membungkus dawet untuk pelanggan.
" Iya bu, kok ibu ga pangling to?", Yasmin senang sekaligus heran bahwa yang jualan dawet masih sama dengan ibu yang dulu suka jualan saat Yasmin masih SD.
" Ya tidaklah, soalnya cantiknya awet, masih tetap cantik, tak usang dimakan usia", Jawab ibu itu kagum pada Yasmin.
" Ibu bisa aja!, Alhamdulillah ibu masih sehat dan panjang usia", Jawab Yasmin.
" Iya nduk, Alhamdulillah... ya begini saja Yas, hidup di kampung", Jawab ibu itu.
" Sama saja bu, mau dikampung ataupun dikota, justru dikampung itu tentram dan damai", Yasmin.
" Anakmu udah berapa?".ibu penjual.
" Tiga bu", Yasmin.
" Lha suamimu Hanan ga ikut?". Ibu penjual.
" Tidak bu", Jawab Yasmin menerima pesanannya, kemudian segera pamit.
Ibu penjual dawet itu memandang Yasmin dengan rasa haru dan kagum, Yasmin masih sama, cantik dan ramah, batinnya.
Sementara di tempat lain.
Sudah seminggu Dewi dan Hanan tidak saling sapa, Hanan mendiamkan Dewi, bahkan untuk urusan kebutuhan sehari hari Hanan yang belanja, tak mau memberikan uang pada Dewi, untuk itu jika kebutuhan di rumah habis maka Hanan Hanan yang akan pergi memenuhi semuanya.
Dewi juga anteng di rumah dan fokus berjualan kembali. Meskipun sedang masa liburan mereka tidak kemana mana, cukup stay dirumah saja.
Hanan kalau siang pergi entah kemana mungkin ke rumah teman atau sekedar berkeliling naik motor, namun diam diam Hanan memasang GPs di ponsel Dewi agar mudah mengetahui kemana pergerakan Dewi.
Sudah seminggu ini dia di rumah terus tidak keluar rumah, mungkin merasa bersalah sama Hanan.
Hanan bermaksud mengunjungi Aya tanpa mau menelpon dulu, rasa bersalah beberapa waktu lalu kini teringat lagi, dirinya yang mengingkari janjinya pada Aya.
__ADS_1
Hanan tahu pasti putrinya akan kecewa, tapi Aya bukan anak yang pendendam, sehingga mudah bagi Hanan meluluhkan kembali kemarahan putrinya.
Hanan mengunjungi sebuah mini market, disana ia membeli susu dengan rasa kesukaan Aya dan kedua putranya, buah buahan beberapa macam serta camilan.
Hanan juga bermaksud membawa Zea, merasa sudah waktunya anak anaknya mengrnal anak tirinya itu.
Hanan juga hendak membawa Zidan, tapi anak itu menolak karena hendak main bola bersama teman temannya. Akhirnya Hanan hanya akan membawa Zea, berhubung dua bocah itu masih di rumah neneknya maka Dewi yang hendak menjemput dulu.
Meskipun tanpa bicara banyak hanya seperlunya Dewi pahan saat mendengar obrolan Zea dan Hanan di telpon, maka Dewilah yang hendak menyemput Zea lebih dulu.
Dewi ingin berdamai, tidak betah didiamkan suami yang baik hati menurut Dewi itu.
" Biar mama yang jemput, bapak di rumah aja siap siap", Ujar Dewi sambil berkemas untuk mrnjeput Zea.
Hanan setuju, kemudian dia makan dulu, mandi dan sholat... ups, sadar to pak -\_-.
Sambil mempersiapkan bakal oleh oleh untuk Aya Hanan pun menonton tivi menunggu Zea dan Dewi datang.
Sejam.... dua jam... kok sampai hampir maghrib belum datang, Hati Hanan geram.
Hanan mencoba menelpon mertuanya tetapi di jawab katanya mereka sudah pergi dari sejam yang lalu, tambah marahlah Hanan.
Ditelponnya Dewi, tapi tak dijawab hingga berkali kali.
Marah, kesal semua jadi satu, akhirnya Hanan memutuskan untuk berangkat sendiri sehabis maghrib.
Selesai sholat baru saja mengucap salam, tiba tiba ponselnya berdering
Dret
Dret
Dret
" Assalamualaikum", Sapa Hanan yang kini sedikit agak pulih ingatannya akan ucapan salam.
" Waalaikum salam, ini dengan keluarga pemilik motor merk \*\*\*\*\* dengan nopol xxxx?", tanya seseorang dari sebrang telpon.
__ADS_1
" Sebutin yang jelas pak, warna motor dan juga pengendaranya, sepertinya nomer motor istri saya", Deg Hati Hanan saat seseorang menyebut merk dan nopol istrinya.
" Motor \*\*\*\*\* nopol xxxx warna merah hitam pengendaranya seorang perempuan dan membonceng seorang anak perempuan, betul pak?", Suara seseorang disebrang telpon.
Bryaaarrr.... Hati Janan meremang.
" Betul", Jawab Hanan dengan suara bergetar.
" Ada apa?!", imbuhnya dengan suara serak menahan sesak didadanya.
" Begini bapak, perkenalkan saya Hendra, saya satlantas yang sedang bertugas di jalan S, motor dengan ciri ciri tadi saya sebutkan yang dikendarai oleh ibu tadi, telah mengalami kecelakaan yakni tertubruk truk pengangkut muatan logistik dan kini kami sudah melarikan kerumah sakit sekitar dua puluh menit yang lalu, kondisi pasien sekarang masih dalam penanganan dokter, silahkan jika bapak benar keluarga datang saja ke rumah sakit Waras jaya ", Ucap penelpon yang mengaku bernama HENDRA tersebut.
" Iya pak terima kasih", Hanan langsung terkulai lemas begitu menutup telpon.
Benar yang disebutkan penelpon adalah istrinya, hatinya yakin mengenai itu.
Hanan lekas melepas sarung dan kopiahnya kemudian memakai celana jeans dan jaket langsung hendak meluncur ke rumah sakit.
Tak ingat lagi rencana awal, yang jelas saat ini ingin segera melihat kondisi Dewi dan Zea.
Dengan terburu Hanan mengendarai motornya menuju rumah sakit, sesampainya disana langsung ke resepsionis IGD dan segera bertemu si penelpon tadi.
" Bapak sabar ya, berdoa semoga anak istrinya baik baik saja", Penelpon yang ternyata benar seorang anggota polisi itupun memberikan dukungan untuk Hanan, dan Hanan hanya mengangguk cemas.
Selama menunggu Hanan terlihat sangat gusar, hingga terduduk dilantai lorong rumah sakit dengan bibir terus berkamit.
" Dengan keluarga pasien?", Seru suster ketika pintu yang sedari tadi dilihat Hanan itu terbuka.
" Iya saya sus", Jawab Hanan dan langsung berdiri.
" Tunggu sebentar pak, sebentar dulu... dokter sedang memeriksa kembali kondisi pasien", Ujar Suster.
" Baik," jawab Hanan cemas.
Sedikit gelisah karena pintu yang tadi terbuka dan kembali tertutup saat perawat selesai bicara dengan dia.
Bersambung.....
Besok sambung lagi... sdh ngantuk gais😊ðŸ¤
__ADS_1