
Kini waktu sudah 7 Hari berlalu dari kematian ibu Ainun, semuanya sudah berjalan normal kembali keluarga dokter Yusuf sudah kembali ke kota begitupun Hanan dan Dewi.
Namun seminggu ini, Dewi nampak lebih acuh kepada Hanan. rasa kesalnya saat berada di kampung yang terus-terusan menjadi gunjingan tetangga dan saudara Hanan benar-benar menyisakan kekecewaan.
" Ternyata orang kampung tak selugu yang ada dipikiranku mereka benar-benar tidak pernah menganggap aku ini manusia, seakan aku ini benar-benar sampah yang menjijikan, cara pandang mereka dan ucapan mereka sungguh sungguh menyakitkan", Batam Dewi meratapi nasibnya.
" Mas, mungkin memang sebaiknya kita bisa saja, meskipun kita menikah kembali hubungan kita juga hanya begini-begini saja", ucap Dewi memberanikan diri pada Hanan.
" kamu yakin dengan ucapanmu itu?", jangan merasa tidak terkejut sama sekali karena Dewi sering berbicara seperti itu.
" Mau yakin bagaimana mau tidak yakin juga bagaimana, aku jadi istrimu juga kita tidurnya juga terpisah, memang selayaknya bisa saja, aku tidak apa-apa, semoga usahaku bisa lebih lancar kembali dan aku bisa mencari uang dari hasil laundry", jawab Dewi menyakinkan Hanan.
" kalau begitu aku hanya ingin memastikan usahamu bisa untuk hidup dan sekali-kali jenguklah anak-anak jangan kau abaikan begitu saja jika tidak diizinkan di rumah mertua mu jenguklah mereka di sekolahnya tidakkah kau merindukanmu?", ucapanan pada Dewi.
Deg
Apa yang dikatakan Hanan benar adanya akhir-akhir ini Dewi mengabaikan kedua anaknya Karena rasa takut jika ingin mendekat kepada mereka.
" Nanti kalau aku diusir bagaimana?", tanya Dewi ragu.
" Namanya usaha pasti ada rintangannya, nggak usah takut nggak usah malu jika mendapat pengusiran yang kamu perjuangkan itu anak kamu sendiri bukan orang lain", jawab Hanan membuat Dewi bersemangat untuk bertemu anaknya.
" ya Mas", cewek Dewi dengan senyum sumringah.
" mulai besok kamu harus rapi pembukuan laundry agar tahu pasti pengeluaran pemasukan nya dan berapa hasilnya, jika kondisi mulus udah nyaman, kamu sudah bisa menyisihkan uang mungkin aku akan meninggalkanmu maaf Wi", suara nan lirih.
__ADS_1
Deg
Meskipun Dewi sering meminta untuk mereka sudah ijazah mendengar Hanan berkata demikian tak urung hati Dewi pun sedikit mencelos.
" Ya ", Jawab Dewi lirih penuh kepasrahan.
" Tidak usah sedih, karena jika aku pergi darimu semuanya nya akan Aku pastikan usahamu sudah lancar", Hanan mengusap lembut kepala Dewi.
Dewi hanya mengangguk seraya tersenyum tipis, " ini hanya proses ", batinnya.
🌹
Dan waktupun berlalu usaha Dewi makin maju setelah pembicaraan itu Dewi pun semangat kembali untuk membangun usahanya dimulai dari pembukuannya yang rapi dan menambah pegawai lagi sehingga penghasilannya kini sudah terlihat dan bisa untuk menghidupi dirinya serta menyisihkan untuk tabungan anak-anaknya kelak.
Malam itu ketika pulang ke kontrakan yang ia tinggalin dengan Hanan Dewi menunjukkan surat rumah yang Iya tadi kan sudah berada di tangannya sudah lunas, rumah itu telah kembali.
" Syukurlah masih ikut senang, terus rencana mau apa dengan rumah itu?", ucap Hanan.
" Mau aku tempati kembali, apalagi anak-anak sudah boleh menemuiku walau sekarang semua kuasa atas nama keluarga dari nenek kakek nya".
" Apakah tak sebaiknya kamu kontrakan saja, kan di ruko laundry ada dua kamar satu bisa kamu tempati satunya buat pegawaimu", usul Hanan.
" Apa Iya begitu?", Dewi kembali memikirkan usulan Hanan.
" Terus Mas bagaimana?", Kanya Dewi mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
" mulai hari ini, malam ini, lagu bebaskan engkau Dewi istriku, Terima kasih atas segala kebaikanmu, engkau telah menemaniku kalau aku benar-benar tidak ada siapa-siapa, engkau telah mengurusku, dalam beberapa waktu terakhir engkau telah mengabdikan hidup bersamaku, semoga Allah mencatat semua kebaikanmu menjadi amalan kebaikan mu kelak di Hari akhir, mohon maaf kan aku suamimu yang tak sempurna ini, bukan Aku tak mau menyentuhmu saat menjadi istriku kembali, tetapi kecelakaan itu telah mengurangi keperkasaan ku, aku tak selera dulu, entahlah semua ini belum aku periksakan, semoga engkau bisa memakluminya, maaf jika baru bilang sekarang, semoga kamu bisa bahagia kelak di hari tua mu bersama anak-anakmu, teruslah perbaiki dirimu, jadilah Ibu teladan buat anak-anak mu, dan Mas berharap kamu menemukan teman untuk kujadikan suami yang bisa menemani hari-harimu".Janan mencium kening Dewi cukup lama.
" Dewi istriku malam ini aku mentalakMu", Ucap Hanan tegas.
Terdengar isakan dari Dewi yang begitu pilu dan menyayat hati.
" Kenapa baru bilang sekarang, kenapa nggak bilang dari kita rujuk, aku bisa menerima kekurangan masa, jika Mas bicara jujur aku bisa tulus menerima Mas dengan kekurangan Mas itu", ucap Dewi penuh penyesalan.
" Tidak perlu disesali, ini semua mungkin balasan dari Allah atas segala kekuranganku dan kesalahanku selama ini, aku telah menyakiti Bunda dan anak-anak serta dirimu, tolong maafkan aku", Ucap Hanan dengan senyum tulus.
" Terima kasih mas, maafkan atas segala kesalahan selama menjadi istri mas, meskipun pisah suatu hari nanti aku akan mengajak anak-anak untuk bertemu dengan mas bertemu dengan bapaknya, bapak yang pernah ada di kehidupan mereka meskipun hanya sebentar", ucap Devi menahan tangis.
" malam ini tidur lah di sini, besok baru kamu berkemas untuk ke ruko, semoga usahamu lancar terus, dan jika manusia masih mencarimu dan ingin memperistri mu jika kamu nyaman sebaiknya kamu terima", ucapanan seraya tersenyum.
" Dudah tidak kepikiran lagi Mas, tapi nggak tau juga apakah saya masih ingin menikah lagi atau tidak belum ada di pikiranku saat ini", Dewi tersenyum.
" Spakah setelah ini Mas mau pindah ke rumah Bunda?, rumah itu kan masih kosong kan sampai saat ini?", Tanya Dewi.
" Iya dan Bunda nyuruh bapak untuk menepatinya kemungkinan Iya aku akan menghabiskan hari tua di sana sampai pensiun nanti kalau sudah pensiun aku mau pulang kampung saja mau menemani bapak mudah-mudahan bapak masih dikasih usia", jawab Hanan.
" Menikahlah kembali Mas! Mas masih muda usia juga belum 50 tahun masih banyak yang mau, bahkan mungkin gadis 20 tahun pun masih banyak yang naksir dirimu", ucap Dewi terkekeh, bukan Tanpa alasan Dewi bilang begitu karena memang banyak anak-anak sekarang yang memilih lelaki matang untuk dijadikan suami.
" Belum kepikiran untuk saat ini biarkanlah waktu mengalir sesuai kehendak-Nya saja", jawaban and santai.
" Istirahatlah sudah malam".
__ADS_1
kemudian Hanan menuju teras depan dan duduklah di kursi bambu yang ada di teras itu bibirnya tersungging senyuman, " pada akhirnya dia sendiri, poligaminya mengantarkan hidup sendiri di hari tuanya", memikirkan hal itu Hanan tersenyum remeh pada dirinya sendiri.
TAMAT...