
" Bun, bapak minggu kemarin habis pulang dari kampung, ibu sakit, beliau merindukan mu", Ujar Hanan dengan mata menatap tajam pada Yasmin, ingin rasanya membuka penutup wajah itu, kenapa masuk rumah ini rasa rindunya pada Yasmin sangat besar, hingga menyesakkan dadanya.
" Oh, turut sedih mas, biarkan besok Yasmin telpon beliau", Jawab Yasmin.
" Dan tolong jangan bilang dulu jika kita telah resmi berpisah bun, mas belum bilang karena kondisi ibu", Hanan memohon dengan wajah sedih dan memelas.
" Oh, kok gitu? seserius apa kondisi ibu mas?", Tanya Yasmin.
" Ibu tidak selera makan semenjak mendengar mas poligami", Jawab Hanan dengan tertunduk.
" Lho harusnya mas bilang dong jika mas sekarang tidak berpoligami lagi, tapi istri mas cuma baru satu", Ketus Yasmin, yang membuat wajah Hanan langsung mendongak memandang Yasmin.
" Kamu ini bun, itu sama saja mas langsung membunuh ibu!", Hanan menggerutu.
" Mas, yang namanya bangkai mau mas sembunyikan sedemikian rapih dan apik pun pasti akan terendus juga, apalagi ini, perpisahan, jujurlah mas... cukup mas menyakiti anak anak dan orang tuaku, tapi jangan orang tua mas", Yasmin berbicara dengan memohon agar Hanan jujur dengan semua orang, lagian masa idahnya sudah hampir selesai.
" Maaf bun, untuk saat ini mas akan egois karena ibu memang kondisinya tidak memungkinkan", Jawab Hanan kembali tertunduk, sedari tadi dadanya berdenyut jika Yasmin menyebutnya mas.
" Ya, tapi sebaiknya mas tetap harus jujur termasuk pada Dewi, dia masih mengira kita belum pisah mas".
" Biarkan Dewi urusanku, tidak perlu dikasih tahu biarkan saja", Jawab Hanan cuek.
" Oya, mas... Bulan ini jatah anak dobel, kan jatah bulan kemarin mas absen tuh, terus ingat anak anak mau masuk sekolah baru kejenjang yang lebih tinggi... tolong sediakan dananya, gaji Yasmin hanya cukup untuk makan", Tegas Yasmin.
" Iya", Jawab Hanan lemes.
" Iya apa?", DlSinis Yasmin.
" Iya,.... Iya mas tahu kok!", Jawab Hanan tak bersemangat.
__ADS_1
" Bukan iya, tapi transfer mas, enam juta untuk jatah merrka dua bulan dan ya... dua juta dulu untuk berjaga jaga bayar ujian serta menebus ijazah", Jawab Yasmin menghitung hitung.
" Oya, Husain mau masuk SMP Harapan Bangsa, Yasmin sudah tanya tanya uang pangkalnya sembilan juta mas, Dan Hasan mau masuk SMA 1, yang Yasmin tahu tahun kemarin bayarnya sebelas juta, sediakan dananya, mereka anak mas! anak kandung mu, bukan anak tiri, utamakan dan prioritaskan!!!", Suara Yasmin terdengar lantang dan tegas serta penuh penekanan.
" Iya, kan bisa dicicil biaya yang itu mah, pasti, pasti bapak bayar bunda tidak usah galak begitu, bapak tahu kok kewajiban bapak, baru juga telat jatah sebulan, heran! Bunda sampe senewen begitu", Suara Haman terdengar tidak terima.
" Senewen!? Mas bilang aku senewen??!!! Aku marah mas! Mereka itu anak anak kamu, darah dagingmu, tanggung jawabmu, jangan karena hak asuh jatuh padaku hingga mas seenaknya melupakan kewajibanmu mas", Yasmin dengan suara tinggi.
" Aku tidak lupa bun, hanya telat ngasih, beda dong?!", Janan bicara dengan gaya congkaknya.
" Oya, kalau begitu penuhi sekarang juga yang delapan juta itu, karena itu sudah berlalu dan jika begitu merupakan hutang, harus dibayar", Yasmin menengadahkan tangannya pada Hanan, dengan jari bergerak gerak seakan memanggil.
" Jangan sekarang lah bun, mana ada bapak uang sebanyak itu, bapak kan habis pulang, butuh ongkos bun kemarin!", Jawab Hanan lesu.
" Oke, adanya berapa siniin", Ketus Yasmin dengan tangan masih menengadah.
Dengan malas Hanan pun mengambil fompet di saku celananya.
" Bapak minta untuk isi dompet bun, takut pecah ban dijalan", Hanan kembali memasukkan satu lembar lima puluh ribuan kedalam dompetnya.
Miris sih dalam hati Yasmin tetapi dengan mantap Yasmin mengambil uang tujuh ratus lima puluh ribu itu, haknya anak anak harus tega diambil, biar bapaknya bokek salah sendiri.
" Bunda sekarang jadi garang ya", Gerutu Hanan.
" Apa? Garang? Heh! Mas, Yasmin garang begini saja mas cuma ngasih seuprit begini, apalagi Yasmin lembah lembut kayak dulu, pasti cuma di cekokin janji, sampai kembung perut Yasmin mas, mabuk janji", Sinis Yasmin.
" Ya ga gitu juga bun, kalau ada uang ya pasti aku kasih, tahu sendiri dompet mas sampai garing begini", Hanan dengan wajah melas.
" Ya sudahlah terserah, anak anak mah selalu punya rejeki.... Kapan mau ngasih kewajiban mas ini?!", Tanya Yasmin memastikan karena pada saat itu pastilah Yasmin akan gencar menagih.
__ADS_1
" Tanggal tiga ya bun", Jawab Hanan.
" Oke, deal tanggal tiga bapak bayar tujuh juta dua ratus lima puluh ribu, jangan dikurangi lagi!", Ujar Yasmin galak, Hanan cuma mengangguk linglung.
" Tadi mas mau kesini pasti belum makan to?", Tanya Yasmin.
" Sudah, cukup kopi ini saja bun, sedap", Hanan kembali menyeruput kopi buatan Yasmin.
" Jangan menolak mas, aku siapkan", Yadmin hanya berfikir jika sayang saja ayam yang sudah dibelinya tidak termakan.
" Benar bun, tidak usah!, bapak sudah kenyang!", Jawab Hanan kembali.
" Oh ..... Tadi saat pulang dari tempat les aku bertemu istri tercintamu mas, dan dia menyuruh aku untuk membelikan ayam bakar untukmu, katanya dia hanya akan beli tiga, dan yang jatah mas aku yang harus bayar, jadi makan saja, takut mubadzir udah terlanjur dibeli", Yasmin menerangkan apa adanya dengan baik, ini menyangkut makanan, jika menjelaskannya kasar dan tidak berkenan apa enak yang di suruh makan, pikirnya begitu.
" Ya ampun, bikin malu saja!", Lirih Hanan yang masih bisa didengar Yasmin, Yadmin hanya tersenyum saja, seraya menyiapkan makan untuk Hanan.
Hanan tadi sebetulnya dijalan sudah makan mie ayam, karena Dewi tidak menjatah lauk jadi dalam perjalanan menuju rumah Yasmin, Hanan makan mie ayam dipinggir jalan.
Yasmin menyuguhkan makan mirip kayak di restoran, piring berisikan nasi yang dicetak bulat, sambal, lalap, ayam bakar dan tempe goreng.
" Ini makan lah", Yasmin menyuguhkan nasi serta lauknya dan kemudian kembali duduk berhadapan dengan Hanan.
" Ayo, makan, bunda mana?", Tanya Hanan.
" Bunda sudah makan".
" Duh jadi malu", Hanan menggelengkan kepala.
Yasmin yang melihatpun sebetulnya kasihan, wajar jika Hanan malu, mantan suaminya itu memang nakal karena kurang bertanggung jawab, tetapi dibalik itu hati Hanan itu baik, bahkan saat dulu belum poligami, menurut Yasmin, Hanan itu lembut, tak pernah marah, sabar dan tidak pernah mengeluh, hanya kurang tegas dan jika apa apa itu harus diberi tahu, jika didiamkan dan tidak ada yang memberi tahu ya sudah belok kemana suka.
__ADS_1
Bersambung.....
Maaf ya, yang nanya karma untuk Hanan dan Dewi harap sabar dulu, karena akan author buat Yasmin hidup tenang dulu dengan masa depannya serta anak2nya baru sidikit demi sedikit karma Hanan dan Dewi berjalan... 🤗🙏🙏