
" Bapaaakkk..... kemana dulu? Kok belum pulang!!! Mama mau berangkat arisan, udah telat nih! Mana uangnya? Dua ratus ribu doang pak!", Dewi menelpon Hanan dengan nada kesal.
" Bapak kena musibah, ada anak yang cidera dan bapak harus membawa berobat, pakai uang mu dulu ma", Ujar Hanan dari sebrang telpon dengan nada datar, pasalnya kepala sedang berdenyut kok malah dapat telpon merengek manja minta uang, bikin tambah penat saja.
" Uang mama lagi?!, Lama lama modal mama habis lah pak!", Kesal Dewi.
" Ya, mau gimana ma!, bapak lagi ada musibah, lagian ini juga bapak belum bisa bayar, uangnya pinjam dulu, Udah pakai uang mama dulu, nanti bapak gantiin jika bapak ada uang", Hanan pun kemudian menutup telponnya, tanpa menunggu jawaban dari Dewi, mendengar suara Dewi yang minta uang bikin tambah pusing.
Dewi menghentakkan kakinya dengan keras, sudah nungguin dari tadi begitu telpon diangkat, suaminya tetap ga bisa ngasih uang, bikin jengkel saja.
" Zidan, Zea... mama pergi dulu ya, bilang sama bapak jika pulang nanti, mama pulang malam", Ujar Dewi pamit kepada kedua anaknya.
" Iya ma, kok mama dandan cantik benar? Kalau bapak tahu, bapak marah lo ma!!", Bocah kecil itu hafal betul jika mamanya memakai baju ketat nan seksi pasti Hanan marah, apalagi saat ini Dewi memakai kaos you can see dibungkus jaket jeans dan memakai celaja jeans ketat serta kerudung dengan cepolan rambut tinggi.
" Ma.... jika di buka jaket mama... mama seperti ulet keket ma... hahahaaaa.... ", Ledek Zidan dan kedua anak Dewi itu terbahak keras, membuat Dewi makin kesal dibuatnya.
" Ma... Ganti lah baju mama... tak pantas lah itu ma... benar kata kakak, mama kayak uler keket... ada garis garis dipinggang mama yang melingkar", Zeapun protes.
" Nanti aku bilangin ke bapak lho ma!", Ancam Zidan.
" Kalian ini kompak sekali menghina mama... dibilang mama kayak uler keket", Dewi memberengut pada kedua anaknya.
" Ganti lah ma bajunya, jangan yang warna kuning terang begitu, yang gelap jadi tidak terlalu kentara", Zidanpun memberikan usul, karena sungguh risih melihat mamanya berpakaian begitu.
Zidan sering melihat bapak tirinya protes tentang baju Dewi, jadilah dia paham maksud bapaknya itu.
" Iya mama ganti, tapi jangan bilang bapak ya, jika bunda makai baju seksi!", Ancam Dewi pada anaknya.
" Ga bilang juga entar mama pulang bapak juga tahu dengan baju mama", jawab Zidan.
" iya", Zea menimpali.
" Yeee... mama bawa gantilah nanti pulang mama pakai baju gamis", Dewi tersenyum kemudian bersiap untuk berangkat.
" Hati hati kalian di rumah".
" Iya ma!", Jawab Zidan dan Zea kompak.
Kedua bicah itu melihat mamanya pergi hingga hilang dibelokan gang.
" Bunda, hari ini tidak ngajar les?", Tanya Hasan.
" Sudah tadi saat kakak sekolah, sekarang bunda mau fokus dengan kakak dua jam full untuk mata pelajaran besok pagi", Jawab Yasmin tegas, dan bersiap untuk memberikan materi untuk Hasan.
__ADS_1
" Asyiikk", Hasan memang sangat menyukai cara bundanya menyampaikan materi pelajaran, jelas, tegas, tidak berbelit belit, sederhana mudah dimengerti.
" Fokus kakak, kita mulai, berdoa dulu", Yasmin pun sudah tahu mata pelajaran besok untuk Hasan.
Hasan pun dengan serius mengerjakan soal soal dari bundanya dan bertanya jika ada yang belum dimengerti dengan fokus dan perhatian serius.
" Selesai ini bunda kembali ketempat les ya", Pamit Yasmin pada anak anaknya.
" Iya bun", Jawab mereka serempak.
" Nanti malam kalian mau makan sama apa? Bunda bawain sekalian pulang ngajar".
" Sate bun, boleh?!", Tanya Haya.
" Boleh, sate ya... ".
Yasmin bersyukur, walaupun harus pontang panting mencari makan untuk mereka berempat, tetapi bukan beban bagi Yasmin. Yasmin ikhlas menjalani pekerjaan ini, apalagi pendapatannya lumayan, kadang bisa sampai delapan juta dari les private ditambah gaji di tempatnya mengajar.
Setiap rejeki yang diterima memang harus disyukuri, delapan juta itu tidak banyak untuk mereka berempat, tetapi juga bukan sedikit, nyatanya Yasmin bisa menabung dan bisa mencukupi kebutuhan anaknya, mulai dari makan yang jauh lebih baik dibanding dulu saat masih menjadi istri Hanan, juga anak anaknya bisa jajan tidak seperti dulu, tetapi Yasmin tidak membebaskan, mereka hanya boleh jajan di hari sabtu minggu saja selebihnya hanya makan bareng bareng di rumah meskipun itu kadang hasil beli bukan masak sendiri.
Yasmin mengajarkan putra putrinya untuk berhemat dan rajin menabung dari uang jajan yang diberikannya setiap hari.
Bahkan ketiga anaknya itu rajin mengisi kotak amal yang diberikan Yasmin untuk diisi setiap hari selesai sholat subuh. Dan biasanya Yasmin akan menyetorkannya ke masjid di hari jum'at.
Disela kesibukannya Yasmin masih menyempatkan memasak di hari jum'at pula, membuat menu sarapan ala kadarnya meski itu hanya satu magic com nasi, Yasmin membungkusnya sederhana dengan orek tempe, telor dadar, sambal, ketimun, bakmi, dibungkus dibagikan saat masih pagi pagi sekali untuk sarapan pemulung yang kebetulan lewat depan rumahnya atau jika sedang longgar waktunya dia berkeliling sebentar keluar komplek untuk berbagi ke tukang becak dan yang lainnya.
__ADS_1
" Bun, satu periuk magic com jadi berapa bungkus?", Haya mencoba membantu dan bertanya.
" Tidak banyak, paling delapan sampai sepuluh terus sisanya dipakai sarapan kita", Jawab Yasmin dengan tersenyum.
" Kerupuk jangan lupa ya", Imbuh Yasmin lagi mengingatkan Aya yang membantu memasukkanya kedalam keresek kecil.
" Siap bun".
" Aya suka bakmi masakan bunda, enak, tempe oreknya juga... suka semuanya", Aya memang suka dengan menu menu sederhana Yasmin yang untuk dibagikan di hari jumat pagi.
" Halah, Adik mana ada yang ga suka masakan bunda", Husain menimpali adiknya.
" Iya, semua di rumah ini pun suka masakan bunda", Kawab Aya.
" Bapak pasti menyesal udah tidak bisa makan masakan bunda", Husain pun langsung teringat akan bapaknya yang dulu suka memuji masakan Yasmin.
" Kakak ... Bapak sudah tidak ingin lagi masakan bunda... istri baru bapak mungkin saja masakannya lebih enak, lihat saja badannya saja montok hahaaa", Aya bercerokos sekenanya.
Yasmin melirik Aya dan sedikit melotot, " Tidak boleh begitu, betul masakan mama Dewi lebih oke... tapi tidak ada hubungannya dengan badannya yang montok dik, memang mama Dewi bawaannya begitu, ga boleh bilang gitu lagi, nanti bapak marah lho, ga terima", Yasmin melarang Haya menertawakan ibu tirinya, bagaimanapun anak anaknya harus hormat pada Dewi, pikir Yasmin.
" Hahaaa... iya bun, ini disini aja kok, kalau ada bapak males banget bahas dia", Jawab Aya.
" Emang iya kok bun... yang dibilang Aya itu benar... tapi yang Husain heran kenapa bapak yang jadi kurus?!", Husain menimpali.
" Bapak diet kak, jangan suudzon, pamali!", Ujar Yasmin mengusap punggung Husain.
__ADS_1
Bersambung....