JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Duka Hananto


__ADS_3

Hanan masih berdiam diri di mushola itu padahal sudah lepas magrib, berniat menunggu hingga waktu isyak barulah pulang.


Meskipun mushola itu kecil dan terletak dikampung ternyata cukup penuh jika waktunya sholat. Bahkan selepas maghrib ada kajian yang membahas soal poligami.


" Poligami itu sunnah, jika istri pertama sudah bisa memenuhi syarat sebaiknya bertahan saja dengan satu istri, karena poligami itu harus memenuhi beberapa syarat, yang pertama tentunya harus adil, janganlah melakukan poligami karena ingin lebih gangsi dari teman, atau karena keinginan sesaat, kalau bisa poligami itu harus diprogam terlebih dahulu, karena poligami itu butuh semuanya ekstra, ektra tenaga, ekstra waktu, dan lebih gawat lagi yakni ekstra uang.... Tenaga sudah pasti, waktu, setiap istri istri mereka butuh waktu untuk berdiskusi, mengobrol, bercerita......", Ustadz yang mengidi kajian itu menjelaskan dan memberi gambaran tentang poligami.


Hanan tertegun setiap kali ustadz memberikan wawasan tentang poligami.


" Jika satu istri sudah mampu membuat semua kebutuhan seorang suami tercukupi ya sudah satu saja, jika pun harus menambah istri, pastikan jika istri keduamu itu sholehah, taat beribadah, *sehingga akan terjadi komunikasi dengan istri pertama dengan baik, bukan malah menjadi kompor untuk memisahkan ikatan pernikahan sebelumnya.... hati hati yang begini bisa bahaya.....", Ucapan ustadz kali ini membuat Hanan bak di timpuk tumper besar ( Arang yang apinya tengah membara ).


Hanan* tertunduk lemas, semua yang diucapkan ustadz barusan bak mrnampar wajahnya. Namun semua telah terjadi, menyesalpun tiada guna.


Hanan bertekad untuk membereskan segala urusannya dengan Yasmin, sudah terlanjur sehingga harus membebaskan Yasmin untuk melanjutkan hidupnya.


" Owh, masih ingat rumah?!", Sinis Dewi ketika Hanan tiba di rumah, Hanan pun cuma melurik Dewi sinis.


" Apa itu???", Tanya Dewi sinis melihat Hanan mengangkut koper masuk kedalam rumah.


" Baju bapak, bapak akan sering disini sesuai keinginan mama, ga usah dibuka buka", Jawab Hanan ketus, padahal dalam koper itu isinya barang barang penting Hanan.


Dewi tersenyum penuh makna mendengar Hanan akan sering berada di rumah ini.


" Bapak jadi pisah sama bunda kan? Tidak akan rujuk lagi kan?!", Tanya Dewi sedikit pelan ada rasa takut bila suaminya membentak atas pertanyaan itu.


Tak ada jawaban dari Hanan, juga tak ada lirikan apapun yang mengisyaratkan jawaban atas pertanyaan Dewi.

__ADS_1


" Masak tidak?", Tanya Hanan untuk mengalihkan pembicaraan, sevetulnya perutnya tidak ada rasa lapar tetapi benar dirinya memang belum makan kecuali tadi pagi sarapan bareng Yasmin.


Dan ingatan itu sukses membuat hati Hanan meringis perih, hatinya berdesir dan bergejolak hebat merasa ngilu.


" Sarapan terakhir mungkin, iya itu sarapan terakhir dan terakhir aku makan masakan bunda.... owh!", Hanan mengusap dadanya yang tiba tiba seperti tertusuk pisau karatan.


" Mama tidak masak, tadi anak anak beli ayam geprek, mau dibelikan nasi goreng?", Tanya Dewi.


" Buatkan kopi saja", Jawab Hanan tanpa menoleh pada Dewi.


Bergegas Dewi membuatkan kopi untuk Hanan, dengan sedikit komat komit Dewi meniup kopi sebelum disugguhkan pada Hanan suaminya.


Hanan menyeruput kopinya, nafasnya berhembus kasar. Entahlah seteguk kopi panas yang melewati tenggorokannya tak berasa apapun, masih sama rasanya, hampa, hatinya kosong, ulu hatinya seperti diremas menahan sakitnya melepas hal yang sangat berharga dalam hidupnya.


Hingga larut Hanan masih terduduk diam di sofa, tak ada pergerakan sama sekali meski Dewi sudah memanggil dan sudah beraksi sana sini seperti tak terlihat oleh Hanan.


" Jangan cerita dulu sama anak anak, biar bapak nanti yang akan menyampaikan pada mereka tentang kondisi kita", Pesan terkirim dan Yasmin membaca namun tak membalas.


" Maafkan bapak bun, terima kasih untuk waktu lima belas tahun bersama", Yasmin pun hanya memvaca tak ada niat untuk membalasnya.


Dan karena pesan itu Yasmin jadi teringat sesuatu yakni menghapus semua foto dirinya dengan Hanan yang pernah diunggah di sisial medianya.


Bahkan Foto dirinya pun tidak disasakan oleh Yasmin, namun Yasmin sudah menyimpannya melalu cetak kertas foto untuk dialbumkan, untuk disimpan sendiri.


Yasmin kemudian memasang sebuah tulisan sebagai pengganti gambar dirinya.

__ADS_1


Keikhlasan


Hati yang ikhlas itu terlihat dari tidak sukanya dipuji, disanjung atau dikagumi karena harta benda yang dimilikinya, sebab yang demikian itu ibarat tidak akan pernah bersatunya air dan minyak.


Hanan tidak tahu makna tulisan Yasmin yang tertulis sebagai pengganti profil fotonya. yang Hanan tahu Yasmin berarti sudah mengikhlasan perpisahan ini, " syukurlah", Batin Hanan.


Sementara Yasmin belum juga bisa memejamkan matanya, meskipun malam sudah semakin larut.


Meskipun sudah ikhlas dan juga memikirkan hal terburuk setelah dipoligami namun nyatanya hati Yasmin tetap sedih, menikah dan punya anak tiga tentu pernah bahagia, pernah sedih bersama. Terus sekarang harus melupakan kenangan itu tentu butuh waktu.


Air mata Yasmin kembali meleleh, di kasur itu, dibantal itu semuanya masih tertinggal aroma tubuh mantan suaminya, Bahkan Yasmin masih hafal betul kebiasaan Hanan, senyum suaminya, canda tawanya semuanya.


Rasa sakit yang diberikan Hanan memang sudah membuat hatinya terluka sedemikian, tetapi masih tertinggal juga kenangan. Orang boleh bilang lupakan, sudahlah kamu harus bahagia, ga penting orang seperti Hanan itu, manusia tak berperasaan, jahat dan apalagi... Tetapi yang hidup dan berbagi cinta dengan Yadmin hingga melahirkan tiga anak itu Hanan bukan orang lain, tidak mudah tentunya menghapus jejak kenangan itu.


Salut memang jika ada orang bisa cepet move on, karena sejatinya orang yang ikhlas itu sulit untuk move on, segala sesuatunya dilakukan dengan hati, hingga saat pergipun hati yang paling berduka.


Yasmin bukan tidak mampu move on, tetapi Yasmin hanya butuh lebih banyak waktu dibanding orang lain.


" Ya Robb.... Tolong lepaskan rasa ini, hamba sadar semuanya telah engkau haramkan maka hilangkanlah karena Hamba tidak mau hidup dengan beban yang tidak halal ini", gumam Yasmin dengan beristighfar.


Yasminpun mencoba memejamkan matanya, hatinya sudah lebih lega, kenangan itu ada karena pernah terjadi tidak mungkin hilang begitu saja tetapi life mush go on toh, biarpun sedih, biarpun kecewa, semua ada waktunya.


Saat sedih tetaplah ingat yang kuasa, begitupun saat bahagia tetap harus banyak bersyukur, saat kecewapun semua sudah dalam ketetapannya, tinggal menjalani bersama waktu yang terus berlalu, biar waktu yang menjawab dan membawa dirinya menemukan rasa selanjutnya.


Sementara itu Hanan masih terbalut rasa duka yang dalam, duka akan kehilangan keluarganya.

__ADS_1


Apa yang akan dia ceritakan pada orang tuanya nanti, jika mereka bertanya tentang keluarganya, tentang anak istrinya, Hanan tidak yakin dalam waktu waktu dekat anak anaknya mau bersama dirinya tanpa Yasmin meskipun itu menengok kakak nenek mereka.


Bersambung.....


__ADS_2