
Hari ini adalah putusan sidang cerai, resmi sudah Hanan dan Yasmin dar hubungan suami istri.
Semalam Yadmin sedikit bersedih, bukan karena menangisi Hanan, bukan juga menyesali namun lebih karena merasa gagal, merasa tidak bisa berjuang untuk andk anaknya.
Dikhianati terus kemudian dibuang oleh Hanan sudah bisa Yasmin mendamaikan hatinya. Namun jika mengenai anak anak rasanya sulit dan lebih sakit, tapi Yasmin hanya perempuan, berusaha untuk bertahan sudah, hingga akhirnya ditalak, takdirnya begini.
" Assalamualaikum", Sorenya Hanan membuat janji dengan Yasmin jika akan menemui anak anak, apalagi sejak dia mentalak Yasmin belum sekalipun Hanan menjenguk.
" Waalaikum salam.... Bapaakkk", Aya langsung merengkuh dalam pelukan bapakbya yang sangat dirindukan.
" Anak bapak, kangen ya?", Hanan tersenyum senang melihat Aya begitu manja padanya.
" iya, bapak jarang kesini sekarang", Protes Aya.
" Mana kakak?", Tanya Hanan mengusap rambut Aya, rasa kangen juga menelusup dihatinya.
" Ada, bunda juga ada, sedang dikamar", Jawab Aya seraya melepas dekapannya pada bapaknya kemudian beranjak bermaksud untuk memanggil bundanya.
" Bundaaaa .... bun, ada bapak bun....", Panggilnya dari luar pintu kamar.
Aya membuka pintu dan mendapati Yasmin tengah mengaji.
" Ada bapak bun", Sekali lagi Aya memberi tahu.
" Bikinin minum, dan tanya sudah makan atau belum? Jika belum belikan di warung nasi bu Mardi, tanya mau sama apa? Ini uangnya!", Yasmin beranjak dan membuka dompet untuk mengambil uang dan diberikan pada Aya.
" Bunda ga nemuin bapak?", Raut muka Aya sedih.
" Oh iya,. bilang pada bapak, bentar bunda sedang sholat, nanti bunda temui bapak, udah sana tanya bapak mau minum apa terus buatkan", Yasmin krmbali duduk untuk mengaji dan Aya keluar dari kamar bundanya tidak lupa menutup pintu kembali.
" Bapak mau minum apa, Aya buatin pak soalnya bunda sedang ngaji dan sekalian sholat", Jawab Aya.
" Idiihh .... anak bapak sudah pinter sekarang, boleh buatkan teh saja gulanya sedikitnya, satu sendok teh", Hanan senang melihat putrinya hendak membuatkan minum, meski awalnya berharap yang menyambut dan membuatkan minum adalah Yasmin.
__ADS_1
" Bapak!", Sapa Hasan Husain keluar dari kamar.
" Apa kabar kalian?", Tanya Hanan memeluk putranya satu persatu.
" Kami baik pak", Jawab mereka.
" Seminggu lagi Kak Hasan ujian ya? dan Husain dua minggu lagi, semoga kalian mendapat nilai yang memuaskan ya", Hanan.
" Iya pak, Aamiin", Jawab mereka serentak.
" Ini pak minumnya, bapak sudah makan belum?", Tanya Aya seraya menaruh cangkir teh dihadapan bapaknya.
" Belum", Jawab Hanan jujur.
" Bapak mau makan sama apa?", Tanya Aya.
" Apa aja nak", Jawab Hanan pasrah.
" Bunda, bapak sukanya makan sama apa kalau beli di bu Mardi?", Tanya Aya pelan pada bundanya lagi.
" Jadi Aya belinya apa bun?".
" Nasi rames sam ikan nila goreng kalau ada acar minta kasih acar gitu aja", Jawab Yasmin pelan.
Ayapun bergegas dengan menaiki sepeda pergi membeli nasi untuk sang bapak, sementara Hanan asyik bercengkerama denga Hasan dan Husain.
Tak lama Ayapun datang dan menyiapkan makanan beralaskan piring langsung di buka dengan bungkusnya.
" Ini pak", Aya memberikan sebungkus nasi diatas piring lengkap dengan sendoknya.
Kening Hanan berkerut, kok Nasi bungkus? Dalam benaknya bertanya, berharap dapat makan apa saja yang penting itu masakan Yasmin tetapi jangankan masakannya orangnya pun belum nongol untuk mrnemuinya.
" Bunda ga masak?", Tanya Hanan.
__ADS_1
" Masak soto", Jawab Husain.
" Bapak makan masakan bunda saja kalau gitu, ini buat kalian", Hanan menyodorkan kembali nasi bungkusnya pada Aya.
" Sotonya sudah habis pak", Jawab Aya mengembalikan nasi itu pada Hanan.
Tadinya Hanan sudah bersorak akan makan masakan Yasmin, lidahnya sangat merindukan masakan sang istri yang tidak bisa dibandingkan dengan rumah makan mana saja tetapi harapannya sirna.
" Ya sudah bapak makan dulu, mana to bunda kok ga keluar keluar?", Hanan berharap mantan istrinya segera menemuinya, sejak dia menjatuhkan talak sama sekali belum pernah sekalipun dia bertemu karena Yasmin tidak pernah hadir di persidangan.
Bahkan pernah Hanan merasa rindu yang teramat sangat hinga mencari cari gambar Yasmin di ponselnya tetapi tidak ada foto yang clouse up, adanya yang banyakan dan itupun diambil dari jarak yang jauh.
Dan akhirnya menjelajah di sosial media Yasmin tetapi ternyata Yasmin sudah menghapus semua Foto tentang dirinya tentang Yasmin tentang semua yang berhubungan dengan dirinya, bahkan profilnya juga cuma sebuah tulisan.
Hanan mengingat saat itu dirinya memangis, meratapi penyesalannya, Yasmin benar benar langsung tak ingin mengingat tentangnya lagi, Hanan juga ingat saat dia mentalak, Yasmin langsung balik badan, dan bahkan langsung memakai khimar.
" Pak, assalamualaikum", Yasmin keluar kamar dan menyapa Hanan tetapi dia memakai masker yang lebar bahkan ciputnya pun dia tirunkan hingga diatas alis, Yadmin hanya terlihat matanya saja, dan itupun tidak menatap Hanan secara lurus.
" Waalaikum salam bun, apa kabar bun?", Hanan gugup, senang sekaligus sedih wajah istrinya tertutup hanya matanya saja dan itupun tak mau menatapnya lurus.
" Baik, sehat pak?", Jawab Yasmin datar.
" Bapak sehat bun!", Jawab Hanan canggung.
Hanan melipat bekas bungkus nasi dan menaruhnya diatas meja.
" Anak anak bapak sama ibu mau bercerita sama kalian, mohon kiranya kalian bisa meluangkan waktu duduk bersama kita disini", Ucap Hanan, Yasmin memperhatikan tubuh Hanan yang tampak jauh lebih kurus dari terakhir bertemu.
" Baik pak", Jawab anak anak bersamaan.
" Sebelumnya bapak mohon maaf pada kalian semua, Hasan, Husain dan Haya putri bapak, Ketahuilah oleh kalian bapak sama ibu memutuskan untuk berpisah, karena bapak tidak bisa adil, bapak hanya membuat bunda kalian selalu sedih, maafkan bapak... tetapi kalian adalah anak anak bapak, setiap saat kalian membutuhkan bapak, bapak akan selalu ada untuk kalian.... hubungi bapak jika kalian merindukan bapak atau butuh apapun, bapak bagi kalian adalah masih sama... bapak sayang kalian... ", Hanan terisak menahan tangis hingga bahunya bergetar.
Ketiga bocah itupun terkejut dengan ucapan bapaknya, bahkan Hasan hanya diam dan tak bereaksi apa apa berbeda dengan Haya bocah itu ikut menangis dan merangkul bapaknya sementara Husain mendekap bundanya dan terisak lirih tanpa suara didada Yasmin dengan lirih, dan Yasminpun ikut merangkul pundak Hasan.
__ADS_1
" Bapak jahat.... bapak jahattt.... yang anak bapak itu siapa sih? Aya sama kakak H, atau mereka.... terus yang istri bapak itu siapa? Ibu galak itu atau bunda? Kenapa bapak memilih ibu itu, ibu itu orangnya suka marah marah dengan suara jelek pak, kasar! Udah gitu dandannya kaya bu Enok ( tetangga mereka yang depresi dan suka dandan dengan lipstik menor, bedak tebal dan rambut dikucir tinggi), Bapak kok sukanya sama yang begituan sih... ", Aya protes tidak terima, semrntara Hasan menatap tajam pada bapaknya tanpa suara, tapi tatapan itu seperti belati yang menghujam jantung Hanan.
Bersambung......