JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Kedatangan orang tua Hanan


__ADS_3

Hampir 3 minggu setelah melakukan panggilan telepon dengan kedua orang tuanya barulah hari ini kedua orang tua Hanan datang untuk menjenguk.


Di sana nampak Dewi menyambutnya meskipun ada rasa sedikit khawatir dan deg-degan karena dulu orang tua Hanan tidak merestui pernikahan mereka.


Begitu mereka bertemu Ibu Hanan tidak langsung menyapa Dewi Pak Harun pun begitu Mereka sibuk langsung menyapa Hanan menanyakan kondisi Hanan dan memperhatikan keadaan Hanan saat ini.


Saat ini Hanan sudah mulai bisa berjalan meskipun masih memakai alat bantu butuh waktu lama untuk penyembuhan padahal Hanan dioperasi namun ternyata penyembuhannya tak secepat perkiraan dokter.


" Assalamualaikum", sapa kedua orang tua Hanan saat sampai di rumah Dewi, ya ini Hanan dan Dewi menempati rumah itu kembali setelah kemarin bermasalah karena rumah itu digadai kan kembali oleh Dewi dan terpaksa Dewi harus harus melunasi beberapa tunggakan cicilan hutang nya meskipun itu belum lunas sampai sekarang.


" waalaikumsalam", jawaban mencoba berdiri dengan tertatih menyambut kedua orangtuanya dengan tangan yang direntangkan untuk memeluk penuh kerinduan.


" Apa kabar Pak Bu Terima kasih sudah mau datang ke sini untuk menjenguku", ucap tahanan dengan suara bergetar menahan tangis.


" Ya Allah Mas, ini sudah hampir 1 tahun tapi kamu masih seperti ini terus dulu seperti apa kondisi kamu Mas", ujar Bu Ainun dengan isakan tangis pilu.


" Terus kamu belum bisa dinas lagi Nan, kondisi kamu seperti ini?", tanya Pak Harun.


" Sudah Pak saya sudah kembali lagi mengajar hanya saja saya sekarang tidak mengajar mata pelajaran olahraga saya untuk sementara ini mengajar mata pelajaran lain", jawab Hanan.


" Oh ya syukur kalau begitu!", Ucap pak Harun.


" Silakan duduk pak bu", Hanan mempersilahkan kedua orang tuanya untuk duduk di sofa ruang tamu nya.


Setelah kedua orang tua Hanan mereka saling melepas rindu dengan bersalaman dan berpelukan serta sedikit bercerita kemudian Dewi kini giliran nya untuk menyambut kedua orang tuanya itu. Dewi menyalami ibu dan bapaknya Harun dengan sedikit tertunduk.

__ADS_1


" ini istri baru mu Nan?", ucap pak Harun.


" i Iya Pak Pak itu Dewi istri saya", jawaban Hanan sedikit bata.


Bu Ainun pun kemudian menatap Dewi penuh selidik memperhatikan dengan detail entah apa yang ada dipikirannya saat memperhatikan Dewi yang jelas Bu Ainun hanya diam tanpa sepatah kata pun.


" mau minum apa Pak Bu?", tanya Dewi sopan.


" Bikinkan Bapak kopi gulanya sedikit, kalau ibu cukup teh panas tanpa gula", ujar Bu Ainun.


" ya Ibu baiklah", jawab Dewi dan segera beranjak menuju ke dapur untuk menyiapkan pesanan kedua mertuanya.


" Nemu di mana kamu istrimu itu?", tanya Bu Ainun sinis penuh selidik.


Hanan sedikit terperangah dengan pertanyaan ibunya yang langsung, " anu Bu!, hemm .... Saya kenal dia di sekolah, setiap hari dia mengantarkan anak anaknya yang merupakan murid Hanan waktu itu Bu", jawaban Hanan jujur pada ibunya.


Deg


Deg, hati Dewi sedikit tersentil dengan ucapan Ibu mertuanya yang baru saja dia kenal dia pun penasaran dengan jawaban Hanan.


" ya mak mak yang lain punya suami, waktu itu dia kan janda Bu masih muda cantik wajarlah kalau Hanan tertarik sama dia cuma yang salah dan lupa Hanan tidak pernah ingat dengan Yasmin! saat Hanan tertarik padanya itu sebuah penyesalan Hanan Bu!", Hanan menahan tangisnya dadanya terasa sesak, pertanyaan ibunya barusan mengingatkannya pada mantan istrinya.


Deg


dada Dewi kembali bergemuruh mendengar jawaban dari Hana dan teringat masa-masa manis di awal mereka kenal dan kemudian cerita selanjutnya dalam hidupnya adalah kepedihan seakan jika waktu bisa diulang dia akan kembali kemasa saat baru mengenal Hanan dan tidak akan pernah jatuh cinta kepada guru anaknya tersebut.

__ADS_1


" Otakmu aja yang nyeleneh yang namanya laki-laki melihat wanita cantik itu biasa penasaran mencuri-curi pandang tapi tidak ada niatan untuk berbuat selingkuh otakmu aja yang sudah gesrek Nan!!!", ujar Pak Harun sedikit bernada emosi.


" Iya Ibu kok juga mikir gitu Pak wong Yasmin itu istri yang baik istri solehah Kamu aja yang nggak pandai bersyukur itu hukuman buat suami seperti kamu", ucap Bu Ainun Ketus dengan menunjuk ke arah kaki Hanan yang cidera.


" Iya Bu Hanan juga menyadari demikian, dibandingkan dengan sakit hati Yasmin luka ini nggak seberapa bu, bukan hanya Yasmin tapi ketiga anakku, Aku selama ini tidak pernah menafkahinyabu Bahkan dia sekarang berada di mana pun saya tidak tahu suara Hanan parau, serak dengan butiran air mata yang menetes dari kedua bola matanya.


Pak Harun langsung melotot tajam jiwanya meradang hatinya kecewa rasanya perih mendengar perkataan Hanan barusan.


" kamu tidak perlu tahu dimana anak-anak kamu dan mantan istri kamu, kamu tidak pantas disebut sebagai ayah buat mereka! ibu jangan di beritahu di mana sekarang Yasmin dan anak-anaknya biarkan dia mencari sendiri menemukan sendiri!", ucap tegas Pak Harun penuh kemarahan.


Bu Ainun pun mengangguk menyetujui ucapan suaminya dia pun tidak kalah marah dan kecewa dengan Hanan.


" jangan kamu lupakan Hanan! kamu itu terlahir dari rahim ibu 9 bulan kamu dalam kandungan ibu, ibu merawatmu melahirkanmu dengan susah payah kami berdua mencarikan uang untuk menyekolahkan kamu dengan peras keringat di sawah di kebun bahkan Bapak berusaha, berdoa, mencarikan kamu jodoh yang terbaik ternyata apa? seperti ini perlakuan kamu!, kamu lupa!!!, lihat-lihat kami berdua kami sudah tua Nan kemana tujuan hidup kami? tidak lain tidak bukan hanya ke liang lahat! saat kami di sana yang kami butuhkan Hanya doa dari kalian anak-anak kami, kamu sadar kamu pun akan berada di fase seperti kami dan siapa yang akan mendoakan kamu? kamu telah melalaikan kewajiban mu, kamu tidak butuh anak-anakmu kah? apa yang kamu cari Nan kamu kerja, kamu merantau terus untuk apa jika bukan untuk anak-anak kamu apa yang kamu dapat???", Ibu Ainun berbicara panjang lebar penuh penekanan penuh kekecewaan kemarahan bahkan terlihat kesedihan yang dalam di raut wajah wanita paruh baya itu.


" Maaf!!!", Satu kata itu yang keluar dari mulut tahanan dengan wajah tertunduk dalam, Dewi yang di dapur pun mendengarkan pembicaraan mereka dengan mengaduk-ngaduk kopi secara pelan pelan pelan takut untuk menyuguhkan kopi tersebut kepada kedua mertuanya.


" Ya sudah bu, sudah", Ucap pak Harun bijak.


Dewi akhirnya membawa kopi dan teh panas pesanan mertuanya untuk disuguhkan dengan wajah tertunduk ada rasa takut ada rasa bersalah di dalam hati Dewi.


" Silakan diminum Pak Bu", ucap Dewi.


" Saya bawa masuk tas ibu ke dalam kamar Ya silakan kalau bapak ibu jika mau istirahat di dalam kamar sini", ucap Dewi seraya membawa koper kedua orang tua Hanan memasuki kamar yang dulu ditempatin oleh anaknya.


" Iya!", jawab Ainun singkat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2