JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )

JANDA KARENA JANDA ( PENYESALAN )
Semua dengan urusan masing2


__ADS_3

Yasmin pagi ini sangat sibuk karena libur kemarin putranya Hasan berada di rumah dan pagi ini harus menyiapkan perbrkalan Hasan untuk satu bulan kedepan.


Sarapan bersama dimeja makan pagi terasa semarak dengan mereka berempat berkumpul bersama.


" Kak, bunda di sini ketemu dengan teman lama lho, dokter!", Ucap Husain.


" Wah, laki perempuan dik?", Hasan menanggapi cerota adiknya sementara Yasmin hanya melirik kedua putranya itu.


" Cowok, pak dokter!", Jawab Aya.


" Kok bunda ternan sama cowok sih bun... jangan dong, entar bunda jadi pebinor!", Ucap Hasan yang khawatir, Yasmin hanya tersenyum.


" Enak saja, orang teman bunda tidak punya istri", Jawab Aya tak terima.


" Kalian ini pada berdebat apa sih, ini ya dengarkan sama anak anak bunda... bunda hanya berkawan dengan siapa saja, tetapi tidak ada satupun yang spesial bagi bunda, bunda mau fokus mengurus kalian dulu", Jawab Yasmin agar anak anaknya tidak khawatir.


" Tuh kan, bunda itu sayang kita", Aya mangut sama kakak kakaknya.


Yasmin hanya mengacak rambut Aya gemas.


l


" Ayo, cepatlah sedikit kalian berkemas, sudah siang nanti terlambat, kak Hasan bunda pesanin taxi on line ya, hati hati ya kak, belajar yang rajin", Yasmin memeluk erat putranya, selalu begini rasa hatinya jika hendak melepas kembali ke sekolah, berat tapi harus rela.


" Kakak berjuang untuk masa depan kakak, bunda akan berusaha sekuat tenaga untuk kalian bertiga, semoga bunda selalu sehat ya", Air mata Yasminpun merembus di sudut matanya.


" Iya bun, Hai adik adik jaga bunda ya... kakak berangkat, Assalamualaikum", Hasanpun mencium punggung tangan Yasmin.


" Ibu dan adik adik pasti selalu merindukan kakak, jangan lupa selalu berdoa ya, jaga sholatnya", Yadmin mengusap punggung. Hasan serana mengantar sampai ditaxi.


" Assalamualaikum kakak", Hasan dan Aya melambaikan tangannya begitupun Hasan.


" Udah yuk kalian bersiap", Kini Yasmin dan kedua anaknya juga bersiap berangkat kesekolah, Husain naik sepeda sedang Aya dibonceng Yasmin.



Dewi yang sudah rajin olah raga dan diet kini sudah terlihat lebih fresh dari biasanya.



Karena Hanan jarang berada di rumah, Dewipun suka mencari hiburan tipis tipis, yakni sesekali karaoke lagi dan kumpul kumpul bareng temannya, reunian walaupun tidak lama lama takut ketahuan Hanan dan rumahnya akan berantakan.



Sementara Hanan sibuk menikmati traktiran bu Rosa yang baik hati, sering memberi dan membekali dengan jajanan dan makan siang, serta menjadi teman curhatan.



Seperi siang ini Dewi kembali kumpul dengan trmannya dan Hanan ngajarin les renang, tentu bu Rosa selalu hadir, jika anak orang les seminggu sekali anak bu Rosa setiap hari kalau bisa tetapi hanya senin sampai jum'at, dan itu sudah berjalan tiga bulan, anaknya bukan hanya pintar lagi berenang, bahkan sudah bisa berbagai gaya.

__ADS_1



" Ma, bosen lah tiap hari les renang terus, ini kulit adik jadi gelap banget ma, ganti dong les yang lain!", Protes anak bu Rosa.



" Adik mau les apa lagi dong?", Tanya bu Rosa.



" Yang lain lah ma, nyanyi atau main piano adik juga mau", Protesnya.



Hanan yang mendengar permintaan anak bu Rosa sedikit berfikir jika tak ada bu Rosa bisa ilang dong teman curhat dan traktiran makan siang, batin Hanan.



Tak habis cara Hanan pun minta nomer ponsel bu Rosa untuk jaga jaga jika sudah tidak les renang lagi tetapi masih bisa saling berkirim kabar.



Sementara di trmpat lain.



" Kemana saja kamu bu, sekarang tidak bisa dihubungi lagi?", Tanya seorang lrlaki parih baya pada Dewi.



Dewi yang disana, asyik dengan kawan kawan lagi, hingga betemulah dengan mang Usep alias dukun Sableng kembali.



" Ya itu kan menurut mu, menurut Mang belum, kamu masih di ganggu sama seseorang yang menginginkan suami mu", Mendengar ucapan mang Usep yang menyangkut suami Dewi pun terdiam, pasalnya memang suaminya jarang berada di rumah kan? Padahal itu ucapan dukun ngasal saja, biasa cari mangsa.



" Memang mang tahu apa?", Akhirnya Feeipun terpancing.



" Banyak, bayar dulu seperti biasa!", Ujarnya lirih dengan menempel didekat telinga Dewi.



Iya, biasanya Dewi itu setiao minggu tepatnya malam selasa, harus bayar mang Usep lima ratus ribu, namun kadang Dewi hanya bayar dua ratus jika tak ada uang, nah jika bayarannya kurang makan..... yang menjadi bayarannya, dan itu sering mereka lakukan dulu.


__ADS_1


" Aku tidak tertarik mang, sekarang ga punya uang, suamiku sudah jarang sekali memberiku uang lebih", Jawab Dewi lesu.



" Nah kan! Jatahnya sudah mulai dikurangi kan, padahal katanya sibuk kerja, kok malah duitnya berkurang?!", Kata mang Usep memanasi Dewi.



Dewi hanya terdiam mencerna ucapan mang Usep, hatinya sempat memanas tetapi dia kembali ingat jika mereka masih punya hutang yang lumayan banyak pada saudara Dewi.



" Jangan manas manasin aku mang, suamiku memang kerja keras untuk bayar hutang bekas bayar operasi anakku yang patah kaki", Jawab Dewi berusaha tenang.



" Yakin?!".



" Sudah lah mang, lagian Dewi sedang tidak ingin!", Jawab Dewi pada akhirnya sedikit emosi.



Namun pertemuan itu belum usai, madih akan ada pertemuan Dewi dan mang Usep serta Hanan dan bu Ratna.



Dokter Yusuf terdiam di ruang kerjanya, rasanya tidak percaya jika Sabrina pergi begitu saja, pindah kerja keluar kota.


Pasalnya dua bulan ini Sabrina cukup mengganggunya, mengapelinya di ruang kerja setiap jam istirahat, mintar diantar pulang, pingin mampir ke rumahnya dulu, dan lain lain yang sering dokter Yusuf tolak, bukan apa apa dia masih ingat betul saat delapan tahun lalu ia menikah dengan ibunya Halwa, usianya terpaut jauh, dan itu merrpotkan menurut dokter Yusuf.


Dia tidak suka wanita yang menyek menyek, sukanya wanita yang kuat serta dewasa, tetapi dulu dipaksa sama neneknya untuk segera menikah dan carikan jodoh oleh neneknya dapatlah gadis muda belia baru sembilan belas tahun, masih suka main dengan teman temannya, susah diatur, suka ngambek jika diingatkan sesuatu, hingga membuat dokter Yusuf harus ekstra sabar saat itu.


Dan sifat itu dilihat ada di Sabrina, meskipun usia Sabrina saat ini sudah dua puluh enam, tetapi dimata dokter Yusuf masih kekanakan, contohnya dua bulan ini, sangat merepotkan.


Halwa pun tidak menyukainya, tetapi hendak lepas dari Sabrina dokter Yusuf ada rasa tidak tega, dan saat ini sedang cari cara untuk lepas.


Dan sebuah kejutan akhirnya Sabrina memilih pergi darinya, entah apa alasannya tetapi dokter Yusuf sangat merasa bersyukur sekali doa doanya terjawab secepat ini, paling tidak dia tidak menyakiti gadis itu, dan Halwapun tidak harus membenci seseorang dalam hidupnya.


Bersambung......


-


-


-


Sory gais... sedikit telat.... haduhhh emak otor sibuk hari jumat ini...

__ADS_1


Sabar part selanjutnya menyusul entar malam๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2