JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Dokter Sabrina


__ADS_3

" Maaaf pak Hiks hiks... mama merasa cemburu pada bunda, karena bunda itu orang pintar serta terlihat sangat baik, sementara Dewi hanya orang biasa, Dewi tahu dari sorot mata bunda, jika bunda itu orang yang luar biasa, mama iri karenanya hiks hiks".


Hanan terdiam, " Kaget", Iya ucapan Dewi sangat benar istrinya itu istimewa, punya karisma dan kecantikan yang terpancar dari dalam hatinya, tapi dirinya tidak pernah memperhatikan itu


Dulu iya, dia begitu mencintai Yasmin namun karena setiap hari bertemu dan hidup barsama membuat Hanan jenuh dan itu berakibat pada rasa penasarannya pada Dewi, dan akhirnya memutuskan untuk punya istri dua.


" Orang yang membuat kamu iri itu, bahkan tidak pernah protes walaupun uang belanjanya lebih kecil dari pada yang bapak berikan pada mama, ia dia istimewa, dengan tiga anak yang sudah mulai besar dan membutuhkan lebih banyak uang tetapi dia tidak pernah sekalipun menuntut dan berbuat jahat pada bapak, dan orang itu sudah bapak sakiti sedemikian rupa,", Jawab Hanan tanpa melihat Dewi dadanya sesak, sakit sekali, ucapan Dewi seperti mengingatkannya pada dosa dosa yang telah dia torehkan pada Yasmin.


Hanan terduduk, tangisnya pecah, sakit! Sekarang bahkan dirinya tak pernah akan bisa melihat lagi Yasmin dan anak anaknya, semakin malu untuk pulang kampung, rasanya saat ini juga jika boleh meminta dirinya ingin sekali ditelan bumi, dan tak akan pernah nampak lagi wajahnya, sangat malu sekali.


" Astaghfirullohaladzim", Lirihnya dalam isaknya.


Kini nampak sudah dirinya pendosa, mau menyalahkan pada Dewi pun percuma, semua nyatanya adalah kesalahan dirinya, meskipun tanpa guna guna itupun dirinya sudah menyakiti Yasmin dengan berpoligami.


Dulu Hanan berfikir jika poligami di perbolehkan, bahkan jatahnya sebagai lelaki katanya bisa sampai empat.


Nyatanya poligami hanya menorehkan luka di hidupnya, bohong jika selama melakukan poligami dia bahagia, yang ada ego, merasa istrinya harus bisa menerima, karena lelaki diperbolehkan, jadi sebagai istri Yasmin muthlak harus bisa mengerti dirinya.


Nyatanya sepanjang perjalanan poligami dirinya tak tentram, dirinya tak bahagia, banyak tekanan dari sana dan sini, tanggung jawabnya juga besar, belum lagi kini rasa malu.


Dulu dikiranya mau bangga punya istri dua, nyatanya apa? Hidupnya seperti kehilangan pijakan, seperti tak punya rumah tempat dia pulang, nyatanya anak anaknya malah hidup terlantar tanpa merasakan hasil keringatnya lagi, lalu hasil keringatnya untuk orang yang seharusnya bukan menjadi tanggungannya, seandainya tidak gegabah menikahi Dewi.


Hanan Mandi dan berpakaian rapi, serta berjaket dia pergi mengendarai motornya, hanya ingin mencari angin dan ketrnangan, saat ini melihat Dewi seperti ingin meremas lehernya saja hingga sekuat tenaga, lebih baik pergi dulu.


Dewi hanya diam terpaku, suaminya pergi tanpa sepatah katapun untuk pamit.


Diam dan berfikir, Dewi beranggapan jika dirinya kembali cantik mungkin akan betah di rumah kembali meskipun tanpa syarat dari mang usep Sableng itu lagi.


Dewipun berbenah untuk rajin senam dan diet, giginya sudah kembali rapih setelah pergi ke dokter, meskipun luka pitaknya tak akan kembali sembuh tapi masih bisa pakai kerudung.



Begitu turun dari mobil Yasmin melihat jam tangannya, masih ada waktu sepuluh menit lagi untuk kekelasnya.



Yasmin mencari guru yang tadi di ceritakan oleh Aya, setelah bertemu dengan guru olah raga itu, disana Yasmin meminta untuk menjadi saksi karena dia akan menghubungi wali kelas dua yakni wali kelasnya Awa, disana Yasmin akan bicara mengenai pembulyan yang dialami Awa.

__ADS_1



Yasmin meminta wali kelas Awa untuk lebih perhatian lagi dengan anak didiknya agar peristiwa serupa tidak akan pernah terjadi lagi.



Sementara pak guru olah raga itu menceritakan kecerdasan Aya dalam menggambil sikap saat melihat pembulyan tadi. Dia sangat kagum dengan tindakan Aya untuk menahan para prlaku pembulyan agar tidak kabur dan tertangkap semua dengan menutup pintu.



" Iya dia memang putri saya, dan mungkin diapun juga pernah di bully, sehingga timbul pikiran seperti itu", Jawab Yasmin, tentu tak ingin mendengar anaknya mendapat pujian berlebihan.



" Terima kasih bu atas perhatiannya, dan juga atas kerja sama dari putri ibu, kami akan memberikan perhatian lebih lagi ", Ucap wali kelas dua.



Yasmin punkemudian pamit dan menuju kelasnya, rupanya anak anak sudah menunggu dengan berbagai aksi, jika bukan Yasmin yang mengajar matematika mungkin semua murud sudah mabal alias bolos merasa senang karena gurunya telat sehingga kesempatan untuk kabur.




" Waalaikum salam bu...", Jawab anak murid Yasmin sambil berlarian mengambil tempat duduk masing masing, secara mereka tadi srdang berkumpul mengobrol dan lain sebagainya.



" Maaf ibu terlambat, hampir tujuh menit, dan terima kasih karena kalian masih setia menunggu kehadiran ibu dikelas".



" Iya dong bu, kami ini murid teladan dong!".



" Pasti kami selalu setia lho sama ibu Yasmin",

__ADS_1



Celetukan beberapa anak murid lelaki membuat rasa kantuk menghilang, dikelas di jam siang seperti ini suasana pastilah jenuh.



Sementara itu di ruang kerja dokter Yusuf setelah visit pada pasien pasiennya, dokter itupun masuk ke ruang kerjanya dengan sedikit tergesa.


" Eh, kok kesini tidak bilang bilang, sudah lama nunggunya?", Tanya dokter Yusuf pada seorang wanita muda, cantik, rambut di kerly berwana coklat, serta riasan natural, dengan snelli sebagai lapisan luar bajunya.


" Lumayan, ada mungkin setengah jam", Wanita itupun bergelak riang.


" Banyak pasien ya?", Tanya dokter cantik itu, ya dia dokter Sabrina, dokter muda, wanita berusia 26 tahun yang sering dijodoh jodohkan oleh sesama rekan kerjanya dengan dokter Yusuf.


" Lumayan, tidak juga, hanya sesekali meluangkan mengobrol dengan pasienlah agar mereka termotivasi supaya lekas sembuh", Jawab dokter Yusuf dengan tersenyum.


" Ada apa nih, tumben menunggu di ruangan kerjaku?", Tanya dokter Yusuf.


" Emm.... Pertama pingin ketemu karena sudah beberapa lama tidak berjumpa, kangen lah dok, kedua mau mengundang makan malam di rumah nanti malam minggu? Bagaimana, semoga bersedia ya!", Dokter sabrina melebarkan matanya sambil tersenyum menanti jawaban dokter Yusuf.


" Oke, bersedia".


" Sip".


" Ada acara apa? Sehingga mengundang makan malam segala?", Tanya dokter Yusuf.


" Tenang dokter disana juga ada beberapa dokter kok, bukan hanya dokter seorang", Jawabnya santai.


" Oh!", Jawab dokter Yusuf.


" Tentang acaranya mah nanti saja, jika dokter datang pasti juga akan tahu, ada acara apa di rumah ku malam minggu nanti, makanya datang, aja, Halwa juga ya", Ucap dokter Sabrina.


" Oke, kalau aku bawa calon pacar boleh?", Tanya dokter Yusuf sbil mrmandang dokter Sabrina.


" Hemmm.... Ya jangan dong... kecuali sudah jadi istri boleh", Jawab dokter Sabrina dengan terbahak.


" Memang dokter sudah punya calon?", imbuhnya seraya menurunkan bahunya untuk menatap mata dokter Yusuf.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2