JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Kesambet


__ADS_3

Seminggu ini Haya mengerjakan soal penuh semangat meskipun dihatinya sangat kecewa pada bapaknya, dia ingin menunjukkan prestasinya, Aya merasa tidak disayang, tidak diperhatikan bapaknya.


" Kenapa bapak jahat!, kenapa bapak bohong!, bapak tidak sayang Aya... hiks hiks", Bocah kembali terisak jika sedang sendiri dan Husain tahu jika adiknya masih mengharapkan kehadiran bapaknya.


" Adik sudah telpon bapak lagi?", Tanya Husain.


" Sudah kak, tapi ponsel bapak tuh tidak pernah aktif", Jawab Aya sedih.


" Ya sudah dik, ada kakak kan, tidak usah sedih!", Husain mengusap rambut adiknya dengan sayang, hatinya pun kecewa pada bapaknya, rasanya jika ada bapaknya saat ini didepan matanya ingin lah ditonjoknya wajah bapaknya itu.


" Iya kak... Aya ga akan menangisi bapak lagi, Aya benci bapak!", Jawabnya seraya menghapun air matanya dengan punggung tangannya.


Yasmin juga sangat kecewa dengan Hanan, tetapi untuk mencari ogah sekali, meskipun itu untuk Aya anaknya, tetapi bagi Yasmin biarlah ini kesempatan buat anak anak makin mengeri dan yakin jika bapaknya sudah punya kehidupan yang lain.




Tiga hari setelah kejadian itu, Hanan tidak berangkat sekolah, seakan lupa, padahal anak anaknya berangkat tetapi Hanan masih sedikit linglung.



" Zidan, kok bapak kamu tidak masuk, ponselnya juga tidak aktif, kemana beliau?", Tanya salah satu guru kelas Zidan, rekan kerja Hanan.



" Sakit bu, kata mama sih bapak kesambet", Jawab Zidan polos.



" Wah, kesambet apa?", Tanya bu guru merasa aneh.



" Ga tahu bu, begong aja di rumah, ditanya tidak nyambung gitu", Jawab Zidan.



" Oh, ya sudah berarti bapak sakit ya?!", Bu guru memastikan.



" Iya bu!", Jawab zidan tak mau ambil pusing, sebab bapaknya itu seperti tidak sakit, bahkan kadang normal tetapi jika menjelang mahgrib suka bengong terus, sudah dhuhur seperti biasa tapi diem terus dan tak pernah pegang ponsel.



Dewi sudah bertanya pada seseorang tapi cuma dijawab senyuman, " Biarkan saja, paling begitu sampai besok saja kok, entar juga waras lagi", Jawab seseorang itu.



Benar saja Hanan linglung hampir tiga hari, begitu waras kembali mengingat ponselnya namun dalam kondisi mati.



Setelah di cash, dihidupkannya ponselnya dan ternyata selama tiga hari itu banyak sekali panggilan dari Yasmin, Aya, Hasan, Husain dan beberapa juga dari teman sekolah tempat dia bekerja.



Pagi ini Hanan berangkat bekerja dan sudah ditunggu oleh kepala sekolah.


__ADS_1


" Pagi pak Hanan", Sapa kepala sekolah.



" Pagi juga pak", Jawab Hanan kikuk



" Anda ini saya lihat diabsen guru, akhir akhir ini banyak sekali mangkirnya, jika seperti ini terus bapak tahu kan apa konsekuensinya? Kemungkinan terbaik bapak di mutasi dan itu kami tidak tahu, karena pihak dinas nanti yang ambil keputusan", Ujar pak kepala sekolah.



" Iya pak", Hanan tertunduk lesu, biasanya jika kasus seperti ini akan dimutasi di sekolah yang kurang atau masih dibawah akreditasinya, pasti dan mempengaruhi pada penghasilan yang lain, contoh pasti yang les renang pun akan berkurang karena murid muridnya biasanya dari kalangan yang tidak aktif dalam memperhatikan perkembangan dan kemampuan anak, pikir Hanan begitu. Pasrah!.



Pulang sekolah Hanan begitu semangat mau menemui Aya, bahkan dengan senyum mengembang terus terukir dibibirnya meskipun di sisi hatinya yang lain sedang ketar ketir jika di mutasi ke daerah.



Habis ashar Hanan berpakaian rapih, wangi dan klimis, sambil bersiul bak mau ngapel pacar baru dia bersenandung lirih mempersiapkan diri, bahkan sudah bersiap memberikan Yasmin uang dua juta untuk mengganti yang kemarin Yasmin keluarkan untuk anak anaknya.



" Bapak.... Bapak... aduuhhh... bapak perut aku sakit bapak...", Dewi meraung dari kamar, menangis perutnya terasa sangat sakit, dibawa miring sakit, menggerakkan kaki juga sakit.



" Mama kenapa? Tadi makan pedes ya?", Hanan menuju kamarnya dengan wajah kawatir.




" Dik Zidan, Zea... rebusin air untuk mama, isikan ke botol", Teriak Hanan gugup tak tahu harus bagaimana.



Dua bocah itupun nurut melaksanakan perintah Hanan.



" ini pak, mama kenapa?", Tanya dua bocah itu.



" Mama sakit perut, mungkin tadi salah makan, ini Zidan pergi ke apotek depan gang belikan obat mag ya", Hanan mengeluarkan uang dari saku dompetnya.



" Iya pak, adik tunggu tidak usah ikut!", Zidanpun berangkat dengan sepedanya.



Sementara Hanan dengan telaten mengompres perut Dewi dengan botol air panas.



Sehari, dua hari tak ada perubahan akhirnya dibawalah Dewi ke dokter, dan didiagnosa dokter jika Dewi terkena usus buntu dan harus segera di operasi.


__ADS_1


Enam hari ini Hanan mengurus Dewi, meskipun masih masuk kerja hanya saja tidak full waktunya.



Dan akhirnya diapun mendapat sanksi dimutasi ke daerah pinggiran, uang yang tadinya untuk Yasmin terpakai sudah untuk mengurus operasi Dewi, dan masih kurang akhirnya pinjamlah keteman sesama guru.



Dewi memang tidak mendapatkan Askes karena belum terdaftar di keluarga Hanan, alhasil harus mandiri semua biaya rumah sakit.



Bertambahlah permasalahan uang di hidup Hanan,. Belum lagi bapaknya telpon minta bantuan biaya untuk tambahan biaya rumah sakit ibunya kemarin.



Dengan sedikit berat hati akhirnya Hanan mengirim untuk bapaknya juga meskipun itu cuma sedikit.



Akhirnya Hanan hanya bisa bertelepon dengan Yasmin karena belum bisa memberikan hak anak anak, diapun menceritakan pada Yasmin tentang semuanya agar Yasmin bisa memaklumi, maksudnya.



" Ya, baiklah... Tenang saja tentang anak anak yang jelas mereka tidak akan kelaparan meskipun bapak hanya menafkahi janji, dan alhamdulillah juga janji bapak bikin mereka kenyang sebelum menerima haknya, jika urusan bapak pingin lancar utamakan kewajiban, ya kewajiban pada Gusti pak, ya pada anak anak dan jewajiban bapak yang lainnya", Yasmin dengan santai seperti menasehati Hanan tidak peduli mau dianggap atau tidak, Yasmin hanya mengingatkan, pikirnya.



Hanan hanya terdiam, merasa malu pada Yasmin, dulu Yasmin begitu ketat mengingatkan tentang kewajiban pada pemilik hidup, setiap saat mengingatkan, menyuruhnya kemasjid, sekarang hal seperti itu jelas tidak pernah lagi, dan parahnya Hanan tidak punya banyak kesadaran sendiri untuk kemasjid tanpa diingatkan.



" Sampaikan kangen bapak pada anak anak", Pesan Hanan pada Yasmin melalui telpon itu.



" Kalau kangen datang saja, karena mereka lebih, lebih dan lebih kangen lagi pada bapak, terutama Haya dia sampai frustasi karena merindukan bapak", Ucap Yasmin.



" Iya bapak akan kesana lain hari", Jawab Hanan.



" Berjanjilah terus hingga janji itu memakan diri bapak sendiri", Ketus Yasmin.



" Memang janji bisa makan? Yang ada juga dimakan janji", Jawab Hanan terkikik.



" Lha iya itu.... ", Jawab Yasmin malas berdebat.



" Salam saja pada anak anak, semoga kalian sehat semua, bilang bapak pasti datang tidak usah sedih, lagian jarak sini ke rumah situ juga cuma setengah jam naik motor", Jawab Hanan menyepelekan, seakan jarak segitu dekat, nyatanya dia ingkar janji jikapun dekat.



Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2