JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Sisi kenakalan Dewi


__ADS_3

Semalaman Hanan tidurnya menjadi tidak nyenyak, pikirannya melayang, menerawang jauh, memikirkan Dewi.


Entah kenapa dirumah istri mudanya malah hati Hanan merasa tidak bisa tenang, ada rasa seperti beban yang seakan susah di cari penyelesaiannya.


Mau marah sama Dewi, jelas tidak bisa langsung ketus, istri mudanya ini galak tidak seperti Yasmin yang hanya memilih diam dan menangis jika di nasehati.


Dewi baru di tegur sekata jawabnya seratus kata, mudeng tidak sewot iya, pusing.


Seperti tadi setelah perdebatan mengenai tidak boleh keluar lagi karaokean malah Dewi nagih ngajak piknik nginap dua hari karena kemarin Hanan dan anak istri tuanya nginap semalam Dewi maunya dua malam, bukan di villa tapi sewa bangalo atau sejenisnya yang lebih bagus dari vila tempat ngineb Yasmin.


Hanan sudah menerangkan jika uangnya hanya ada lima ratus ribu, dan Dewi mencak mencak tidak terima, Hanan harus mencari untuk piknik liburan kali ini, ini liburan pertama mereka, ujar Dewi.


Hanan turun dari tempat tidur dan keluar kamar dengan hati hati kemudian menurup pintu kamar dan berjalan menuju sofa, kembali menyalakan tivi dengan suara sangat pelan.


Hanan menyugar rambutnya, menyesal? jawabnya iya! Tapi sekali lagi ini pernikahan bukan permainan, tidak bisa karena sedikit kecewa dan menyesal kemudian pisah, cerai, didalamnya ada janji melalui akad dengan Robb-Nya, ada tali yang mengikat dua hati tidak mudah untuk diputus hanya karena kecewa, tidak cocok atau merasa kalah.


Sekalipun menyesal tidak bisa untuk putar balik, sekali lagi ini pernikahan bukan laju motor yang bisa balik arah sesuka pengendaranya.


" Apa kasihan, simpati atau memang cinta sama Dewi?", Guman Hanan dengan kegusarannya.


" Kasihan iya, dia masih terlihat muda, segar dan menggoda, heug .. Menggoda!", Monolog Hanan dengan tersenyum miring, mentertawakan dirinya yang tergoda pada p***t*t bohainya Dewi, pada d*** busungnya juga, padahal sudah ada Yasmin yang sebetulnya tidak kalah seksi dari Dewi, hanya saja milik Yasmin dibungkus dengan rapat dan longgar sehingga tidak ada penampakan dari luar yang menonjol sana sini.


Sama, Dewi juga dibungkus sedemikian rupa, hanya saja bungkus milik Dewi ngepres, pas, sangat cukup sehingga terlihat menonjol disetiap tonjolan, itu sih mungkin bedanya, dan membuat Hanan penasaran hingga terlena.


Mau putar balik, Yasmin sudah terlanjur kecewa, mau lurus terus bukan hal mudah, banyak sekali hal yang tak bisa ditoleran oleh Hanan dari Dewi, " Pusing!", Hanan mendesah dengan menggelengkan kepalanya yang terasa berat.


Akhirnya Hanan menuju kekamar kembali, tapi nasib baik rupanya sedang berpihak padanya. Kepala yang pening memikirkan tingkah istri mudanya, masuk kamar daster mini yang dipakai Dewi tersingkap, posisi tidur miring, selimut sudah terlepas entah kemana, nampaklah tali terikat pita, melingkar di pinggul Dewi, dengan senyum jahil Hanan menarik tali itu, lepaslah tali itu, tak terkait lagi.

__ADS_1


Yang tadinya berniat iseng, jahil malah Hanan yang melotot lebar, matanya yang ngantuk lagi, langsung briarrr.... rasa kantuknya hilang bersama tali yang terlepas dibaliknya ada buah kiwi separuh.


Tangan Hanan pun bergerak menaikkan daster Dewi, bukannya membuang tangan Hanan, Dewi yang sudah nyenyak malah menggeser tubuhnya menjadi terlentang, membuat Hanan merasa ditantang, maka aksinya pun berkelanjutan, apalagi Dewi yang makin mend***h tak karuan, Hanan makin kranjingan melihat Dewi dengan kulit putihnya, montok pula, meski malam sudah makin larut Hanan makin gencar.


" Pakkk....". Desah Dewi ketika merasa tubuhnya ada yang menindih dan menggoyag goyangnya, sesuatu sedang beraksi dibawah sana.


" Hemmmm".


" Sudah tidur saja", Ujar Hanan, tapi Dewi tidak begitu meski matanya terpejam nyatanya tubuhnya memberi permainan pada Hanan.


Hingga Mereka menuntaskan aktifitas malam mereka.


Dewi kembali tidur, sementara Hanan masih membersihkan diri di kamar mandi, disana Hanan meringis, kembali mentertawakan dirinya, " Benar benar wanita penggoda, tak bisa diatur, bikin pusing saja, tapi memang nikmat sih", Hanan miris dengan dirinya sendiri.


Tak sadar Hanan, jika semua ini terjadi karena tebal nafsunya dan tipisnya iman, jika punya prinsip yang kuat, pastilah tidak akan nekad menikahi Dewi.


Uang pas pasan, bahkan terkadang kurang, tapi hasrat tak terkendalikan, ya itu pilihan.


Subuh yang kesiangan ditambah belum ada kopi kesukaan, minuman pagi Hanan. Dewi rupanya juga masih malas malasan diatas pembaringan, hemmm.... sudah biasa.


" Bangun, cepat bersihkan badan, jangan sampai kesiangan", ujar Hanan pada Dewi.


" Heuummm... iyah!", Jawab Dewi belum juga beranjak.


" Hari ini bapak disini kan?", Tanya Dewi.


" Kenapa? Mau pergi lagi?", Jawab Hanan.

__ADS_1


" Enggak! Jangan pulang dulu, mama masih kangen, semalam mama merem belum terlalu sadar jadi masih kurang", Jawab Dewi dengan bahasa pulgar tanpa malu malu.


" Aishhh.... Bapak yang harus beli obat kuat nih", Hanan pun tersenyum lebar.


" Ga usah, bapak masih sangat perkasa", Jawab Dewi kemudian dia turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Hanan tersenyum bangga, ternyata istri mudanya ini liar juga, tanpa malu malu minta nambah.


Mikir Nan, yang begitu memang memabukkan tetapi menakutkan juga ... kalau kurang dia bisa cari tambahan di warteg ( Warung tetangga) 🤭


" Anak anak belum bangun?", TANYa Hanan ketika Dewi selesai mandi.


" Belum, baru juga jam delapan", Dewi mengeringkan rambutnya yang basah dengan cuek, tidak ganti baju dulu padahal saat ini hanya handuk yang pas melilit d*** sampai setengah pahanya saja.


Hanan melirik Dewi, merasa Hanan memperhatikan dirinya Dewipun tak membuang kesempatan dia segera bergerak gerak manja agar Hanan semakin melihat dirinya.


Bahkan tanpa malu malu Dewi langsung membuka handuk yang melilit ditubuhnya.


" E eh, mau ngapain mah?", Hanan terkaget dengan ulah istri mudanya.


" Mau minta tambah lah, mumpung badan seger habis mandi", Jawab Dewi cuek mendekati Hanan yang masih berdiri mematung.


Dalam benak Hanan, bukannya tidak mau atau menolak rejeki tetapi semalam kan sudah dia kerahkan tenaga pamungkasnya, jika paginya nambah pasti tidak akan seperkasa semalam, belum lagi si jalak, belum apa apa sudah linu.


" Lha, kan tadi malam sudah kok, nambah sih?", Tanya Hanan gugup ingin cari alasan untuk menghindar atau menjeda jarak agar jangan sekarang tapi sudah tidak bisa menghindar.


" Aku masih kurang pak", Rengek Dewi manja dengan tubuh polosnya, aroma sabun yang mengoar dari tubuh Dewi tak pelah membuat jalak Hanan kembali mengepakkan sayapnya.

__ADS_1


" Tapi tidak sekuat semalam ya, soalnya jedanya juga baru berapa jam nih, si jalak butuh jeda agak lama jika mau full", Terang Hanan, sedikit malu karena kenyataannya dirinya tak segagah yang Dewi pikirkan.


Bersambung......


__ADS_2