
Dan liburan pun datang....
Yasmin dan ketiga anaknya sangat antusias, besok sore mereka mau ke rumah nenek dan hari ini mereka berada di super market untuk beli oleh oleh serta bekal buat dijalan, entahlah bagi Yasmin pulang kampung kali ini terasa berbeda, bukan karena statusnya yang janda, bukan! Yasmin untuk sesaat lupa jika ia memang sudah janda, hanya saja pulang kali ini Yasmin punya uang untuk berbagi pada orang tua, sanak saudara meskipun tak banyak tetapi rasanya bebas tanpa beban gitu membagi uang hasil kerja sendiri.
Yasmin sudah menyiapkan amplop untuk ibinya, bapaknya, anak anak kakaknya, ibunya dan bapaknya Hanan juga keponakannya Hanan.
Begitupun saat belanja oleh oleh, tak berfikir lagi seperti dulu, sekarang Yasmin sudah dianggarkan, uang untuk ongkos, oleh oleh, berbagi bahkan uang jika mendadak dikampung ketemu kaum sepuh yang ia kenal, Yasmin sampai berfikir kesitu. Tak ada risau lagi, tak banyak tetapi bisa berbagi hasil jerih payah sendiri, bahkan Yasmin juga sudah siapkan jika dikampung anak anak mau piknik, semua sudah di perhitungkan oleh Yasmin.
" Bunda boleh Aya ambil buah apel, pir sama minuman?", Aya takut takut, biasanya jika belanja begini hanya dibatasi ambil yang dimau satu atau maksimal dua macam saja karena uang yang terbatas sehingga membuat Yasmin dulu harus disiplin sama anak anak, meski sekarangpun masih tetapi kali ini Yasmin ingin anak anaknya bebas meskipun terbatas untuk memilih jajan yang diinginkan.
" Boleh, ambil enam enam, apel enam, pir enam, minumannya terserah bunda air putih saja", Jawab Yasmin.
Dan Husainpun juga mengambil aneka camilan, coklat dan juga biscuit, Hasan cukup ambil beberapa saja tidak berlebihan yang penting afik adiknya kebagian.
Meskipun tanpa Hanan, Yasmin bisa merasakan kepulangan kali ini membuat anak ynaknya semangat.
Pulang dari supermarket Yasmin kembali prepare barang barang yang akandibawa besok, dan kakaknya Yudi besok akan menjemput distasiun kereta.
" Anak anak jangan lupa peralatan sholat, peralatan mandi juga charger kalian", Yasmin mengingatkan kembali pada anak anaknya.
" Iya bunda", Jawabnya serentak.
Yasmin tersenyum, lega hatinya, semoga sampai di rumah orang tuanya sehat semua, mereka senua sudah tahu jika Yasmin resmi berpisah dari Hanan, dan merekapun mendukung Yasmin sepenuhnya.
" Nanti jika kalian berkunjung ke rumah nenek Ainun kalian tidak boleh bilang jika bunda sama bapak sudah pisah ya, biar bapak yang cerita sendiri, kita bilang saja jika bapak akan menyusul", Yasmin berpesan pada anak anaknya.
" Iya bun, biar saja bapak sendiri yang kena marah nenek sama kakek", Ketus Aya.
__ADS_1
Kedua kakaknya hanya tersenyum mendengan ucapan adiknya yang suka apa adanya itu.
,~~~
Sementara Yasmin dan ketiga anaknya tengah berbelanja, dan makan di restoran.
Ditempat lain Hanan yang akhir akhir ini bertanya tanya mengenai kebiasaan Dewi pun penasaran.
Hatinya srperti ada yang menyentil untuk ikut dan menyelidiki tentang kegiatan Dewi jika diluar rumah.
Saat Dewi tengah bersiap hendak pergi Hanan pamit pergi duluan, pamitnya mau ke rumah Yasmin sudah lama tidak kesana, membuat Dewi merasa aman dan tenang kepergiannya kali ini tidak akan ditungguin pulangnya oleh Hanan, merasa lepas apalagi anak anaknya sedang di rumah neneknya karena liburan lama.
Dewi dengan santainya menuju kesebuah tempat yakni tempat karaoke yang biasa dipakai Dewi dan kawan kawan untuk kumpul.
Hanan mengikuti sedikit jaga jarak agar tidak ketahuan oleh Dewi.
Menunggu, menunggu, menunggu... hingga empat puluh menit dan Hananpun masuk pada akhirnya.
Dengan topi dan kaca mata yang telah ia siapkan untuk menyamarkan wajahnya agar Dewi tidak langsung mengenali.
" Alamak.... waduuhhh.... didalam emak emak semua nih, waoww.... ternyata semuanya sebelas duabelas sama bini ku, hemmn", Gumam Hanan sambil menggelengkan kepala, musik yang keras, sedikit pencahayaan serta bau rokok yang menyengat menyeruak di penciuman Hanan.
" Buat pusing kepala... huaahh", Gerutu Hanan dengan bau asap rokok.
Hampir sepuluh mrnit tapi Hanan tak melihat Dewi, tapi diamati lagi dan lagi.
Benar!!! matanya tidak salah lihat, Dewi yang tadi dikerudung saat dari rumah kini sudah berubah, celana jeans ketat andalannya serta koas tanpa lengan ketat berwarna pink, berjoget ala penyanyi dandung goyang mentok, bebek, goyang ajep ajep atau goyang ala putus putus.
__ADS_1
Hanan tidak menyangka istrinya begitu hot bergoyang, bahkan saat ini pinggangnya tengah di pegang seorang pria yang masih gagah, dan teman temannya pun bersorak seakan memberikan semangat untuk mereka berdua.
Hati Hanan benar benar panas bahkan saat ini diubun ubunnya hampir berasap, tetapi dengan mengeratkan giginya Hanan menahan sekuat tenaga agar tetap bertahan tidak keluar dari persembunyian.
Hanan mengucek matanya, berharap yang dilihat salah bukan istrinya tapi mau berapa kali tetap sama, yang sedang goyang demplon itu memang Dewi istrinya.
Hanan mempersiapkan dirinya dengan menarik nafas beberapa kali untuk mendekati istrinya. Namun saat hatinya sudah bersiap dan mau mrlangkah rupanya Dewi sudah tak nampak disitu.
Hanan mrngedarkan pandangan, mencari keberadaan Dewi tapi nihil, kemudian Hanan mencoba me?nelpon Dewi tetapi hingga beberapa kali panggilan tidak diangkat juga.
Akhirnya Hanan nekad menampakkan diri dan bertanya pada temannya tentang keberadaan istrinya, tetapi temannya bilang jika Dewi sudah pulang sekitar sepuluh menit yang lalu.
Kesal sekali hati Hanan, berarti benar tadi memang istrinya, matanya tak salah lihat. Dengan setengah berlari Hananpun segera kearea parkir, ingin segera mengejar istrinya.
" Astaghfirullohaladzim.... ", Hanan meraup wajahnya, dia menjatuhkan dirinya di lantai area parkiran dengan menutup wajahnya dengan kedua tapak tangannya.
Antara marah, kecewa, tertipu, sedih, menyesal semuanya menjadi rasa yang tidak bisa dijelaskan, dadanya terasa sesak ingin meledak, matanya panas, kakinya pun ikut lemas.
" Gustiiii.... Aku harus bagaimana?", Lirihnya, bingung!! Jujur sikap apa yang harus diambil jika sampai rumah mendapati istrinya, Hanan takut kelepasan lagi seperti saat dengan Yasmin.
Tidak mau menyesal untuk yang kedua kalinya, Hanan mencoba bersabar kali ini. Biarlah dirinya tidak dihargai, dihinakan, sebagai seorang lelaki Hanan merasa jika Dewi tidak bisa memuliakannya.
Tetapi untuk kembali gagal Hanan malu, sangat malu, baik pada tetangga, teman dan keluarga ya dikampung terutama pada Yasmin.
Hanan berdiri sedikit terhuyung tetapi memaksakan untuk segera meninggalkan tempat itu, ingin segera bicara dengan Dewi.
Rupanya tadi ada teman Dewi yang memberi tahu jika Dewi di mata matai suaminya. Meskipun tidak ada teman Dewi yang pernah dikenalkan Hanan, tetapi mereka memperhatikan orang yang mengintip, pas ciri cirinya disebukan, Dewi yakin jika itu Hanan suaminya, maka kaburlah dirinya secepat mungkin.
__ADS_1
Bersambung......