JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Masih, pemberontakan Haya


__ADS_3

Hanan pulang kerumah setelah seminggu tak menampakkan batang hidungnya, tadi malam dia pulang hampir jam delapan.


Tak ada sambitan dari ketiga anaknya, bahkan ketika mendengar motor masuk pagar rumah, Haya membuka pintu utama dengan berkacak pinggang dan wajah marah, bibir mengerucut dan pipi gembung, mata melotot.


" Oh bapak to, kirain tamu!", Ketus bocah itu yang tadinya mau langsung masuk kamar tapi diurungkan rasanya tak sabar ingin melampiaskan kekesalannya pada bapaknya.


" hayaaaa, masuk nak, nanti dilihat tetangga, malu", Yasmin berkata pelan untuk mencegah kemarahan putrinya.


" Huh.... Ingat ya pak, Haya malu punya bapak seperti mu", Gadis itu langsung melengos masuk kamar dengan tergesa.


Deg


Hanan berdesir hatinya, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, putrinya begitu tidak terima dengan perbuatannya yang menginab dirumah istri mudanya.


" Assalamualaikum", Sapa Hanan memasuki rumah, kemudian menutup pintu.


" Waalaikum salam", Jawab Yasmin.


" Kenapa itu anakmu kayak begitu, tolonglah bun kasih pengertian, ajarin untuk sopan pada orang tua", Ujarnya seraya menaruh helm serta melepas jaketnya.


" Duduk dulu pak, iya nanti bunda ajarin, maafkan bunda pak yang belum bisa menjadi ibu teladan untuk mereka", Ujar Yasmin lembut.


" Bapak jangan marahin bunda dong, Haya itu marahnya sama bapak karena bapak tidak pulang pulang, bapak jahat tahu ga, seperti bapaknya Dea teman aku, nikah lagi, suka pukulin mamanya Dea, suka marah marah padahal yang salah itu bapaknya Dea, iya kayak bapak.... awas saja kalau bapak berani pukul bunda", Haya tiba tiba keluar kamar dan berteriak berbicara dengan penuh emosi, nafasnya hingga turun naik dan terakhir dia menfacungkan yinjunya pada bapaknya.


" Sayaanggg.... Masuk kamar gih, hemmm .... ya", Yasmin menuntun putrinya masuk kamar, diapun ikut masuk dan menutup pintu kamar putrinya, sementara Hanan bengong saja masih duduk di sofa, wajah merah padam menahan emosi.


" Bunda, harusnya tadi Haya kunciin pintunya, biar bapakga bisa masuk, Haya marah sama bapak bun", Isak bocah itu.


" Jangan, ga boleh begitu... nanti bapak ga pulang beneran gimana?".


" Tapi Haya malu jika punya bapak seperti bapaknya Dea bunda".


" Kita sama sama berdoa ya, agar bapak tidak lupain Haya dan kakak".

__ADS_1


Haya mengangguk dan kemufian beranjsk mengambil tali rambutnya, diikatnya rambutnya dan menyeka air mata yang mengaliri pipinya.


" Apa bunda tidak sedih lihat bapak punya istri lagi?", Tanya Haya polos.


" Sedih lah, tapi bunda lebih sedih jika anak anak bunda jadi pemarah dan suka bicara kasar".


" Maaf bunda, besok besok Haya ga akan membuat bunda sedih lagi kok, Haya sudah puas marahin bapak".


" Janji ya, Haya harus jadi anak yang manis, tidak usah marah marah, biarkan bapak punya istri lagi tidak apa apa yang penting bapak tidak memukul bunda, seperti bapaknya Dea ya, dan kita doakan juga supaya bapaknya Dea tidak jahat lagi".


" Iya bunda ".


" Ingat Haya haraus apa?", Tanya Yasmin dengan senyum manis pada Haya.


" Haya harus lebih rajin belajar biar lebih pinter meskipun bapak tidak perhatian pada kita", Jawab bocah itu.


" Iya, itu juga benar, tetapi Haya harus tetap menghormati bapak, kalau Haya marah atau tidak suka mending Haya diam, atau menghindar agar tidak bertemu bapak dulu, oke!!!".


" Iya bunda".


" Bapak mau minum atau makan?", Tanya Yasmin saat keluar kamar mendapati Hanan masih duduk bersandar di sofa.


" Iya, bapak belum makan", Jawab Hanan dengan menyandarkan pada sandaran sofa dan mata terpejam.


Yasmin pun menyiapkan makan malam untuk suaminya, Hanan lelaki yang seminggu ini tidak ia urus keperluannya karena berada di rumah istri mudanya.


" Mau di bawa kesitu atau disini saja?", Tanya Yasmin setelah siap.


" Dimeja makan saja", Hananpun beranjak meski tadi sebetulnya sudah terpejam karena kantuk yang tak tertahan.


Hanan duduk di kursi, Yasmin menemani dengan meminum air lemon hangat.


" Tadi ambil raport anak anak? Bagaimana hasilnya?", Tanya Hanan seraya mengambil nasi.

__ADS_1


.


Yasmin menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan sang suami, berfikir jawaban apa yang sekiranya tidak akan membuat ribut.


" Secara nilai turun semua, namun Haya masih betahan di ranking satu namun Husain bukan hanya nilai dan ranking yang turun anak itu sepertinya sekarang punya pergaulan yang beda, itu yang lebih membuat bunda sedih sepanjang hari ini".


Hanan tercekat nasi yang baru saja akan mengisi mulutnya yang tdlah terbuka urung, dan masih berhenti ditangan didepan mulutnya.


" Kok bisa? Karena bunda sibuk bekerja jadi anak anak prestasinya turun, makanya bapak juga bilang apa? Mending di rumah saja!".


" Pakkk..... Anak anak makin besar, biayanya juga sudah beda, di rumah ini tidak cuma butuh makan tapi juga kami butuh sandang, dan kebutuhan lainnya, lihat saja bahkan Hasan yang seharusnya sudah memakai ponsel atau laptop untuk menunjang pembelajarannya masih numpang sama bunda, ponsel satu buat gantian kita berempat, Bunda kerja bukan cari kesenangan bunda pak, tapi keadaan, keadaan yang memaksa, bapak kira bunda nyaman melihat anak anak kita jadi kurang perhatian".


" Oke, tapi tolong tetap perhatian pada anak anak tetap nomer satu".


" Dan bunda juga minta tolong, tetap perhatikan psikologis anak anak pak, bisa jadi mereka begini karena bentuk protes ketidak setujuan mereka bapaknya menikah lagi, siapa tahu hal itu berpengaruh pada perilaku mereka sekarang".


" Jangan ngarang kamu! Kalau tidak becus mendidik anak jangan sangkut pautkan dengan bapak!", Ujar Hanan ketus.


" Oh, jadi jika anak anak menjadi pemberontak itu karena salah bunda, karena bunda kerja?", Yasminpun bicara tak kalah ketus, hatinya yang sedih seharian malah mendapati suaminya pulang pulang cuma minta makan plus bonus omelan, menyalahkan, enak benar.


" Ya karena mereka di rumah ini lebih banyak sama bunda", Jawab Hanan.


Hanan menghela nafas dalam, matanya menyorot tajam kearah Yasmin.


" Masukin saja di bimbelnya bunda, biar bisa fokus belajar dan bunda sekalian mengawasi mereka", Ucap Hanan begitu mudah, seakan bimbel tiap hari, dengan apa mau bayarnya? jika tiap hari tekor dong gaji Yasmin.


" Iya, nanti bunda minta sama pak Taslim untuk menampung anak anak", Tak mau berdebat Yasminpun menjawab sekenanya.


Yasmin membereskan bekas makan Hanan, kemudian bersih bersih kekamar mandi dan menuju kamar untuk tidur, Hananpun demikian.


" Bun, maafin bapak jika bapak belum bisa membagi waktu dengan adil, kemarin Dewi sakit jadi bapak ngurusin dia dulu", Ujar Janan ketika mereka sudah berada ditempat tidur.


" Hem", Jawab Yasmin dengan memejamkan mata.

__ADS_1


Hanan mendekap Yasmin dan tangannya menelusuk, namun Yasmin hanya diam tak memberikan respon, hatinya masih belum bisa menerima pengkhianatan Hanan, meski dibolehkan oleh agama nyatanya tidak mudah menerimanya, sakit.


Bersambung ....


__ADS_2