
" Kali ini kamu harus ke rumahnya besan, jangan banyak alasan, tidak sopan kamu sudah menceraikan Yasmin lama, tapi tidak kamu pulangkan dengan benar, bikin bapak sama ibumu ini tidak punya muka saja, malu!", Ketus pak Harun dengan wajah kakunya.
Hanan tertunduk, Iya memang benar jika bapaknya marah, dirinya benar benar pengecut, seerti mau lari dari masalah, padahal harusnya saat ini sudah tidak ada masalah, pisah pun sudah terjadi, sudah selesai hubungannya dengan Yasmin, tetapi jika harus datang dan memulangkan Yasmin pada bapaknya kok berat, masih tidak relakah? Entahlah tetapi Hanan selalu galau untuk menghadap bapaknya Yasmin.
" Hadapi jangan buat malu bapak terus!", Ujar pak Harun kembali menegaskan.
" Iya pak", Jawab Hanan tertunduk.
" Nan, pak Yasman dan bu Hasanah itu orang baik, sekalipun mereka kecewa padamu mereka tetap akan memaafkan tidakkan bodohmu itu, mereka bisa mengikhlaskan dengan tulus, mungkin bapak sama ibu yang malah belum bisa ikhlas Nan, bapak merasa seperti kehilangan yang teramat ", Ujar pak Harun berkaca kaca.
" Maafkan Hanan pak, Hanan tahu mereka orang baik makanya Hanan segan jika menghadap bapak, pak! Hanan sudah mengecewakan mereka", jawab Hanan tertunduk.
" Apa tidak ada kemungkinan kalian rujuk Nan?!", Tanya ibu Ainun yang masih sangat berharap untuk Hanan kembali rujuk dengan Yasmin.
" Sangat kecil bu kemungkinannya, Hanan salah bu, dan kesalahan Hanan sudah sangat fatal, Yasmin mungkin lebih bahagia hidup tanpa Hanan", Kawab Hanan.
" Kamu sudah tidak mencintai Yasmin?", Tanya bapak.
Hanan memejamkan matanya, mau di jawab tidak nyatanya Hanan masih sangat mencintai Yasmin, mau di jawab iya, percuma, Yasmin sudah lepas, jauh membawa ketiga buah hatinya, di tanya menyesal poligami, iya... sangat menyesal apalagi Dewi itu makin membuat pusing saja, tetapi semua sudah terjadi.... mau putar balik itu sudah tidak mungkin, yang tidak mungkin itu Yasmin tidak mungkin mau menerima dirinya lagi, batin Hanan.
" Sudahlah pak, Hanan menyesal tetapi penyesalan Hanan tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula, biar kita hidup masing masing", Jawab Hanan dengan perasaan yang bergejolak, seakan bapaknya mengingatkan kembali tentang perasaan yang sebenarnya Hanan simpan jauh didasar hatinya, disana jauh, belum Hanan gali karena Hanan tahu jika ia gali tentu akan terus meratapi nasibnya kini.
" Ya, itu benar... biarkan Yasmin meniti hidupnya yang baru, hidup yang telah kamu hancurkan, bapak lebih merasa lega jika kamu mengikhlaskan Yasmin, biar kamu jadikan pelajaran", Ucap pak Harus, sementara bu Harun masih tidak rela jika Yasmin benar benar tidak diperjuangkan lagi oleh Hanan, mau diganti seratus bidadari sekalipun bu Ainun cuma memberikan restunya pada Yasmin, bukan si jebleh. ( Iih... bu Ainun jihit ya, masak menantu mon toknya dipanggil si jebleh).
" Ya", Hanan pasrah, dari awal dia memang tak akan berniat kembali pada sang mantan istri, meskipun pilihan keduanya salah tetapi gengsi lah.
Pagi sekali Yasmin sudah menyelesaikan administrasinya di rumah sakit sebelum jam sepuluh, Aya sudah harus berada di rumah karena dia ada kelas jan sepuluh hingga istirahat siang.
__ADS_1
" Suster, terima kasih ya karena sudah saya repotkan, setiap hari untuk menjaga putri saya, salam buat dokter Yusup ya", Ucap Yasmin pada Perawat yang membantunya selama beberahari Aya di rawat.
" Iya bu, sama sama, itu sudah menjadi tugas saya, tidak masalah, pasti! Salamnya nanti saya sampaikan", Jawab Suster.
" Daaaa.... Suster... Assalamualaikum..", Aya melambaikan tangan pada Suster Sasa yang selalu setia menjaganya.
" Waalaikum salam, cepet sehat ya, jangan balik lagi kesini, oke!", Ujar suster Sasa mencium pipi Aya.
" Oke, sus".
" Waalaikum salam", Jawab suster Sasa tersenyum melihat kepergian Yasmin dan Aya.
Hari ini Hanan benar benar meniatkan hari untuk bertandang ke rumah mantan mertuanya.
Apapun sudah siap dihadapi, tak ingin menunjukkan penyesalannya karena trlah berpisah dengan Yasmin, biarlah mau dibilang apa, semua sudah terlanjur terjadi, mau ditangisi juga toh tak bisa diulang kembali, batinnya.
" Assalamualaikum", Sapa Hanan ditangannya memvawa tentengan ada gula, teh, kopi serta camilan, berharap bisa bertemu dengan ketiga anaknya dirumah ini.
__ADS_1
" Waalaikum salam, weee... Tamu jauh, sini masuk, masuk", Sapa bu Hasanah tak seramah biasanya dulu, kali ini meskipun kata katanya terdengar renyah tetapi tidak dengan raut mukanya, asem, dingin, datar, ya iyalah wajah kecewa.
" Iya ivu, terima kasih", Hanan memasukk rumah mertuanya dengan hati yang bergejolak, sedih! Pastilah secuek dan setidak pedulinya Hanan, rumah ini memiliki kenangan yang tidak sedikit dengan Yasmin dan ketiga anak anaknya, sedih menjalar di relung hatinya, dan Hanan hanya diam dengan mata berkaca kaca menunggu sang tuan rumah yang masuk kedalam kembali keluar untuk mengajaknya berbincang.
" Weee .... Alhamdulillah Mas, kamu masih ingat dengan rumah ini", Pak Yasman keluar dengan baju koko dan sarung, sepertinya baru saja selesai beribadah.
" Assalamualaikum pak", Hanan berdiri dan menyalami bapak mertuanya penuh hormat.
" Bu, kopi hitan dua bu!, bapak mau ngobrol sama mantan mantu kita ini, jauh jauh dari rantau", Ujar pak Yasman seperti menyindir bekas menantunya.
" Iya pak".
" Bagaimana kabar mu Mas? Pulang sendiri saja atau sama keluarga baru?", Tanya pak Yasman tanpa basa basi.
" Sendiri pak", Jawab Hanan sedikit merasa malu disindir keluarga baru oleh mantan mertua.
" Mbok ya di bawa pulang anggota keluarga, bawa kesini, kenalkan sama bapa sama ibu, sudah punya momongan belum sama yang sekarang?", Tanya pak Yaan makin menjurus.
" Belum pak, tapi dianya sudah bawa dua kok sebelumnya", Jawab Hanan semakin tersindir.
" Oh, ya baguslah, tidak mengurus anak sendiri dapat ngurus anak tiri, semoga saja anak anak tirimu bakal mengurus mu kelak mas.... Biarkan cucu cucuku tak perlu kau usik, biarkan mereka mencari kebahagiaan sendiri, tanpa seorang bapakpun mereka, mbahnya ini yakin kok jika mereka bakalan bisa membanggakan ibunya kelak", Jleb, bukan disindir lagi kali ini, tapi langsung di tusuk belati dengan kata kata mantan mertuanya, sunghuh kata kata yang panas.
Pada pedes pedes yak🤭
Hanan tertunduk semakin dalam, tangannya tetkepal, giginya merapat sempurna, nafasmya sedikit turun naik, menahan emosi yang terasa naik, rasanya ingin menggebrak meja yang ada didepannya.
" Pak! Tidak seperti itu, saya tidak ada niatan untuk mengabaikan mereka, tetapi memang keadaan yang memang tidak memungkinkan", Jawab Hanan datar.
" Oh ya, syukur kalau begitu.... Bagus!!!, itu harapan seorang kakek pada cucunya mas, apa lagi kakek ini anaknya perempuan, dibuang sama susminya ditukar yang baru, cucu cucu tak dinafkahi, kecewa bapak! Dibuang begitu saja putri bapak, tak dipulangkan selayaknya, apa kesalahan Yasmin hingga kamu begitu merendahkannya?", Suara pak Yadman tercekat , menahan air mata yang sudah menggenag.
Bersambung......
__ADS_1
Kena skak pak.... gurih gurih... 🤦♂️🤦♂️😋