
Yasmin sudah berada di kota A, rumah sudah diserahkan pada bu Nunik dan katanya langsung ada yang mau mengontrak. Yasmin lega, jika iya lumayan uangnya bisa untuk masuk sekolah Hasan yang berniat Boarding school.
Pihak tempat les dan juga tetangga bahkan sekolah Aya, tahunya Yasmin pindah kekampung halaman, itu semua sudah diatur oleh Yasmin, bu Nunik dan pak Taslim serta bu Ida, bahkan ada bukti kuat dari sekolah Aya yang menyatakan Aya pindah ke kampung bundamya.
Bukan tanpa alasan Yasmin membuat skenario ini, Yasmin merasa Hanan sudah tidak mementingkan anaknya buat apa bapaknya harus tahu, biarkan nanti jika mereka besar, mereka Sendiri, anak anak Yasmin yang akan memutuskan untuk bertemu bapaknya.
Tugas Yasmin adalah mendidik dengan baik, mencari duit untuk menghidupi dan menyekolahkan anak anak ini dengan sebaik mungkin, anak anaknya sudah tahu persis pada nasabnya itu sudah cukup bagi Yasmin.
Beberapa hari berada di tempat baru, mereka berempat menyesuaikan dengan lingkungan yang ada. Tidak buruklah, disini ditempat yang baru udaranya lebih sejuk, masyarakatnya juga ramah, lingkungan juga banyak yang pendatang juga, sehingga memudahkan bagi mereka untuk saling komunikasi antar sesama tetangga.
" Dik, jika kakak sudah mulai masuk sekolah adik jangan main terus bantuin bunda ya di rumah", Ucap Hasan pada Husain saat sedang membereskan baju mereka.
" Iya kak, tapi kakak sering sering pulanglah", Jawab Husain dengan sedikit cemberut, sudah terbayang betapa sepinya nanti jika kakaknya sudah masuk boarding school.
" kakak hanya libur dua minggu sekali di sabtu dan minggu tetapi itu setelah enam bulan disana baru boleh diambil jika belum enam bulan sebulan cuma dikasih satu hari", Jawab Hasan.
" Yah... makin sepilah aku", Ujar Husain makin frustasi.
" Lah kan kakak ambil Tahfidz pastilah lebih padat waktunya untuk menghafal, bukan cuma main", Jawab Hasan.
" Iya deh, adik pingin lihat kakak berdiri didepan menjadi imam masjid diujung sana itu, masjidnya besar dan ramai terus jamaahnya", Jawab Husain dengan tersenyum.
" Aamiin, doakan dik", Hasan mengacak rambut adiknya.
" Pasti kak".
" Anak anak kita makan yuk, tadi bunda beli makanan khas tempat ini yang diujing sana, semoga kalian suka", Yasmin memanggil anak anaknya untuk berkumpul dan makan bersama.
Yasmin merasa bersyukur, rumah yang ia tempati ini lebih besar dari rumahnya dulu juga bangunannya lebih bagus, ada tamannya di depan, dan diatas tempat jemuran ada dak untuk menaruh pot pot bunga dan bertanam sayuran seadanya, itu sungguh membuat Yasmin waow, minimal menanam daun bawang atau cabe sebatang saja bagi Yasmin itu sudah senang.
" Bun, Aya suka banget sama rumah ini, adem terus kamar Aya juga luas, sepertinya disemua tempat, di rumah ini membuat Aya betah, di dapur betah, bersih soalnya, di ruang keluarga juga betah sofanya nyaman, di teras juga adem, seneng deh", Ujar Aya polos.
" Alhamdulillah, terus dan banyak berdoa ya, semoga rumah ini membawa keberkahan hidup kita, Aamiin ", Ucap Yasmin bijak.
Ditempat lain
Hanan sekarang mulai sedikit rajin ke masjid, seusai saran dari pak ustadz, meskipun belum rajin seperti dulu tetapi paling tidak sudah sedikit mau.
Berbeda dengan Dewi meskipun sudah diminumkan air dari pak ustadz tetapi hanya sedikit membawa perubahan, tetap tidak mau melaksanakan kewajibannya.
Hari ini setelah sekian lama dan berkali kali berencana akhirnya Hanan hendak berkunjung untuk melihat anak anaknya, kangen.
Itu yang dia rasakan, ada segelintir rasa yang tidak bisa diutarakan dihatinya, sudah dua hari ini memimpikan Aya terus.
" Ah, kangen nak bapak, sampai mimpiin kamu", Gumam Hanan.
__ADS_1
Tak perlu ijin Dewi, sepulang sekolah Hanan langsung melajukan motornya ke arah rumahnya, cukup jauh karena kini Hanan mengajar di SD yang berada jauh dipingggiran kota, satu jam lebih untuk sampai di rumahnya.
" Assalamualaikum...", Hanan tanpa lihat kiri kanan langsung salam nyelonong masuk begitu saja kedalam rumahnya.
" Waalaikum salam.... Eh!! Ma-aaff", Suara ibu muda sekitar seusia tiga puluhan menjawab dan dua duanya pun terkejut.
" Eh, maaf! Bapak siapa?", Tanyanya bingung.
" Oh, saya bapaknya anak anak yang punya rumah ini bu, lha ibu siapa?", Tanya Hanan juga tak kalah bingung.
" Oh, maaf pak, saya yang ngontrak rumah bapak".
" Ngontrak?!", Hanan terkejut bukan main, rumahnya dikontrak orang, terus kemana Yasmin dan anak anaknya, oh Robb!
Tanpa melanjutkan lagi pertanyaan, Hanan langsung permisi dan minta maaf, kemudian menuju rumah bu Nunik.
" Waalaikum salam pak, oh pak Hanan, silahkan , apa kabar pak lama tidak kemari?!", Bu Nunik berbasa basi namun dalam hati melihat wajah Hanan, beliau tertawa ngakak dan mempersilahkan duduk di kursi rotan diteras rumahnya.
" Bingung ga, bingung kan?! Huh!!", Batin bu Nunik mencibir puas.
" Saya baik bu, Alhamdulillah", Jawab Hanan.
" Alhamdulillah", Bu Nunik.
" Bapak belum pulang bu?", Tanya Hanan.
" Belum pak, Silahkan saya ambilkan minum dulu", Bu Nunikpun masuk untuk mengambilkan minum buat Hanan.
" Diminum pak", Bu Nunik memberikan satu cangkir kopi panas serta air mineral tak lupa sedikit camilan.
__ADS_1
" Terima kasih bu", Hanan langsung mengambil air mineral untuk diminum.
" Bu, anak anak pindah ke kampung ya?!", Tanya Hanan lemas.
" Iya pak, bahkan semua barangnya pun diangkut, ini koper punya bapak sudah bunda bereskan", Tunjuk bu Nunik pada koper besar di ruang tamunya.
" Kok tidak pamit sama saya", Ujar Hanan sambil tertunduk, hatinya rasanya seperti diremas, seperti habis kehilangan sesuatu, seperti habis kerampokan rasanya, antara marah, kecewa, ya begitu lah.
" Lha, masak bunda tidak pamit, bunda itu orangnya perfect begitu lho pak, tidak mungkin jika bunda tidak pamit rasanya aneh sih ya... soalnya kesemua tetangga saja pamit lho pak", Jawaban bu Nunik ini seperti hinaan ditelinga Hanan.
" Pindah kemana bu?", Tanya Hanan masih penasaran, tangannya meraih ponsel dan mencoba menelpon Yasmin dan anak anaknya namun tak satupun telpon tersambung, Veronika malah bilang jika nomer yang anda hubungi tidak tercantum, makin kesal hati Hanan.
" Setahu saya liburan kemarin bunda dan anak anak liburan dikampung, setelah pulang dari kampung tahu tahu bunda langsung beberes, mengemasi semua barangnya tak terkecuali, semua di bereskan hingga bersih tak tersisa, nah baru kosong lima tiga hari langsung ada yang mau ngontrak", Bu Nunik menjelaskan.
" Dia tidak pesan apa apa pada ibu?", Tanya Hanan.
" Ya pesan minta rumahnya di kontrakkan kalau ada yang mau, harga sekian terus minta di transfer untuk sekolah Hasan mau masuk boarding school", Jawab Bu Nunik.
" Wiihh....Boarding school, sekolah mahal, dapat uang dari mana dia", Batin Hanan mencibir, tetapi bangga juga, jika diajak bicara sama Yasmin pasti juga sangat setuju dengan pilihan Hasan.
Bersambung.....
\*\*Halloooo..... Readers setiaku.... maaf jika pas kalian buka novelku ini covernya sudah berubah... itu yang mengganti pihak noveltoon jadi ya... ganti dehπ
Sebetulnya sesuai judul cover yang kemarin aku pasang itu kan, gambar cowok menangisi penyesali masa lalunya, perbuatannya, tetapi sekarang diganti gambar cewek... tapi tak masalah lah ya... semoga readers ku tidak bingung lagi...
Terima kasih Noveltoon....π€
Terima kasih readersku... π€\*\*
__ADS_1