
Hari ini Yasmin berenang diarena renang yang tidak begitu jauh dari rumahnya dengan ketiga buah hatinya.
" Dimana?", Sebuah pesan masuk ke ponsel Yasmin saat hendak bersiap renang, pesan dari dokter Yusuf.
" Ada apa dok?", balas Yasmin.
" Awa mau ngajakin kakaknya makan siang, ada dimana sekarang, kok rumah sepi?", Balas dokter Yusuf.
" Kami sedang berada diluar, renang bareng anak anak", Jawab Yasmin.
" Di mana?", dokter Yusuf.
" Hotel Regas".
Tak ada balasan lagi, Yasmin pun menyimpan kembali ponselnya dan berenang bersama anak anaknya, hari ini pokoknya ingin family day berempat.
Satu jam kemudian dokter Yusuf menyusul dengan Halwa, tidak lupa diapun memvawa aneka makanan dan camilan. Meskipun dihotel tidak dilarang membawa dari luar asal bukan makanan pokok.
Yasmin terkejut, niat hati liburan kali ini mau dihabiskan bersama anak anaknya saja malah datang dokter Yusuf, mana dikolam renang lagi, canggung kan!.
Akhirnya Yasmin menilih ke kolam yang khusus untuk wanita, untuk menyelesaikan renangnya.
Dan Yusuf berenang bersama anak anak di kolam umum, meskipun lrngang tidak ramai sih karena kolam renang di hotel biasanya hanya untuk tamu yang menginab dan beberapa orang sekitar yang menginginkan renang tapi tidak berjubel.
Yasmin menyelesaikan renangnya dan segera bebersih, mandi mengeringkan rambut dan berpakai rapi lagi baru ikut bergabung diluar bareng anak anak dan dokter Yusuf.
" Bunda sudah berenangnya?", Tanya Aya.
" Sudah, sudah dua jam lebih, Aya mau mandi sekarang?", Tanya Yasmin.
" Tunggu Halwa, Halwa nya belum mau", Jawab Aya. Dua anak perempuan itu memang begitu kompak dalam segala hal, akur dan saling pengertian.
" Ya sudah, bunda tunggu saja disana", Yasmin menunjuk meja yang ada peneduhnya berupa payung besar dipinggir kolam.
" Ya", Ayapun kembali renang, disana tampak dokter Yusuf tengah berenang dengan kedua H lelaki.
Menjelang tengah hari kemudian semuanya pun mandi sekalian sholat barulah merrka krluar hotel untuk mencari makan siang dengan nuansa alam.
" Tadi ke kolam naik apa?", Tanya dokter Yusuf.
" Taksi". Jawab Yasmin.
" Kita cari makan di saung teratai saja", Dokter Yusuf pun melajukan mobilnya dsn merrkapun hanya mengiyakan usul dokter Yusuf.
Sesampainya disaung itu mereka memesan makanan, sebetulnya Yasmin merasa kurang Yaman harus dalam kondisi seperti ini.
Belum muhrim iya, tetapi lebih tidak nyamannya karena Yasmin tadinya mau liburan berempat bukan berenam begini, anak anak sih enjoy saja tapi Yasmin sedikit sungkan.
__ADS_1
" Pulangnya jangan terlalu sore ya, kita mau cari cincin, Terima kasih karena bunda sudah menerima lamaranku, aku akan berusaha untuk membuat kalian semua bahagia", Ucap dokter Yusuf saat mereka hanya berdua setelah selesai makan di saung itu karena anak anak pada main disekitaran saung yang ada kolam ikan dan juga sawah dan sungai kecilnya.
" Semoga dokter tidaj menyesal sudah melamar janda tua ini", Jawab Yasmin dengan tersenyum tipis.
" Aku lebih tua bunda, usia kita selisih empat tahun, jangan lupakan itu, dan kita akan menua bersama", Jawab dokter Yusuf.
" Aamiin ", Jawab Yasmin pasrah.
" Dok, aku masih penasaran dengan kiriman paket itu, dari dokter kan?", Tanya Yasmin.
" Bukan bunda, asli! Sekalipun aku dokter tapi karena aku sibuk jadi belum kepikiran hal itu!", Jawab dokter menyakinkan.
" Dokter tidak bohong kan?", Tanya Yasmin tersenyum kearah dokter Yusuf.
" Tidak sama sekali !". dokter Yusufpun tersenyum.
" Meskipun kita belum tahu siapa yang mengirim, sebaiknya ambil saja bun, nanti jika kiriman nyasar biar aku yang gantiin, jangan kawatir", Dokter Yusuf menyakinkan Yasmin.
" Iya, mungkin benar aku harus memanfaatkan paket itu, jika memang kiriman itu salah akan kuganti, tidak masalah", Jawab Yasmin.
" Nah, begitu saja, Ambil saja", dokter Yusuf.
" Bunda mau mas kawin apa?", Tanya dokter Yusuf malu malu.
" Ha haa.... harus ya, kalau harusnya cukup dengan cincin dari besi sekalipun ya!", Yasmin terkekeh.
" Pulang dari sini kita akan cari cincin, terus fitting baju, sepatu, kita menikah dua minggu lagi, bapak sudah sepakat, dikampung bunda, jika bunda ingin mengundang teman kerabat atau siapapun boleh!", Ujar dokter Yusuf kembali.
" Tidak, bunda hanya akan mengabari saja dan minta doa tulus dari mereka", Ucap Yasmin sedikit sendu.
" Jangan bersedih! Percayasama aku bun, aku bukan orang seperti mantan bunda, kita akan sama sama berusaha menjadi orang tua yang terbaik untuk mereka, percaya ya!", Ucap lembut dokter Yusuf.
Yasmin tersenyum tipis, " Dulu aku juga percaya pada mantan suami, segalanya saya berusaha memahaminya, mengerti dan berbakti tapi gagal, hampir tidak akan mau terulang untuk menikah tapi aku terima lamaran dokter karena hatiku bicara jika aku masih punya kesempatan untuk menemukan kebahagiaanku yang lain, jika yang dulu telah meninggalkan luka, semoga dokter tidak menaburkan luka itu dengan garam".
Tidak! Tidak akan! Semoga Alloh melindungi rumah tangga kita nanti, aku tidak janji, tapi akan berusaha menjadi yang terbaik saja buat kalian". Dokter Yusuf berbicara dengan wajah serius.
Mereka sama sama tersenyum dan manggut manggut dalam diam dan pikiran masing masing.
Hanan terheran ketika datang ke kios Dewi, terasa sepi cuma ada pegawai satu yang membantu Dewi sedang setrika.
" Bu Dewi ada?", Tanya Hanan, Hanan datang maksudnya hendak mengajak makan diluar, dirinya merasa semakin cuek dengan Dewi padahyl harusnya mereka tidak boleh begitu, apalagi hubungan mereka masih berstatus suami istri.
__ADS_1
" Ada pak", Jawab pegawai itu terkejut, tahu jika Hanan suami Dewi meskipun Hanan baru sekali ini datang ke kios.
" Dimana?", Tanya Hanan menoleh keluar karena ada motor yang pernah ia lihat tapi entah dimana, terparkir diluar kios.
" Oh, boleh saya naik mbak?", Tanya Hanan yang melihat mata pegawai itu saat menjawab ada dia melirik keatas.
" Iya, iya pak silahkan!", Jawab pegawai itu dengan wajah sedikit aneh.
Hanan perlahan menaiki tangga, saat hampir sampai diatas ada suara suara aneh dari dalam kamar yang hanya disekat dengan triplek.
" Aahhhh.... uuuhhh... ah aahh... ".
Dada Hanan bergetar tanpa melihat pikiran Hanan pun sudah tahu sedang ada apa didalam.
Untuk memastikan Hanan berjalan pelan dan berdiri didepan pintu kamar itu.
" Mang....... Aaauiihhh... mang..", Racau Dewi.
Dengan dada yang bergemuruh dan tangan yang bergetar hebat, serta kaki yang seperti tak bertenaga Hanan membuka pelan pintu yang tak ada kuncinya itu, pintu dari triplek yang dibingkai kayu yang terlihat tidak rapih.
Mata Hanan terbelalak lebar, bahkan kakinya sempat mundur satu langkah saking tidak menyangkanya, meskipun suara tadi sudah menyakinkannya tetapi melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri membuat Hanan kaget luar biasa.
Bersambung....
__ADS_1