
" Bapak!!! Siapa wanita yang sering menemani bapak renang itu hah!!!???",Dewi tidak sabar akhirnya keluar juga pertanyaan yang sedari tadi mengganggunya.
" Owwhh.... Jadi mama mematai matai bapak?!, Baguslah jadi mama sudah tahu, bapak tidak perlu menjelaskan! Dia wanita yang baik dan lembut seperti bunda!", Jawab Hanan dengan wajah sedihnya. Dewi terhenyak, kenapa suaminya menyebut bunda dengan wajah sedih, memang kenapa dengan bunda, batin Dewi.
" Bapak jangan main apa lagi ya, belum cukup ada aku sama bunda, hah! keterlaluan kamu pak!", Jerit Dewi.
" Tahu apa kamu tentang bapak? Cukup jadilah istri yang baik jika masih ingin bersama ku", Ucap Hanan dingin.
" Oh! Jadi mau bapak begitu, aku di suruh berdiam dirumah terus bapak cari kesenangan, begitu? Enak banget kamu pak!", Dewi makin teriak dengan keras.
" Jangan cari masalah jika tidak tahu apa apa, Orang yang kamu maksud tadi itu adalah orang baik yang sudah menolong bapak, jadi jangan pernah kamu menaruh curiga jika belum tahu yang sebenarnya", Ucap Hanan, seakan dia orang bersih.
Dewi langsung tergagap, diam dan tak menjawab lagi, sementara Hanan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri kembali setrlah tafi di tempat renang juga sudah bilas.
Begitulah kehidupan Hanan dan Dewi tak ada kedamaian, damai sebentar ribut lagi, mungkin seperti utu jika hasil dari ketidak jujuran, pada akhirnya menjadi bumerang sendiri.
Hal tersebut tentu berlaku juga buat yang masih sama sama singgel, hati hati juga jika niat mendapatkan pasangan karena hanya dilihat dari satu sisi, di kiranya kaya jadi mau, begitu sudah menjadi pasangan ternyata tidak sesuai ekspetasi, maka akan ada kekecewaan, ributlah yang terjadi.
Hanan seperti orang yang trngah patah hati, makan tak ada selera, tidurpun tak nyenyak.
" Gila gila gilaaa.... istri orang Wooeee", Hanan menampar pipinya sendiri, supaya sadar, tetapi hatinya terus meridukan bu Rosa.
Mencoba menghubungi dengan nomer baru tapi tidak aktif, berkirim pesan pun juga tidak bisa, frustasi semakin menjadi. Ada Dewipun tak berarti, hatinya mau Rosa bukan Dewi.
Sementara itu dokter Yusuf sudah mempersiapkan diri untuk kembali ke kota setelah berada di rumah orang tuanya tiga hari.
Dengan berbagai barang bawaan dari ibunya yang katanya untuk calon mantu, di angkut di mobil pak dokter.
" Kasihkan untuk Yasmin, jangan mampir mampir lagi ke rumah janda lain!", Kata ibunya pak dokter dengan terkekeh.
" Aissshh..... Ibu, mrmang aku ini duda pengkoleksi janda, cukup satu janda saja sudah membuatku kelimpungan buk", Jawab dokter Yusuf dengan tergelak lebar.
" Kalau ada yang bening bapak request satu aja Suf!", Timpal sang bapak.
" Ngomong apa pak?!", Ibunya dokter Yusuf sudah berkacak pinggang dengan tatapan garang, lha iya si bapak mau ikut ngelawak, mana ada didepan istrinya pesan janda bening yang ada langsung dapat tatapan galak dari sang istri.
__ADS_1
" Weelaaa..... Bapak ini mengajak perang dunia ke tiga rupanya, sudah pak bu Yusuf pamit dulu, Assalamualaikum", Dokter Yusuf terkekeh dan menyalami kedia tangan orang tuanya kemudianasuk kedalam mobil.
" Bu.... jangan lengah, diujung sana anaknya pak kumis janda kembang lho.... hati hati jika bapak keluar malam", Dokter Yusuf berkelakar dari dalam mobil dengan melirik sang bapak, terang saja dari kaca spion dia melihat ibunya mencubit pinggang bapaknya.
Dokter Yusuf terkekeh kembali, dia tahu bapak sama ibunya meskipun begitu tetapi beliau adalah pasangan paling romantis dan saling menghargai.
Tak butuh waktu lama dokter Yusuf sudah sampai dikota tujuannya kembali. Diapun langsung menuju rumahnya dan membersihkan diri, meskipun begitu dia tidak berani membongkar isi mobilnya kecuali tas kecil ransel yang ia bawa kemarin dari rumah untuk membawa peralatan sholat danandi dijalan jika ada keperluan mendesak, karena perjalan dua jam jarang juga berhenti dijalan jika bukan karena mau keair.
" Di rumah dokter Yusuf ada bibi yang menjaga rumah, bi Murni.
" Pak dokter kok pulangnya sendiri, dimana nak Awa?", Tanya bi Murni.
" Bunda? Bunda yang mana pak, bu dokter Sabrina?", Tanya bi Murni soalnya wanita yang sering berkunjung fi rumah itu akhir akhir ini cuma dokter Sabrina.
" Bukan lah, Sabrina sudah pindah keluar kota bi.... Lagian Sabrina tidak akan mau jika ku titipin Awa, Dia maunya ayahnya Awa saja, anaknya tidak! Payah ya bi", Ucap dokter Yusuf dengan terkekeh.
Bi Murni hanya tertawa, karena yang bi Murni rasakan jika dokter Sabrina itu kurang ramah dan tidak sayang sama Awa, jika datang tidak pernah menyapa Awa, malah seperti mengabaikan.
" Nah yang sekarang bunda yang mana pak?", Tanya bi Murni.
" Ada deh bi, pokoknya saya minta doanya supaya yang ini tidak lepas deh bi, soalnya hatiku sudah nyangkut dari jaman kuliah dulu, cuma baru ketemunya sekarang waktu yang pas, semoga bi", Ujar dokter Yusuf.
" Wahhh..... ternyata, cinta lama ya dok, saya doakan pasti... kalau di tipi itu namanya CLBK dok, cinta lama balik kembali ", Bi Murni tergelak, begitupun dokter Yusuf.
__ADS_1
" Ha haaa.... bibi pinter!", Kekeh dokter Yusuf.
" Saya kesana dulu ya bi, mau nganterin titipan dari ibuk", Pamit dokter Yusuf pada bi Murni.
" Iya pak dokter, hati hati ", Bi Murni kembali menutup gerbang setelah mobil yang dikendarai dokter Yusuf bergerak menjauh.
Sementara sore itu di rumah Yasmin.
Yasmin tengah sibuk membuat cake, sudah lama rasanya tidak pernah ada waktu untuk mengotak atik bahan bahan kue didapur.
Waktunya srlalu habis dengan urusan sekolah, les dan tugas tugas sekolah, masak seadanya, nyuci buru buru, bersih bersih rumahpun sesempatnya.
Seorang janda dengan tiga anak, benar benar menguras tenaga untuk mencari uang.
Sementara anak anaknya benar benar diusia sedang membutuhkan banya duit, selera makan merekapun sedang banyak banyaknya jangan lupa itu, mereka dalam masa pertumbuhan, jika bapak yang berfokir dengan logis tidak akan tega membiarkan ibunya peras keringat sendiri.
Tapi bagi Yasmin bisa memberi kebutuhan pokoknya anak anaknya dengan peras keringatnya adalah suatu kebahagiaan, disana ada doa dan harapan supaya anak anaknya kelak bisa menjadi manusia yang bisa diandalkan, dengan pijakan agama yang kuat.
Yasmin tidak butuh balasan dari semua yang diusahakannya, dia sudah cukup bahagia melihat ketiga anaknya sehat, semua kebutuhannya tercukupi meski tak berlebih, jika mereka kelak sukses itu adalah karena usaha mereka sendiri, Yasmin hanya mengiri doa saja.
" Assalamualaikum", Terdengar deru mobil memasuki halaman dan kemudian suara salam, Yasmin sudah bisa menebak siapa tamunya gerangan.
" Waalaikumusalam".
Bersambung.....
__ADS_1