
Sudah pulang dari rumah pak Yasman, dokter Yusufpun pulang ke kampung halamannya yang jaraknya tidak terlalu jauh hanya sekitar sepuluh kilo saja.
Sampai di rumah kedua orang tuanya tentu menanyakan Halwa yang tidak ikut bersama dengan dirinya, dan dengan santainya dokter Yusuf bilang jika Halwa dititip di rumah calon bundanya, terang saja kedua orang tua dokter Yusuf pun hanya bisa geleng kepala tercengang, namun juga senang putranya sudah mau membuka hati kembali setelah ditinggal istrinya.
" Beneran kamu sudah punya pacar? Orang mana? ", Ujar bunda tidak begitu percaya, pasal sedari masih bujang dirinya sulid dekat dengan cewek, hingga akhirnya dicarikanlah jodoh sama neneknya dulu, gadis belia yang akhirnya menjadi istrinya, tetapi Yusuf sebetulnya kurang sreg, namun juga tidak menentang, diterimanya gadis itu sebagai istri, namun butuh waktu empat tahun baru hamil, dan lahirlah Halwa.
Gadis beda usia dengan dirinya hampir sepuluh tahun, hingga halwa berusia tiga tahun dia hamil kembali, namun terjatuh dikamar mandi dan tidak ada orang saat itu yang menolong karena sedang di rumah sendiri, saat ketahuan sudah hampir satu jam barulah dokter Yusuf pulang kerja dan mengetahui keadaan istrinya, namun sayang nyawa istri dan bayinya tak tertolong, hingga akhirnya dokter Yusuf tidak pernah dekat lagi dengan cewek, barulah setelah bertemu Yasmin ini.
" He hee ", dokter Yusuf terkekeh ketika ibunya menanyakan tentang pacarnya.
" Ditanya ibu kok malah cengengesan!", Suara bapaknya yang protes dengan sikap putra kesayangannya.
" Barusan Yusuf ngelamar, tapi belum di jawab, habisnya dia pernah gagal jadi masih trauma ", Jawab Dokter Yusuf jujur pada kedua orang tuanya.
" Orang mana?", Tanya ibunya lagi.
" Kampung sebelah bu, tapi bekerja satu kota sama Yusuf, guru SMA", Jawab dokter Yusuf santai tangannya menyambar kue yang berada di piring diatas meja.
" Oh, kampung sebelah? Anak siapa?", Tanya bapaknya.
" Anak pak Yasman, namanya Yasmin".
Ibunya dokter Yusuf langsung mengeryit tajam mendengar jawaban putranya.
" Yasmin?, Jangan bilang gadis yang membuat kamu sering menangis waktu masih bujang dulu.... Heum.... ", ibunya mencebik, setelah melihat dokter Yusuf membuka mulutnya lebar dengan terkekeh.
" Ibu masih ingat aja!", Jawabnya sedikit malu, mengingat dulu saat awal awal menjadi dokter Yusuf sering meratapi Yasmin yang tak berjodoh dengannya, hanya ibunya yang tahu karena sahabatnya Bryan tidak mungkin diajak cerita.
" Sekarang dia menjanda?", Ujar ibunya, bapaknya hanya jadi pendengar.
" Iya bu, anaknya tiga!", Jawab dokter Yusuf cuek.
" Weelaaadalah.... kok tiga!", Ibunya terkejut dengan ucapan dokter Yusuf yang santai, bapaknya pun langsung melotot tajam kearah dokter Yusuf.
" Kamu tidak sedang kena pelet kan?", Tanya ibunya.
" Siapa bu yang mau melet aku, yang ada melet beneran wek wek... begitu lidahnya menjulur, mengolokku yang seorang duda ini", Jawab dokter Yusuf sedikit tidak terima.
" Cinta ya cinta tapi anaknya tiga, apa kamu sanggup membiayai, sekarang biaya hidup tidak murah, jangan menyepelekan urusan!", Nasehat ibunya.
" Astaghfirullohaladzim bu, jangan takut kalau hanya masalah rejeki, mereka ada rejekinya meskipun tanpa aku menikahi ibunya", Dokter Yusuf langsung memasang wajah sedih.
" Dengerin nasehat ibumu, jangan protes terus!", Ucap bapaknya.
" Astaghfirulloh.... iya benar juga sih, anak itu ada rejekinya sendiri sendiri, ibu hanya kawatir jika kamu keteteran saja, ibu percaya jika mereka punya rejeki masing masing hanya saja ibu kawatir jika kamu tidak mampu dan akhirnya tidak ridho... kenapa tidak mencari yang anaknya satu gitu, kenapa harus maksain sama Yasmin?", ujar ibunya.
__ADS_1
" Ibu kan tahu sendiri gimana cintanya aku ke Yasmin, nanti hari sabtu mereka aku bawa kesini lah biar bapak ibu kenal anak anaknya Yasmin, mereka manis manis bu, dan pintar seperti ibunya", jawab dokter Yusuf.
" Ya sudah terserah kamu saja", Jawab ibunya pasrah.
" Bapak ibu doain lah supaya aku diterima nih, soalnya aku sudah datang ke orang tuanya namun Yasmin belum mau jawab apa mau, apa tidak, aku masih insecure nih buk", Dokter Yusuf bicara seperti anak kecil yang merajuk.
" Iya, jika sudah mentok hatimu, orang tua bisa apa selain berdoa dan merestui", Jawab ibunya.
" Terima kasih buk, terima kasih bapak", Dokter Yusuf merengkuh kedua orang tuanya itu dengan senang.
Dewi yang penasaran dengan suaminya pun, hari ini bermaksud mengintai suaminya dikolam renang.
Setelah sekian lama tidak meminta haknya pada Dewi, akhirnya tadi malem Hanan minta bahkan hingga dua kali, katanya kangen sudah lama tidak melakukan, tetapi aneh bagi Dewi dua kali itu juga setiap mau pelepasan Hanan menyebut Ros... tapi kemudian terdiam seperti teringat jika salah sebut.
Dewi sengaja pakai gamis hitam, longgar pemberian bu Bukhori, tidak lupa cadarnya juga dipakai, dengan tenangnya Dewi bisa mengawasi pergerakan Hanan.
" Iya bu, pak Hanan, sudah lumayan lama dia mengajar les disini, ada apa bu?", Tanya penjaga toko itu.
" Sudah punya istri belum ya dia, soalnya saya pingin les renang, tapi jika dia sudah punya istri saya takut nanti istrinya salah paham", Alibi Dewi.
" Owh, saya kurang tahu bu kalau itu, tapi yang jelas setiap hari selalu disusul ibu ibu cantik, rambutnya panjang dan bawa satu anak", Jawab penjaga toko.
" Cantik, rambutnya panjang! Berarti bukan bunda, bunda kan dikerudung! Siapa lagi?;", Batin Dewi bingung, menerka nerka.
" Biasanya datang jam berapa istrinya mas?", Tanya Dewi lagi.
__ADS_1
" Bentar lagi juga datang", Jawab pelayan.
Benar saja tidak lama kemudian bu Rosa datang bersama anaknya, setrlah menarih perbekalannya kemudian mengantar anaknya ke ruang ganti.
Hanan kemudian mengajar les renang pada anak bu Rosa dan yang lain hingga hampir satu jam kemudian menepi.
Dan disaat itulah bu Rosa menghampiri Hanan dengan satu kotak makanan kalau tidak salah bakso tahu.
" Terima kasih bunda yang cantik", Ucap Hanan dengan tersenyum manis, Hanan sadar jika begini terus dia bisa beneran jatuh cinta dengan bu Rosa.
" Sama sama pak", Jawab bu Rosa malu malu dibilang cantik.
" Bu, kita jadi joinan usaha yukz", Ucap Hanan ada maksud terselubung dalam niat usahanya.
" Saya sudah bicara sama suami tetapi kata suami jangan air mineral jika bisa usaha yang lebih menjanjikan contohnya rumah makan", Ujar bu Rosa.
" Saya kan kerja,!, jika rumah makan siapa yang mau ngurusin, bu Rosa mau mengawasi sertiap hari?", Tanya Hanan.
" Hemmm.... Tidak bisa, lagi pula aku tidak diijinin kerja oleh suami". Jawab bu Rosa.
Dewi masih mengawasi gerak gerik pembicaraan antara suaminya dan bu Rosa dari jarak aman.
__ADS_1
Bersambung....