
" Kami anak bapak bukan dewa? jika Bapak terharu dan menyesali perbuatan Bapak orang yang paling pantas bapak junjung Drajat nya adalah Bunda, Terima kasih karena dari rahim beliau kami terlahir dan dengan arahannya kami belajar dan dengan ketabahannya kami mandiri dan dengan kesabarannya kami terus belajar dengan kemuliaan hatinya kami bercermin dengan senyum tulusnya kami bahagia dan dengan keringatnya kami makan kami bisa memakai baju kami bisa membayar uang sekolah...... ", Hasan berbicara dengan mata kosong dan wajah yang datar pikirannya kembali ke beberapa tahun lalu.
ketiga putranya itu pun hanya diam setelah kata-kata Hasan seperti itu pun Hanan semakin lemas lah badannya.
" ya Allah, terimakasih kau kirimkan wanita yang begitu hebat untuk melahirkan anak-anakku, dan mendidiknya untuk selalu berada di jalan-Mu", lirih Hanan, rasa senang yang berlebihan dan rasa bersalah yang teramat sangat membuatnya dadanya semakin sesak.
Sementara itu dokter Yusuf yang tadi keluar untuk mencari sarapan telah kembali namun ia masuk dan memarkirkan motornya melalui pintu samping.
" Lho... kok malah bengong di sini?, bukannya nemuin Mas Hanan!", dokter Yusuf menepuk pundak Yasmin yang sedang duduk di sofa depan TV sambil menyusui baby Yunus.
Mereka sudah dikaruniai anak kedua dari pernikahan mereka dan lahir kembali seorang bayi laki-laki yang diberi nama Yunus.
" Nunggu mas, Bunda nggak mau nemuin dia sendiri", jawab Yasmin.
" Lho kan ada anak-anak, Ayah tidak masalah Bun, tapi baiklah kita berdua akan menemuinya, ayo!", dokter Yusuf menarik pelan Yasmin supaya berdiri.
" Sebentar ... biarkan Yunus lepas dulu dari susuannya", jawab Yasmin, jujur Yasmin masih ada rasa malas untuk bertemu mantannya itu.
" kok diam?, kenapa? masih belum siap?", Tanya Dokter Yusuf saya membelai kepala Yasmin.
Yasmin menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan, " untuk bertemu anak-anak aku nggak masalah tetapi untuk bertemu denganku sepertinya itu udah nggak perlu, jika Bunda menemui itu hanya rasa hormat saja", ucap Yasmin pelan.
" Ayah percaya Bun, kasihan dia pasti waktu telah memberinya rasa penyesalan sehingga dia susah susah mencari Bunda serta anak-anak, tapi maaf Mas Hanan Anak dan istrimu udah jadi milikku!", dokter Yusuf terkekeh, sementara Yasmin tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
" Oke!, kalau begitu Ayah dulu yang keluar ya!", ucap dokter Yusuf.
" Oh tidak!, biarkan Bunda yang menemuinya lebih dulu biarkan Bunda sedikit main-main dengannya, boleh Ayah?",Yasmin tersenyum licik dan dibalas anggukan cerita senyuman oleh dokter Yusuf.
" Nakal kamu ya, dia kangen banget tahu sama Bunda kok malah mau dikerjain sih!", dokter Yusuf terkekeh.
Setelah melepaskan susuan baby Yunus dan memberikan bayi itu pada bi Murni, Yasmin mengedipkan mata dan tersenyum tipis pada dokter Yusuf serta menunjukkan jemarinya lambang cinta pada dokter Yusuf.
" Sebentar!!", dokter Yusuf membetulkan hijab dan baju Yasmin supaya lebih rapi.
" Nah gitu, jangan lupa tunjukkan senyummu", ucap dokter Yusuf, Yasmin mengangguk sambil tersenyum moodyan mengecup pipi dokter Yusuf sekilas.
Dokter Yusuf geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya enggak kenapa dokter Yusuf merasa Yasmin lebih bisa mengeluarkan ekspresi dibandingkan dengan waktu dulu yang hanya diam kalem santun namun tidak kaku tapi juga jarang bercanda.
Yasmin melangkah dengan pelan menuju ruang tamu, tidak bisa dibohongin meskipun hanya sedikit tetap dia pun dak dik Duk ingin segera melihat wajah Hanan mantan suaminya seperti apa sekarang.
Rindu sebagai orang yang pernah hidup bersama pasti ada rasa penasaran ingin melihat, Yasmin menarik nafas panjang sebelum akhirnya menimbulkan dirinya di pintu menuju ruang tamu.
Deg
Dada Yasmin berdesir melihat orang yang pernah hidup selama 13 tahun dengannya perpisahan 4 tahun lebih telah merubah semuanya di mata Yasmin, mantan suaminya itu kesan pertama yang Yasmin lihat " tua " dengan rambut yang sudah banyak ditumbuhi uban, wajah yang sedikit kusam, badan yang terlihat kurus dan kulit yang terlihat lebih gelap.
" Assalamualaikum", sapa Yasmin lembut ketika mau masukin ruang tamu dan kemudian duduk di sofa tunggal di jawab serempak oleh keempat orang yang berada di tempat tersebut.
__ADS_1
" wa'alaikumussalam", di sana Ayah nampak masih menyisakan segukan karena habis menangis hidung dan matanya pun masih memerah.
Deg
Deg
Deg
Dada Hnan yang sedari tadi sudah bergemuruh dan sesak seperti dihimpit bumi seketika bergetar hebat bahkan sepertinya dia hingga lupa caranya bernafas benar-benar seperti tercekik sampai di tenggorokan melihat mantan istrinya menyapanya dengan wajah sumringah dan senyum termanisnya terlihat wajahnya berseri-seri bersih dan glowing sepertinya lebih muda dari usianya bahkan badannya yang sedikit lebih berisi menambah terlihat seperti masih 30-an usianya.
" Bunda", dengan gemetar hannan berdiri dan memberikan tangannya untuk menyalami mantan istrinya matanya hingga tak berkedip namun Yasmin tidak menyambut uluran tangannya melainkan hanya menyedekapkan tangannya di depan dada.
" Mas apa kabarnya?", tanya Yasmin tak lepas dari senyum manisnya.
Hanan terbengong karena uluran tangannya tak disambut oleh Yasmin, perlahan ia pun mendudukan kembali tubuhnya di sofa dengan mata yang tidak teralihkan melihat ke arah Yasmin bahkan Hasan yang sedari tadi berwajah datar hingga mengeluarkan air mata melihat pemandangan itu, entahlah hatinya sedih seharusnya yang berada di ruang tamu itu adalah keluarganya yang utuh. Tapi kini lihatlah mereka menjadi orang asing yang canggung untuk berbicara untuk berbagi pengalaman untuk berbagi cerita Hasan kemudian menunduk dan mengusap air dari sudut matanya.
" Ba-baik Bunda", jawab Hanan terbata, " gugup" jelas, siapa sih yang tidak gugup melihat mantan istrinya yang ia tinggalkan begitu saja setelah menolaknya tanpa nafkah tanpa bekal untuk anak-anaknya gini terlihat berseri Dan makin cantik.
Melihat dalam kondisi yang biasa saja pun pasti akan tetap ada rasa berbeda apalagi yang Hanan lihat sekarang benar-benar Yasmin yang berbeda, membayangkan pun tidak pernah akan seperti ini, bukan mendoakan jelek Hanan terhadap Yasmin namun pribadi Yasmin yang dulu menjadi istrinya adalah wanita yang sederhana, di bayangan Hanan jika pun bertemu Yasmin tidak akan jauh-jauh kondisinya dari dirinya saat ini.
Hanan masih duduk terpaku di sofa menatap mantan istrinya tidak tahu lagi kata-kata apa yang akan terlontar dari bibirnya " speechless" mungkin kata-kata itu yang sering orang-orang ucapkan Nah itu dialami oleh Hanan saat ini.
" Syukurlah, itu harapan kami untuk bapak karena kami yakin Bapak sudah sangat bahagia bersama pilihan hidup Bapak, berarti pilihan hidup Bapak tidak salah dan itu menentramkan bagi kami, dan anak-anak", Ucap Yasmin.
__ADS_1
Bersambung.....