JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Kekecewaan orang tua Hanan


__ADS_3

" Pak malam ini bapakpulang saja biar bisa istirahat dengan benar, biar malam ini Hanan yang jagain ibu", Ucap Hanan pada bapaknya.


" Bu, malam ini mau dijaga Hanan?", Bapak Harus bukannya menjawab peryataan Hanan tetapi malah bertanya pada ibu.


" Hemm.... Iya pak ga apa apa, bapak pulang saja gantian mumpung ada Hanan", Jawab ibu lirih.


" Ya sudah bapak pulang, sini bapak bawa motor pakde saja, takutnya mau dipakai sekalian bapak pulangin", Jawab pak Harun.


" Bu, bapak pulang ya, cepetlah sembuh, bapak ndak bisa tidur sendiri lama lama", pamit pak Harun pada bu Ainun.


" Iya pak, ibu cuma mau lihat Yasmin sama cucu cucu ibu", Lirihnya dan Hanan bisa mendengar jelas ungkapan ibunya itu.


Makin perih hati Hanan, " jika terus begini bisa bisa habis ini aku yang dirawat", Batin Hanan sesak dadanya, namun hanya bisa ditahan dalam diam.


" Iya, besok bapak yang telpon Yasmin bu", Jawab pak Harun untuk menyenangkan hati istrinya.


" Iya pak!", Jawab bu Ainun mengangguk.


" Sebentar bu, Hanan antar bapak kedepan dulu", Hanan pun berjalan menyusul bapaknya.


" Pak, Hanan mau bicara sebentar", Hanan.


" Bicaralah!", Jawab pak Harun.


" Hemm.... Maaf pak sebelumnya, Hanan sebenarnya sudah resmi pisah dengan Yasmin", Ucap Hanan sangat hati hati.


Deg


Pak Harun berjalan hingga terhuyung saking kagetnya, tidak menyangka jika Hanan sedah melangkah sejauh itu.


" Gusti nyuwun pangapunten", Lirih pak Harun, matanya langsung merah menahan kesedihan yang teramat dalam.


" Bapak tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada ibumu, bahkan kabar kemarin saja sudah membuat ibu mu seperti ini, moga moga Gusti Alloh paring kesabaran", Pak Harun lirih, dia tidak melanjutkan berjalan tetapi mencari tempat duduk untuk menenangkan hatinya.


Kaki pak Harus langsung terasa lemas, hatinya getir, tak sanggup menerima kenyataan ini, meskipun pak Harun tahu cerai itu tidak dilarang, tetapi akan dapat murka, pak Harun takut Hanan mendapat murkanya Gusti Alloh.


" Nan, bapak tidak tahu sebesar apa salah Yasmin hingga kamu tega melepaskan dia secara resmi begini, bapak kira kamu hanya memberi talak satu, dan itu bisa diperbaiki, nyatanya sudah sejauh ini!", Ujar pak Harus lesu, menahan kecewa yang sangat dalam.


" Maafkan Hanan pak!", Lagi! Hanan hanya bilang maaf dengan tertunduk.


" Mintalah maaf pada mertuamu, mereka pasti lebih sakit dari pada bapak Nan, kamu lihat ibu mu, dia hingga begitu karena mu, sadar Nan... Gustiii!!", Pak Harun menarik nafas dengan kasar, habis sudah rasa sabarnya untuk Hanan.


" Enggih pak", masih tertunduk.


" Hahhh..... huhhh... Gusti.... nyuwun pangapuro... ", Pak Harun mengusap dadanya, kakinya yang lemas dan dadanya yang sesak masih membutuhkan waktu untuk berjalan hingga sampai parkiran.


" Kaki ku lemas Nan, kamu tega tenan... Dipikir Nan, apa apa itu dipikir dulu, minta petunjuk dulu sama Gusti Alloh, ojo gegabah, kualat awakmu, yang ngerasain bukan hanya diri kamu tetapi kami orang tuamu pun ikut merasakan", Lagi, nasehat itu terus diucapkan oleh pak Harun untuk Hanan.


Hanan pun sedih dan bingung melihat kondisi bapaknya yang hendak pulang, mana mengendarai motor, sudah petang pula, mana hati bapaknya sedang tidak baik baik saja karena ucapannya barusan lagi.


" Bapak tidak usah pulang jika begini, nanti malah ada apa apa di jalan", Hanan kawatir dengan kondisi bapaknya.

__ADS_1


" Ga pa pa, bapak tak minum dulu tolong carikan air putih".


" Tunggu pak", Hanan beranjak hendak membelikan air mineral untuk bapaknya di kios rumah sakit tidak jauh tempatnya duduk.


" Minum dulu pak", Hanan membukakan tutup kemasan botol air mineral dan memberikan pada bapaknya.


" Tenang dulu pak, Hanan harap semua akan baik baik saja, jika ditanya Hanan sangat menyesalinya pak, tetapi ini sudah takdir, mau semarah apapun bapak sama Hanan semua sudah tidak bisa diulang pak, Hanan bodoh pak, mungkin karena itu Alloh pisahin Hanan dengan Yasmin, karena Yasmin mungkin bisa lebih berkembang dan bermanfaat untuk orang banyak jika tidak bersama Hanan, Hanan memang bodoh, bodoh, bodoh....", Janan memukul kepalanya sendiri, merasa frustasi kedua orang tuanya jadi seperti ini karena ulahnya.


" Iya, bapak marah, sangat marah atas kebodohan kamu", Ucap pak Harun datar, kali ini beliau sudah lebih tenang dan mencoba menerima, benar ucapan Hanan semarah apapun dirinya, semua sudah terjadi.


" Bapak pulang", Pak Harun berdiri dengan perlahan berjalan menuju parkiran, beberapa teguk air mineral tadi sudah membuatnya lebih tenang.


" Bapak yakin? ", Tanya Hanan ragu, hatinya kawatir.


" Iya, tenang saja bapak tidak apa apa, jaga ibumu, jika malam dia suka terbangun untuk minum", Jawab pak Harun seraya bersiap menaiki motor pakde.


" Iya pak, jika sampai rumah kabari Hanan", Ujarnya.


" Ya sudah nanti keburu malam, assalamualaikum", Pak Harun perlahan meninggalkan area parkir.




" Kok lama? Bapak sudah jadi pulang?", Tanya ibu Ainun saat Hanan masuk kamar inapnya kembali.




" Ibu mau dicarikan makanan diluar?", Tanya Hanan penuh perhatian.



" Tidak, bagi ibu sama saja mau makanan rumah sakit mau makanan beli diluar sama ibu belum terlalu selera", Jawab ibu Ainun.



" Atau mau dicarikan minuman yang hangat?", Tanya Hanan lagi.



" Tidak usah, buatkan teh manis saja tetapi jangan terlalu manis", Ujarnya.



Hanan membuat teh, sesuai kemauan ibunya, semua tersedia di nakas sebelah tempat tidur.



" Istrimu orang mana?", Tanya ketus meskipun matanya terpejam.

__ADS_1



" Orang sana bu", Jawab Hanan lirih, malu jika ibunya membahas masalahnya disini, pasti penghuni kamar yang lain ikut mendengar.



" Ibu mau lihat, kayak apa sampai kamu nekad", Tanya sang ibu penuh seludik, meskipun ibunya terpejam namun rasa penasarannya tak urung memaksa untuk membuka matanya.



Hanan memberikan ponselnya dan menunjukkan foto Dewi, namun kali ini foto yang ditunjukkan beda dengan yang tadi ditunjukkan pada budhe dan pakde, kali ini foto jadul Dewi sewaktu belum menjadi istrinya.



Perlahan bu Ainun membuka mata dan berusaha mengakst kepalanya, Hananpun memvantu sang ibu sebelum menunjukkan foto di ponsel pada ibunya.



" Ini bu", Tunjuk Hanan pada ibunya.



" Huh!", Suara sinis sang ibu, jelas tak bersahabat, seperti apapun penampakan foto Dewi bagi ibunya Hanan Yasmin tetap lah yang paling cantik.



" Biyuuhhh..... wong wedok koyok gitu ae... akeh, ( Wanita seperti aja banyak )", Ucapan kedua setelah protes " Huh", membuat hati Hanan makin ciut.



" Mripatmu ki sik normal to Han? mbok di kocomoto yen wis ga permono! Lha iku mbok go saingan karo Yasmin yo ra sepadan koyo langit bek bumi.... blereng mripatmu!!". Nah itu kata berikutnya, sadis deh bu Ainun.



( Mata kamu itu masih normal Han? Dikata mata coba jika sudah tidak jelas melihat, yang begitu kok di bandingkan Yadmin, ya jauh bagai langit dan bumi, rabun matamu?) sarkas bu Ainun.



" Ibu, kan cantik bukan dari wajah saja!", Bela Hanan lirih, dengan tertunduk.



Bersambung.....



Harap maklum ya bahasa ibu Ainun sedikit sarkas.... wujud atas tidak terimanya atas kelakuan anaknya, beliau sangat marah๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™



***Yang punya hipertensi ... Hati hati ya ... siapkan rebusan blimbing wuluh atau daun seledri agar tidak naik setelah baca tulisanku๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™\#Kidding๐Ÿคญ๐Ÿ˜€๐Ÿ™***

__ADS_1


__ADS_2